Masjid Kampus UMY Berkendala Kekurangan Air

Sumber gambar: umy.ac.id
Masjid sebagai tempat beribadah selalu dalam kondisi bersih serta menyediakan fasilitas yang memadai. Seperti Masjid K.H. Ahmad Dahlan di kampus terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang berdiri megah di lingkungan kampus masih terdapat kekurangan yang mengganggu kenyamanan ibadah. Salah satunya air, ketika digunakan dalam jumlah banyak sering mengalami pemadaman.

Salah satu dosen Fakultas Ekonomi, Iskandar Buchori mengatakan bahwa masjid yang menjadi pusat kegiatan keagamaan di kampus sudah seharusnya bersih dan suci guna kenyamanan bagi para jamaah. “Secara umumnya masjid kampus sudah bersih, namun masih ada yang harus diperhatikan lebih teliti oleh pengelola masjid, yakni air dan kebersihan kamar mandi. Air sering mati saat salat Jumat sehingga menyusahkan jamaah pria, dan kamar mandinya pun becek jadi terkesan kumuh,” ungkap Iskandar menjawab pertanyaan Nuansa ketika ditemui di gedung D usai perkuliahan, Selasa (18/11).

Beliau mengatakan bahwa kualitas air di kampus yang kurang baik merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kerak pada lantai kamar mandi. “Saya hanya berharap air dan kebersihan kamar mandi dapat menjadi perhatian serius bagi pengelola, agar masjid dapat menjadi pusat peradaban serta menjadi tempat yang nyaman bagi pergerakan mahasiswa berbasis kampus,” tutup Iskandar.

Persoalan mengenai habisnya air ditengarai bak penampung air yang kapasitasnya kurang besar. “Ternyata tempat penampungan air dari masjid kampus masih tergolong kecil dan insya Allah berencana untuk menambahkan penampungan yang lebih besar. Itu memang menjadi kendala dan sudah menjadi bahan evaluasi,” jelas Arich Hawary, selaku Takmir Masjid Kampus. Selain itu ketika proses pengisian ke tempat penampungan dari sumber mata air belum penuh, namun sudah banyak terpakai untuk wudu, sehingga hal tersebut mengakibatkan air sering mati saat digunakan dalam jumlah besar.

Miftahulhaq, M. Si., selaku Sekretaris Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) menyatakan bahwa tidak dapat menentukan langkah teknis mengenai soal air tersebut. Hal ini memerlukan adanya komunikasi dengan pihak terkait dari kampus. Beliau juga menambahkan agar dapat langsung berwudu dari unit kerja masing-masing sehingga ketika masuk masjid langsung menunaikan ibadah salat, terutama bagi jamaah salat Jumat. 

Sementara itu, fasilitas lain dapat dijumpai dalam masjid, di antaranya konter penitipan tas dan alas kaki. Untuk penitipan tas memiliki petugas penjaga sendiri sedangkan konter untuk alas kaki belum. “Sangat disayangkan untuk konter penitipan alas kaki belum ada penjaganya,” terang Arich. Kekosongan penjaga konter penitipan alas kaki tersebut menyebabkan terjadinya kasus kehilangan sepatu maupun sandal milik jamaah.

Masjid kampus juga menyediakan dua dispenser yang dapat digunakan jamaah masjid serta karpet sajadah dan fasilitas ibadah lain. Terpenting, pengeras suara yang selalu dalam kondisi baik. Fungsinya untuk mengumandangkan azan dan sebagai pendukung kegiatan salat jamaah ketika imam menyerukan bacaan surat dalam salat, agar terdengar ke seluruh makmum. 

Mengenai kebersihan masjid, Arich Hawary mengatakan tidak semua dari pihak takmir ikut membersihkan. Namun kebersihan dilakukan oleh pihak petugas kebersihan yang berada di kampus. “Kalau saya tidak ada halangan, secara pribadi saya ikut membersihkan. Tapi kalau berhalangan ya, sepenuhnya dilakukan oleh pihak petugas kebersihan,” tutupnya. (gwr,dila).
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar