Mahasiswa: Pencipta Bukan Penuntut


Sumber gambar : yusufisazis.deviantart.com
Oleh : Kurniasari Alifta Ramadhani
Mahasiswa merupakan tulang punggung bangsa. Mahasiswa adalah generasi penerus bangsa. Begitulah anggapan atau ekspektasi seseorang ketika mendengar sebutan “mahasiswa”. Pada hakikatnya, pemuda ataupun mahasiswa merupakan tonggak dari bangsa ini. Kemerdekaan bangsa Indonesia diraih atas dasar paksaan dari para pemuda yang meminta Sang Proklamator untuk segera mengumandangkan proklamasi kemerdekaan. Bapak proklamator, Soekarno pun pernah mengatakan, “Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, akan kuguncang dunia.”

Sejak zaman pasca kemerdekaan sampai sekarang, gerakan-gerakan atau kelompok pemuda sudah banyak dan bahkan berkembang dari tahun ke tahun, dari zaman ke zaman. Mulai dari pergerakan Budi Utomo, semangat juang para pemuda sudah sangat terlihat. Hingga kini, semangat juang para pemuda seharusnya terus menular dan terus digerakkan, sehingga embel-embel “pemuda merupakan tulang punggung bangsa” dapat benar-benar tercapai.

Terdapat banyak sekali dan bermacam-macam bentuk pergerakan mahasiswa. Ditambah dengan pergerakkan zaman yang telah berubah menjadi zaman yang serba canggih. Mahasiswa seharusnya lebih mampu untuk memperjuangkan nasib bangsa. Salah satu hal yang dapat dilakukan mahasiswa pada saat ini ialah dengan memanfaatkan media yang ada, seperti dengan menulis. Dengan menulis, para mahasiswa mampu mengungkapkan persepsinya di atas kertas dan dapat diingat sampai kapan pun.

Pers mahasiswa sebagai pers alternatif, yang mana juga dijadikan sebagai tempat untuk menyalurkan aspirasi warga kampus, seperti mengkritik kebijakan kampus. Melalui pers mahasiswa, mahasiswa mampu melatih dirinya untuk lebih tanggap dan kritis terhadap isu-isu dalam kampus maupun luar kampus. Dengan menuangkan aspirasinya ke dalam sebuah tulisan, mahasiswa dapat mengingat dan akan terus diingat tentang apa yang mereka bicarakan, sehingga kritik mereka tidak hanya berlalu begitu saja.

Pembredelan, mungkin saja menjadi momok yang paling dihindari oleh para pegiat pers mahasiswa saat ini. Kebebasan pers di pasca orde baru ini dipertanyakan kembali. Setelah kasus pembredelan majalah LENTERA pada 2015 lalu, kebebasan pers khususnya pers mahasiswa patut dipertanyakan kembali. 

Selain pembredelan, kurangnya referensi nampaknya juga menjadi salah satu hal yang membuat mahasiswa seakan-akan kurang daya kritisnya. Salah satu hal yang memicu kurangnya daya kritis di dalam tulisan mahasiswa, yaitu kurangnya budaya membaca. Sehingga, yang muncul ke permukaan ialah ide-ide tulisan yang hampir sama dengan tulisan yang lainnya. Hal semacam inilah, yang akan menurunkan semangat menulis di benak mahasiswa. 

Melihat kondisi yang seperti ini, mahasiswa harus lebih berani. Berani dalam bertindak dan menyuarakan aspirasinya dalam mengkritisi kebijakan kampus. Namun, mereka harus tetap mengindahkan aturan-aturan yang telah ditetapkan, tidak kebablasan dalam menyuarakan aspirasinya. Mahasiswa juga tidak perlu malu untuk mengakui kalau dirinya memang kurang mengerti terhadap suatu hal, sehingga dengan begitu mahasiswa akan terus mencari tahu hal-hal yang baru dengan cara mendekatkan dirinya dengan buku. 

Dengan begitu, bukan tidak mungkin embel-embel “mahasiswa adalah generasi penerus bangsa” akan menjadi lebih nyata dengan perubahan-perubahan yang mereka ciptakan. Bukan hanya bisa mengkritik saja, namun mahasiswa harus mempunyai solusi terhadap apa yang mereka kritik tersebut. Seperti yag ditulis oleh Pandji Pragiwaksono dalam bukunya “NASIONAL.IS.ME”: “Hanya ada dua jenis anak muda di dunia, mereka yang menuntut perubahan, mereka yang menciptakan perubahan. Silakan pilih perjuanganmu.”


Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar