Tonton Bareng Ala Kine Klub Pasca Rampungkan Produksi


Bertempat di gedung Loop Station Yogyakarta pada Sabtu malam (19/12), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) MM Kine Klub meluncurkan sekaligus mengadakan acara tonton bareng pemutaran film pendek yang bertajuk "Kineidoskop". Kineidoskop mampu menyedot animo penonton. Kineidoskop merupakan program akhir tahun UKM MM Kine Klub sekaligus refleksi film indie (independen) pasca produksi selama satu tahun. MM Kine Klub meluncurkan tiga film bersamaan, masing-masing dengan judul "Dito Belajar", "Susu", dan "Pamali".

Imam Yudhanto, Ketua Panitia Kineidoskop menjelaskan bahwa peluncuran dan pemutaran film sebagai pengenalan kepada penonton terkait produksi pertama MM Kine Klub. Selain itu, dengan adanya Kineidoskop mampu mempererat jaringan dan koneksi dengan komunitas-komunitas film indie di Yogyakarta. “Kineidoskop sebagai ajang silaturahmi pencinta film,” kata Imam.

Ketiga film garapan MM Kine Klub merupakan hasil buah pikir dan kerja keras dalam setahun silam. Pemutaran film diawali dengan film “Dito Belajar” yang sarat akan makna sosial dengan menonjolkan arti sebuah topeng. Dilanjutkan dengan film “Susu” yang mencoba mengilustrasikan sebuah kehidupan keluarga yang sedang dihadapkan dengan permasalahan ekonomi. Serta film “Pamali” yang memvisualisasikan mitos masyarakat Sunda. Setelah pemutaran film dibuka kesempatan untuk penonton bertanya kepada sutradara dan produser masing-masing film tersebut.

Dalam sesi tanya jawab sutradara dan produser berinteraksi secara langsung dengan penonton. Bima Katangga Produser Film “Dito Belajar” Dito mengenakan topeng putih, di mana warna putih mengisyaratkan kesucian. Namun topeng putih juga digunakan sebagai kamuflase untuk menutupi kesalahan Dito. “Motivasi menggunakan topeng putih dalam beberapa adegan tidak lebihnya sesuatu yang 'sok suci' untuk menutupi keburukan,” tambah Bima Katangga.

Selain Katangga Bima, pertanyaan yang sama juga ditujukan kepada Bayu Seto Sutradara Film “Susu”. Bayu menjabarkan bahwa dalam film “Susu” mempunyai tujuan tersirat untuk mengampanyekan peduli Air Susu Ibu (ASI). Beberapa adegan film tersebut menggambarkan penggunaan susu formula bayi untuk pengganti ASI. Meskipun secara tersurat tidak memvisualisasikan kampanye ASI. (SLS)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar