Integritas Media Ketika Diserbu Pengiklan

Sumber gambar: businessinsider.com
Oleh: Rofia Ismania

Media merupakan sasaran bagi pengiklan untuk memasarkan produk-produknya. Dengan mengemas begitu menariknya melalui media, produk yang ditawarkan dapat laku terjual. Pada dasarnya itulah yang menjadi tujuan pengiklan. Di samping itu juga untuk mempersuasi konsumen agar membeli produk mereka.

Banyak cara pengiklan untuk memasarkan produk-produknya yaitu dengan menawarkan undian berhadiah, walaupun produk yang dibeli bukan merupakan kebutuhan kita. Seperti produk minuman maupun makanan atau bahkan produk kecantikan yang menawarkan berbagai macam hadiah, baik uang maupun barang. Pengiklan mengemas produknya dengan sedemikian rupa, yaitu dengan mengangkat latar suasana pada iklan tersebut. Dengan begitu para konsumen akan tertarik dengan suasana yang dibangun, bukan karena produk mereka. 

Di mana tingkat keberhasilan seorang pengiklan dalam memasarkan produknya? Yaitu ketika pengiklan memasarkan produknya, keberhasilan terdapat pada bagaimana cara ia mempersuasi konsumen agar membeli produknya. Selain itu tingkat keberhasilan juga terletak pada logika konsumen. Di mana pengiklan harus berhasil mematikan logika seseorang, ketika logika seseorang masih jalan seorang pengiklan belum mencapai keberhasilan untuk mempersuasi konsumennya.

Dengan ini, media diserbu para pengiklan apalagi di era yang semakin kekinian ini. Harga yang ditawarkan semakin kekinian pula. Maksudnya anggaran yang media baik elektronik maupun cetak tawarkan untuk memasarkan produk semakin mahal. Tergantung sasaran media mana yang dituju untuk mengiklankannya. Ya, ketika membicarakan media tidak akan habis-habisnya. Alhasil, apa yang mereka lakukan merupakan prinsip dari kapitalisme. Memperoleh untung yang sebesar-besarnya untuk kepentingan media itu sendiri. Di mana yang kaya semakin kaya, yang miskin gigit jari. Seperti halnya pengiklan yang begitu banyaknya menyerbu media. Berapa banyak keuntungan yang media peroleh. Jika dilihat dari perkembangan iklan dari dulu sampai sekarang. Tentunya sangatlah berbeda seiring dengan berkembangnya kecerdasan manusia untuk membuat perubahan serta teknologi-teknologi baru.

Ngiklan!!!

Pengiklan akan membangun citra, pandangan yang akan tertanam di pikiran masyarakat terhadap produk yang mereka iklankan. Dengan cara produsen menggunakan agenda setting atau latar belakang tempat, serta suasana yang terbangun pada iklan tersebut atau bahkan menggunakan selebriti yang sekiranya menjadi idaman masyarakat saat ini. Sebagai contoh Iklan Kuku Bima Energi yang menggunakan latar tempat keindahan alam Indonesia khususnya di Papua. Lalu, Iklan Mama Lime dengan menggunakan selebriti Raffi Ahmad yang ngehits untuk ibu-ibu, sehingga dengan adanya Raffi Ahmad ibu-ibu akan membeli produk Sunlight. Jadi mereka tidak tertarik pada produknya melainkan selebriti yang dipakai pada iklannya. Bahkan losion badan membangun citra bahwa dengan memakai produk itu kulit akan terlihat putih. Padahal jika dilihat dan ditelaah secara saksama semua produk menjanjikan hal yang sama. Mulai dari minuman pastilah produk ini menjanjikan kesegaran pada konsumen, sabun cuci tentunya menjanjikan bersih dan wangi serta lembut di tangan. Pasta gigi menjadikan gigi putih, bersih, sehat dan kuat. Losion badan membuat kulit putih dan lembut. Jika losion badan menjanjikan kulit akan menjadi hitam dan kasar pastilah tidak akan ada yang membeli di Indonesia, kecuali kalau produk yang menjadikan kulit hitam dan kasar dipasarkan di luar negeri yang penduduknya berkulit putih pastilah akan terjual. Inilah yang disebut agenda setting. Sebuah perusahaan harus menyesuaikan apa saja yang dibutuhkan oleh sasaran yang dituju. Terutama dari segi tempat dan konsumennya.

Pengiklan memang pintar. Ketika perusahaannya mengalami penurunan tingkat pendapatan perusahaan, mereka mampu mengatur kembali perusahaan tersebut. Dengan memberikan inovasi-inovasi baru atau sogokan berupa hadiah-hadiah yang menggiurkan bagi konsumen. Contohnya, memberikan hadiah berupa mobil, sepeda motor, atau bahkan uang berjuta-juta rupiah, yang kadang tidak masuk akal. Itulah yang tergambar di media baik elektronik maupun cetak. Begitu menariknya dan menggiurkan hadiah yang mereka tawarkan. 

Dengan adanya hadiah sebanyak itu tidak ada satu pun yang bisa saya dapatkan, karena saya kurang beruntung atau saya kurang banyak membeli produk-produk berhadiah itu. Entahlah. Ketika media diserbu pengiklan, seberapa besar integritas yang dimiliki media. Memang dari segi pendapatan tidak terhitung jumlahnya, karena prinsip yang media miliki. Tapi bagaimana dengan mutu dan kualitas media saat ini ketika dihadapkan pada serbuan para pengiklan?
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar