Jurnalis Tintin, Dibunuh Karena Berita


Sumber gambar:en.tintin.com

Oleh Zulhilmi Hanif

Rak berisi buku-buku di kamar saya tidak begitu saja muncul, begitu juga kecintaan saya terhadap dunia kejurnalistikan. Ada alasan mengapa saya memilih dunia yang kata sebagian orang membosankan, serba mendung dan serius ini. Semua bermula dari pertemuan dengan seseorang dari Belgia, berambut pirang lancip dan hampir plontos di keningnya. Waktu itu kira-kira saya masih berusia sepuluh tahun dan ayah baru saja pulang kerja.

Dengan anjing ras fox terrier bernama Milou yang selalu menemaninya ke mana-mana, Tintin membuka lorong di jiwa dan pikiran saya lewat ceritanya akan petualangan-petualangan gila dan mustahil. Dari petualangan di Tibet, Laut Merah, penemuan harta karun Rackam hingga tersesat di Jakarta. Sejak serial pertama berwujud VCD yang ayah berikan sebagai hadiah sepulang kerja waktu itu, hingga serial-serial selanjutnya, saya selalu melihat Tintin bukan sebagai petualang, melainkan sebagai jurnalis lewat sudut pandang anak-anak sebagaimana diceritakan Herge penciptanya. Tentu hal baru bagi saya, mengingat pekerjaan sebagai jurnalis tidak begitu akrab di lingkungan keluarga waktu itu. Ibu seorang guru TK, ayah seorang pegawai laboratorium, kakak pertama ingin jadi teknokrat, adik bergelut di dunia grafis. Dan kakak kedua ingin cepat menikah.

Beranjak dewasa, maaf maksud saya beranjak tua. Realita memaksa saya menjauh dari dunia anak-anak yang menyenangkan. Sah-sah saja saya kira menyebutnya menyenangkan, meskipun saya lebih sering menghabiskan waktu membaca dan menonton serial Tintin di rumah, manakala teman-teman sekolah memilih menghabiskan waktu bermain bola di lapangan komplek, tertawa riang dan membicarakan hal-hal berbau pubertas. Saya bertualang di kedalaman sepuluh ribu kaki mencari harta karun dan melawan sindikat bajak laut tengkorak hitam dan tiba-tiba diselamatkan oleh sekumpulan putri duyung setelah terombang-ambing di laut mati.

Kebiasaan membaca saya sulit pudar, saya senang dengan prosa-prosa roman Eropa abad-16 karya Shakespear. Puisi-puisi Allan Poe, hingga Howl, puisi perlawanan kaum marginal Amerika karya Ginsberg yang terkenal karena disebut-sebut bermulanya masa renaisans San Fransisco. Saya mencintai puisi, novel-novel klasik yang jauh dari jerat komersial dan komoditas. Penulis-penulis besar seperti Jules Verne, Orhan Pamuk dan Twain kerap saya coba tiru gaya tulisannya yang penuh basa-basi, kompleks namun montok ide. Hingga hari ini saya terus mencoba menjadi mereka versi saya. Semoga.

Di sekolah menengah, saya sempat menjadi pimpinan redaksi sebuah majalah sekolah tahunan. Cukup membanggakan, majalah asuhan saya termasuk yang terbaik beberapa tahun terakhir. Tentu dibantu teman-teman seperjuangan masa itu, dengan sedikit paksaan akhirnya jadi juga. Setelah lulus, mungkin hanya saya satu-satunya di dapur redaksi yang memberanikan diri bermimpi sebagai jurnalis. Yang lain, sebagian besar ingin menjadi mubalig, ada yang jadi partisipan LGBT, ada yang bermimpi jadi aktor, ada juga yang tidak punya kabar sampai sekarang.

Menjadi Jurnalis

Menjadi jurnalis bukan perihal mudah, jurnalis juga buruh. Saya tidak akan membicarakan heroisme seorang jurnalis, saya tidak akan membicarakan betapa mulianya tinta seorang jurnalis daripada darah seorang martir. Kita semua tahu, bahwa memang menjadi jurnalis sejatinya adalah pekerjaan untuk kepentingan publik, atas nama publik mereka berhak meminta informasi tentang semua hal yang berhubungan dengan kepentingan publik; keputusan pemerintah anggaran daerah dan lain-lain. Profesi ini bisa disejajarkan dengan ilmuwan terdepan pembangun negara, sekaligus juga baris terdepan dalam mengkritik negara. Seperti tokoh-tokoh pembela kepentingan publik lainnya seperti Batman dan Superman, bahkan Tintin. Menjadi jurnalis bukan sekedar jalan hidup, namun juga “jalan pedang”.

Jurnalis kerap dikategorikan sebagai kelompok intelektual, bahkan sebagian, jika boleh meminjam istilah Bre Redana: kewibawaan intelektual seorang jurnalis melebihi doktor. Knowledge worker seperti jurnalis bukan hanya fokus terhadap penggunaan gagasan saja, namun turut mengelaborasi serta menyebarkan gagasan. Profesi yang diemban dibangun dari tanggung jawab sosial. Kepercayaan publik adalah sendi utama bagi berjalannya sebuah profesi, dengan demikian, sebuah profesi memiliki tanggung jawab besar. Untuk menjaga kepercayaan itulah profesi punya rambu-rambu yang disebut kode etik.

Saya tidak jemawa. Jika kita lihat peristiwa lalu, tidak sepenuhnya menjadi jurnalis menjamin idealisme bersih. Pemilu 2014, ruang redaksi kerap kali dicampuri upaya membuat berita yang tidak berimbang atau bersudut pandang kelompok tertentu. Pasalnya ada beberapa pemimpin media yang punya afiliasi partai politik. Sedang hukum yang berlaku di ruang redaksi adalah “suka atau tidak suka”. Namun tidak semudah itu, dalam mengambil keputusan seorang jurnalis mesti juga mempertimbangkan “Nanti saya makan apa?”.

Data Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta menyebutkan bahwa rata-rata gaji awal yang dikantongi jurnalis Jakarta tidak lebih dari Rp 3 juta per bulan. Angka ini berlaku untuk semua jenis media massa, baik televisi, Koran daring, mau pun radio. Dan sudah mencakup gaji pokok, tunjangan, biaya, kesehatan dst. Di luar Jakarta upah jurnalis lebih kecil lagi.

Jurnalis adalah buruh yang harus berhadapan dengan majikan dan sistem pengupahan. Hal ini terlihat dengan gamblang apabila kita menilik hubungan kerja media massa di Indonesia. Beberapa jurnalis mendapatkan gaji tetap tiap bulan, beberapa lainnya tidak. Ada yang bekerja dengan surat perjanjian kerja yang tertulis dan bermeterai, dan ada juga yang tidak. Kelompok tak bergaji tetap dan tak bersurat kontrak ini sering dikenal sebagai kontributor. Hasil kerja jurnalistiknya baru bisa ditukar dengan uang apabila berita yang ia buat ditayangkan oleh media yang memperkerjakannya. Nilai berita kontributor televisi rata-rata sebesar Rp 200 ribu, sedangkan kontributor media massa cetak, internet, dan radio jauh di bawah angka itu.

Lebih dari itu, jurnalis sering menulis berita dengan pertimbangan uang yang ia datangkan. Prosedur standar dalam menyusun berita memang tetap dilakukan (seperti verifikasi, klarifikasi, dan penyebutan narasumber). Namun selalu ada “sentuhan” tertentu dalam penyusunan berita agar memiliki daya tarik. Beberapa dilakukan dengan memelintir berita, yakni menggunakan pernyataan narasumber sedemikian rupa sehingga membuatnya jadi bombastis. Ada juga taktik dramatisasi, seperti mengeksploitasi kesedihan, darah, peperangan, pertikaian, gosip dan lain-lain. Semua itu justru mengaburkan pandangan kita yang jauh tentang jurnalis, bahwa kelompok pekerja intelektual atau kelas menengah yang cerdas adalah bias bagi mereka.

Bagaimana pun Tintin sudah menjadi jurnalis bagi saya, ia hadir dalam mimpi-mimpi saya akan petualangan hidup, ia diceritakan sebagaimana penggemar komik anak-anak kala itu, maka persepsi yang dibawa adalah persepsi khas kekanakan yang serba menyenangkan. Sebagai penggemar Tintin yang sudah dewasa, ada kalanya saya membayangkan Tintin mempertanyakan idealismenya sebagai jurnalis Belgia anti kemapanan. Mungkin, suatu ketika muncul komik versi terbarunya: “Jurnalis Tin-Tin, Dibunuh Karena Berita”, atau “Tintin Melawan Lupa”.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar