Media Massa Daring dan Jurnalisme Naratif




“Jurnalisme yang baik itu dingin, menghindari kata kerja,” ujar Andreas Harsono, aktivis Human Rights Watch dan Yayasan Pantau dalam acara diskusi bertajuk ‘Masa Depan Jurnalisme Naratif’. Acara diskusi yang juga merupakan peluncuran buku “#narasi Antologi Prosa Jurnalisme’ oleh Pindai dilaksanakan di Auditorium IFI-Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Yogyakarta pada Sabtu siang, (13/2). Acara diskusi ini menghadirkan dua pembicara, Andreas Harsono dan Nezar Patria, serta dimoderatori oleh Anang Zakaria, ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta. Diskusi ini dihadiri sekitar 150 orang dari latar belakang yang beragam, melampaui target utama yakni 100 orang peserta.

Jurnalisme naratif itu jurnalisme atau reportase non-fiksi bergaya tulisan fiksi dan biasanya panjang, lebih panjang daripada feature. “Jurnalisme naratif bertutur seperti karya sastra, cerpen, artinya menggabungkan perangkat jurnalistik dalam mencari berita, reportase, wawancara, dan menuliskannya dengan teknik bertutur, bercerita,” jelas Wisnu Prasetya Utomo.

Nezar Patria, anggota Dewan Pers dan pemimpin redaksi The Jakarta Post daring, memulai diskusi dengan terlebih dahulu membicarakan tentang perkembangan pers, terutama media daring di Indonesia. Nezar menerangkan bahwa pada tahun 1999, dengan dikeluarkannya UU Pers, terjadilah ‘musim semi media’ yang mana terjadi pertumbuhan jumlah media massa dalam berbagai bentuk. Tren itu kemudian turun setelah euforia ‘musim semi media’ selesai. Pada saat ini di Indonesia terdapat 1200 media cetak, 13 televisi swasta nasional dan lebih dari 500 televisi lokal, serta 50 media daring yang ternama.

Media daring sendiri memiliki beberapa kekurangan, seperti kurang akuratnya berita karena mengutamakan kecepatan, dangkal, kurang memberikan konteks, dan lain-lain. Tetapi, media daring juga memiliki kelebihan seperti pengaturan pembaca, non-linear, ruang yang tidak terbatas, interaktifitas antara pembaca dan penyedia media daring, dan sebagainya. Media daring juga merupakan tempat yang pas untuk memfasilitasi jurnalisme naratif. Salah satu pelopor jurnalisme naratif di media daring adalah The New York Times daring, dengan tulisannya yang berjudul ‘Snow Fall: The Avalanche at Tunnel Creek’ yang sampai saat ini telah mencapai lebih dari sejuta pembaca.


“Yang kita bicarakan bisa kita lihat di struktur tulisan,” ujar Andreas dalam diskusi jurnalisme naratif ini. Andreas menjelaskan ada tiga bentuk tulisan jurnalisme sesuai dengan struktur mereka masing-masing. Pertama ialah berita langsung yang menggunakan struktur piramida terbalik. Kedua ialah feature yang berbentuk layaknya gitar, eye-catching di awal, penuh data, agak membosankan di tengah, dan diakhiri dengan paragraf-paragraf yang berbobot. Terakhir, jurnalisme naratif yakni dimulai dari kronologi, kemudian antiklimaks, diikuti oleh paragraf-paragraf long-form, dan akhirnya diakhiri dengan klimaks/kesimpulan dari tulisan. (AQL)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar