Mau Jadi Apa Mahasiswa Sekarang?


 
Sumber gambar : www.okezone.com
Oleh : Nurul Fajri
Mahasiswa selalu menjadi bagian dari setiap agenda perubahan yang terjadi di Indonesia. Salah satu bukti mahasiswa menjadi bagian penting dalam sejarah perubahan Indonesia adalah ketika mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR pada Mei 1998 sebagai aksi meminta pelengseran presiden Soeharto dari jabatannya pada saat itu. 

Mendapatkan posisi dan peranan penting di Indonesia, serta menjadi harapan besar bagi bangsa Indonesia ternyata tidak menjadikan mahasiswa untuk lebih gencar lagi melakukan perubahan bagi bangsa Indonesia. Hal ini terlihat dari kondisi saat ini, mahasiswa semakin jauh dari ketiga amanah tersebut. Semakin banyak penyakit-penyakit kronis yang menjangkiti mahasiswa mulai dari tawuran hingga asusila. Sehingga mahasiswa mulai diragukan untuk dapat menjadi agen perubahan jika mereka justru merusak citra bangsa sendiri.

Selain itu, permasalahan terbesar adalah sikap apatisme di dalam jiwa mahasiswa yang kian mengakar. Keadaan zaman seakan-akan menjebak dan memerangkap mahasiswa ke dalam kondisi yang membuat mereka tak sempat lagi memerhatikan gejala sosial di sekitar mereka. Mereka terkungkung dalam kesibukan dan dunia mereka sendiri. Sikap apatis yang kian mengakar tersebut adalah salah satu dampak negatif dari era globalisasi. Padahal mahasiswa adalah penerus bangsa yang paling matang dan yang paling diharapkan oleh semua orang untuk siap merubah bangsa Indonesia. Di kampus, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi setiap semester, namun mahasiswa juga harus mempunya rasa sosial yang tinggi, kepemimpinan yang tinggi, dan tentunya prestasi yang tinggi pula. Hal ini menjadi bukti bahwa menjadi mahasiswa tidaklah mudah.

Berbicara tentang tujuan seorang mahasiswa dalam mengemban ilmu di suatu universitas adalah hal yang lumrah. Akan ditemukan jawaban yang berbeda jika kita memberikan pertanyaan yang sama pada mahasiswa semester awal dengan mahasiswa semester akhir. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah kematangan cara berpikir para mahasiswa semester akhir daripada mahasiswa semester awal. Mahasiswa semester awal atau mahasiswa baru (Maba) adalah mahasiswa yang dikatakan masih membawa sifat kekanak-kanakan dari sekolah menengan atas (SMA) karena masih dalam tahapan transisi atau perpindahan. Itulah mengapa maba masih memiliki pola pikir yang belum sematang pola pikir mahasiswa semester akhir, misalnya ketika maba lebih memilih untuk menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang) daripada menjadi mahasiswa yang mengikuti banyak kegiatan.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, mahasiswa semester akhir adalah adalah mahasiswa yang memiliki pola pikir yang matang. Hal ini dikarenakan kebanyakan mahasiswa semester akhir sudah mempunyai prioritas yang berbeda, misalnya lebih mengutamakan skripsi daripada pacaran, lebih memilih kerja paruh waktu untuk mengisi waktu luang daripada nongkrong, dan masih banyak lagi hal lain yang lebih diprioritaskan oleh mahasiswa semester akhir, dan hal ini tentu saja sangat berbeda dengan pola pikir mahasiswa semester awal.

Setiap hal adalah proses, sama halnya dengan cara berpikir mahasiswa baru yang pasti akan berproses untuk memiliki pola pikir yang lebih matang, karena mau tidak mau menjadi seorang mahasiswa haruslah memiliki pola pikir yang lebih matang. Salah satu alasannya adalah karena mahasiswa nantinya akan bersaing di dunia kerja dengan mahasiswa lainnya. Untuk itu jelas saja bahwa mereka harus memiliki pola pikir yang matang, bertanggung jawab, kritis, dan masih banyak lagi kriteria yang harus dipenuhi.

Mau jadi apa mahasiswa sekarang? adalah sebuah pertanyaan berat untuk semua mahasiswa. Mereka secara tidak langsung dituntut untuk menjadi sempurna dalam segala bidang, semua orang dan negara pasti menaruh harapan besar bagi semua mahasiswa, karena bagaimanapun nantinya negara ini akan dikelola oleh mahasiswa. Harapan kita adalah semoga semua mahasiswa bisa berpikir lebih kritis dan mempunyai pola pikir yang lebih matang karena sekali lagi, kelak merekalah yang akan menjadi pemimpin bangsa ini.

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar