Rokok Sebagai Pintu Masuk Narkoba





“Rokok adalah pintu masuk dari napza (narkotika, psikotoprika, dan zat adiktif - red), berawal dengan rokok maka seseorang akan merasa ketagihan dan berujung kenikmatan pada napza. Seorang pendiri pabrik rokok ternama Amerika Philip Morris juga mengatakan bahwa rokok hanya diperuntukkan untuk orang yang bodoh dan berkulit hitam,” Kata dr. Ida Rachmawati, M.Sc., Sp. KJ salah satu pembicara utama dalam seminar nasional kesehatan bertajuk “Mewujudkan Generasi Intelektual Bangsa Dalam Mencegah Bahaya HIV/ AIDS, Narkoba, dan Asap Rokok”.

Seminar nasional kesehatan yang digagas oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (BEM KM UMY) ini dilaksanakan di gedung Sportorium UMY pada Minggu (27/12). Seminar nasional ini menghadirkan para pembicara utama yang ahli sesuai tema yang diangkat. Salah satu pembicara utama dalam acara tersebut ialah Kepala Badan Narkotika Nasional Yogyakarta Hj. Sutarmono DS, BSC., SE., M.Si., dr. Ida Rachmawati, M.Sc., Sp. KJ, dan dr. Rizal Alaydrus.

Acara ini merupakan serangkaikan acara yang dimulai sejak beberapa bulan yang lalu. Diawali dengan kegiatan aksi pembagian coklat yang ditukar dengan sebatang rokok, dilanjutkan dengan sosialisasi bahaya rokok dan narkoba. Sebagai akhir dari rangkaian kegiatan tersebut adalah dengan adanya seminar nasional ini. Serangkaikan kegiatan ini dimaksudkan sebagai awal upaya pencegahan dan memberikan pemahaman kepada generasi penerus bangsa agar dapat memilah antara yang benar dan yang keliru, jelas Muhammad Arif Catur Prakoso Ketua Panitia Seminar Nasional.

Kepala Badan Narkotika Nasional Yogyakarta Sutarmono menjelaskan bahwa pengedaran dan penyalahgunaan narkoba menjadi masalah yang serius. Karenanya upaya pencegahan pengedaran dan penyalahgunaan narkoba memerlukan perhatian khusus dari berbagai pihak. Penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Pusat Penelitian Kesehatan (Puslitkes) Universitas Indonesia mencatat 5,9 juta jiwa kelompok pelajar dan mahasiswa terjerat narkoba. “Menyikapi langkah-langkah kebijakan dan penanggulangan dengan adanya perundang-undangan dan memayungi penyalahgunaan narkoba,” tambah Sutarmono.

Pemerintah daerah dalam upaya pencegahan juga mampu memberikan andil. Salah satu cara yang dapat digagas pemerintah daerah yakni dengan memberikan fasilitas yang bertujuan untuk pencegahan dan penanggulangan. “Peran gubernur dan walikota yakni dengan memfasilitasi dalam bentuk lokakarya, workshop, outbond, Karya Tulis Ilmiah, asistensi, dan lain sebagainya,” lanjut Sutarmono.

Dalam upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba, Ida Rachmawati menyoroti kegiatan pelajar ataupun mahasiswa yang gemar merokok. “Kebanyakan orang merokok adalah untuk menghilangkan stres, lebih produktif, lebih berprestasi, dan lain-lain,” tambah Ida. Ida juga meyakini bahwa adiksi nikotin akan merangsang zat di otak sebagai dopamine yang akan menimbulkan perasaan senang dan akan mengulangi perilaku merokok. 

Ida juga mengungkapkan cara untuk menghentikan kegiatan tersebut adalah dengan memulai sesuatu yang kecil yang berawal dari diri sendiri. “Ciptakan ruang kecil agar tidak merokok, semisal tidak menyediakan asbak, maka anggota keluarga tidak akan merokok.” Berawal dari hal kecil itulah kemudian akan menjadikan budaya tanpa rokok di lingkungan keluarga dan masyarakat. (SLS)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar