Sastra Perjalanan





Oleh Zulhilmi Hanif


Di penghujung Oktober, Gofur datang pada sebuah bangunan pusat kebudayaan di UGM. Gayanya flamboyan, syal dengan corak etnik ia rekat melingkar di lehernya, terlihat sesuai dengan kaus oblong hitam yang ia kenakan, juga jeans setengah sobek dan ditambal sejenis kain bertuliskan “Death” pada lututnya. Gofur tetap melenggang ke kerumunan pendaftaran peserta. Ia mengeluarkan secarik kertas pada tas berbahan kain yang sudah luntur. tiket yang sudah di tangannya ia berikan kepada panitia berkorsa himpunan mahasiswa sastra di seberang meja, Gofur mencari namanya pada lembar peserta dan memenuhi tanda hadir dengan tanda tangan yang lebih mirip rumput kering di Somalia. 

Ia memindai seluruh ruang seminar yang terbuka, kali saja ada kursi yang kiranya cocok dengan watak Gofur yang semi-pemalu. Tentu saja ia tak memilih kursi paling depan alih-alih sudah penuh. Ia menyempitkan pinggul manakala ingin menuju pada sebuah kursi di posisi tengah-tengah kerumunan yang sibuk membenarkan posisi kursinya masing-masing. Seorang wanita muda kira-kira seusia dirinya, ingin permisi manakala Gofur menaruh bekal yang diberikan panitia ia taruh di bawah kursi. Gofur mempersilakan wanita tadi lewat. Gofur tersipu malu, melihat kemeja hampir bening berwarna biru malas yang wanita itu kenakan. Kancing di bagian dada, sengaja tak disambung beberapa, sehingga belahan dada dan bra hitamnya terlihat. 

Spanduk selebar enam kali empat meter di depan kursi peserta seminar memampang wajah-wajah yang tak cukup asing bagi Gofur. Seorang lelaki yang sebenarnya paruh baya dengan rambut yang hampir seluruhnya putih dan kacamata gantung terlihat setengah-setengah menyungging senyum namun dengan mata hampir sayu difoto dengan teknik close-up. Di sebelahnya, seorang wanita difoto dari pinggang hingga kepala terlihat ingin melompat dengan kedua tangan dan telapak dibuka lebar-lebar di atas kepala, seolah ingin membawa kesan ceria sesuai buku-buku perjalanan yang selama ini beliau tulis. Seno Gumira Ajidarma dan Windy Ariestanty menjadi pembicara pada seminar bertema sastra perjalanan yang dihadiri Gofur kali ini.

Seorang MC jalan ke depan peserta dengan mikrofon yang sedari tadi ia tempel di dagu, membacakan CV dari masing-masing pembicara dan moderator yang ternyata juga penulis buku yang belum Gofur dengar sebelumnya: angin apa ini, dinginnya melebihi rindu. 

Satu-persatu, pembicara termasuk moderator datang dari arah belakang. Gofur melihat Seno sedikit berbincang kepada salah satu pembicara yang rupanya guru besar fakultas ilmu budaya. membicarakan hal-hal mengenai perjalanan sastra, sastra perjalanan atau entah apalah. Gofur hanya memilah kertas kosong pada buku catatannya. Dan bersiap-siap.

***

Sastra perjalanan merupakan jenis sastra yang hampir berumur serupa dengan karya sastra itu sendiri. Sejak kehadirannya di abad kedua Masehi, sastra perjalanan atau sastra travelogue berwujud buku karangan Pausania berjudul "Description of Greece", juga catatan perjalanan Marco Polo (The Travel of Marco Polo) yang menginspirasi Colombus (1269). Tidak hanya sampai Yunani, sastra travelogue juga hadir di Amerika dan belahan timur dunia seperti cerita perjalanan Ibnu Jubayr (1145-1214) dan Ibnu Batutta (1304-1377). Sedang di Amerika pada tahun 1726 kita mendapatinya sebagai "Gulliver’s Travel" yang ditulis dengan gaya satire oleh Jonathan Swift. 

Jenis sastra ini berkembang pesat ketika bangsa-bangsa Barat melakukan perjalanan dan eksplorasi ke berbagai belahan dunia untuk berbagai kepentingan seperti petualangan, perdagangan, bahkan kolonialisme. 

Secara sederhana, istilah "sastra perjalanan" dapat diartikan sebagai kisah-kisah perjalanan yang dituturkan oleh individu maupun kelompok ketika mereka menghadapi tempat yang baru. Karya-karya travelogue biasanya berisi gambaran yang cukup detail mengenai pengalaman dan persepsi penulis terhadap sebuah tempat. Sastra seperti ini tidak dimaksudkan untuk memberi informasi-informasi pragmatis tentang sebuah tempat yang dikunjungi melainkan memberikan sebuah deskripsi tentang kebudayaan dan masyarakat lewat pengamatan dan persepsi si penulis. 

Menurut Windy, sastra perjalanan justru merupakan hal baru di Indonesia, dan termasuk dalam jenis sastra kontemporer kekinian. Penulis-penulis baru banyak yang berangkat dari sastra travelogue, seperti Trinity hingga Windy sendiri. Tidak seperti pada umumnya, tulisan-tulisan Windy tidak sama sekali menawarkan kemudahan-kemudahan perjalanan, rute-rute terbaik, harga tiket, hotel dan sebagainya. Windy bercerita mengenai tempat-tempat dan penduduk baru lewat persepsinya. Sering kita jumpai pada kesempatan lain, seorang penulis manakala dihadapkan pada tempat baru seperti gunung, sungai dan gedung-gedung kuno ia kerap terkungkung dan berputar-putar pana penulisan deskriptif, bagaimana gunung itu berdiri, seperti apa bentuknya dan di mana ia berada. Windy lebih memilih berlama-lama pada medium yang akan ia tulis, meminjam istilahnya, "penulis harus tenggelam" pada cerita. Maka tak heran, Windy memilih mewawancarai penduduk setempat, tinggal serumah atau berhari-hari menetap di suatu tempat jika perlu. Oleh sebab itu tulisan-tulisan Windy lebih kaya naratif dibanding penjabaran. 

Bicara sastra perjalanan kita tidak bisa mengesampingkan dinamika peradaban, budaya bahkan pelakon perjalanan itu sendiri. Manusia, seperti kata Windy, dilahirkan dengan kedua kaki dan dua bola mata sejak lahir yang menjadikannya sebagai makhluk perjalanan. Sejak dulu manusia diharuskan tinggal nomaden dan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya kemudian berevolusi untuk cukup pintar menuliskan kisahnya pada tembok-tembok gua. 

Dalam era milenium sekarang, manusia sudah difasilitasi dengan transportasi kecepatan peluru yang memungkinkan perjalanan beratus-ratus kilometer hanya dengan hitungan beberapa jam juga kecepatan menyerap informasi hanya dengan jarak jempol dan layar gawai. Aplikasi-aplikasi penyedia informasi layanan hotel dan tiket murah juga menjamur, memungkinkan manusia dengan mudah pergi mana pun ia mau. Sastra pun dalam hal ini turut andil, seperti karya-karya perjalanan pun makin banyak kita temui di toko-toko buku dan lainnya. Kita hanya perlu membuka diri lebar-lebar akan setiap cerita-cerita baru dalam hidup, kemudian melangkahkan kaki sejauh-jauhnya, maka cerita itu akan tenggelam dengan sendirinya, jelas Windy.

***

Seorang Pram yang hidup jauh dari kemudahan transportasi dan kecepatan informasi pada zaman itu mengingatkan Gofur tentang perjalanan sastranya. Meskipun di dalam penjara, Pram menciptakan buku-buku, entah bagaimana, Pram seolah berjalan bebas melenggang keluar penjara dan mengisahkan cerita-cerita yang hingga hari ini hidup dalam rak-rak baca hampir setiap mahasiswa. Gofur meloncat jauh pada Mohammad Hatta dan aforisme miliknya “Aku rela dipenjara dengan buku, karena dengan buku aku bebas.” Dan seperti itulah sastra bekerja.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar