Kantin Kejujuran, yang Ditiadakan sekaligus Dirindukan



Suasana berbeda di lobi tiap fakultas Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) terjadi pada beberapa bulan belakangan ini. Pemandangan tidak biasa itu berupa makanan-makanan yang diletakkan pada tempat duduk lobi-lobi fakultas. Makanan-makanan tersebut dijual dengan sistem penjualan di mana penjual dan pembeli tidak saling bertatap muka, melainkan penjual hanya meletakkan barang dagangannya dengan meninggalkan catatan harga makanan dan sebuah wadah yang digunakan untuk menampung uang hasil penjualan. Jika ada yang ingin membeli makanan tersebut, pembeli tinggal meletakkan uang ke wadah yang telah disediakan tersebut dan mengambil makanan yang tersedia. Transaksi jual beli seperti ini biasa dikenal sebagai kantin kejujuran. 

Kantin kejujuran mulai muncul pada beberapa lobi fakultas di UMY sekitar awal tahun 2015. Pada awalnya hanya ada satu hingga dua jenis produk makanan saja yang dijajakan di kantin kejujuran, namun sejak awal tahun ajaran baru terdapat peningkatan jumlah dan jenis makanan yang dijajakan. Makanan yang dijajakan di kantin kejujuran memang tidak lebih banyak dibanding Koperasi Mahasiswa (Kopma), sebab beberapa jenis makanan yang ditawarkan sama. Rata-rata penjual menjajakan makanan ringan seperti kue donat, arem-arem, bakpao, dan beberapa jenis gorengan. Meskipun tidak terlalu banyak varian, banyak mahasiswa bahkan pegawai universitas tetap membeli jajanan tersebut. Efisiensi waktu dan tempat yang sangat dekat dari kelas maupun ruang pegawai, menjadi alasan mengapa jajanan di kantin kejujuran tetap menarik bagi konsumennya. 

Beberapa lobi di gedung perkuliahan utara dan selatan memang menjadi tempat strategis untuk memasang etalase jajanan bagi para penjual kantin kejujuran. Penjual yang meletakan dagangannya di kantin kejujuran berasal dari pihak luar dan dalam UMY sendiri. Beberapa di antaranya merupakan mahasiswa yang memang ingin belajar mengelola bisnis kecil, seperti Suharto Putra, mahasiswa Ilmu Pemerintahan 2014 yang memproduksi arem-arem. Ia mengaku memiliki ide berdagang di kantin kejujuran sejak semester dua karena iseng dan ingin belajar mengelola bisnis kecil. Keberaniannya untuk meletakkan dagangannya di lobi Fakultas Hukum dan jurusan Hubungan Internasional baru muncul ketika ada beberapa orang yang terlebih dulu meletakkan dagangannya di tempat yang sama. 

Kantin kejujuran menjadi pilihan Suharto untuk memulai berjualan, sebab di kantin kejujuran tidak membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Setiap pagi Suharto berangkat lebih awal untuk meletakkan dagangannya lalu ia tinggalkan untuk kuliah dan menjalankan aktivitas organisasi. Di sore hari ia akan mengambil hasil dari penjualan arem-arem dalam sehari. 

“Kalau di kantin kejujuran lebih hemat waktu sekaligus saya memaksa diri saya untuk mengatur waktu untuk berangkat lebih awal dan pulang lebih larut sore. Selain itu, dibanding menitipkan dagangan di warung, hasil dari penjualan di kantin kejujuran lebih besar karena tidak ada orang ketiga. Jadi keuntungan dapat saya rasakan sendiri,” jelas Suharto.

Ia menambahkan bahwa dari pengalaman meletakkan produknya di tempat umum, ia dapat mengetahui karakter pembeli di setiap tempat. Di satu tempat, keuntungan yang diperoleh seimbang bahkan sering kali lebih banyak dengan produk yang terjual. Namun di tempat lain sebaliknya, produknya habis namun keuntungan yang didapat justru minus karena banyak konsumen yang tidak membayar. Memang dibanding menitipkan produk di warung, risiko yang diperoleh dengan meletakkan produk di kantin kejujuran lebih besar karena tidak terkontrol walaupun keuntungannya cukup besar pula.

Meskipun keuntungan dari kantin kejujuran cukup besar dibanding menitipkan dagangan di warung, Suharto hanya berjualan sampai awal semester tiga. Sebagai penjual dan mahasiswa, ia membaca ketidaknyamanan mahasiswa lain dengan keberadaan produk-produk di kantin kejujuran. “Beberapa bulan kemarin saya sudah melihat kantin kejujuran semakin tidak tertata dan semakin banyak produknya sebab ada beberapa pihak dari luar UMY yang juga turut berjualan. Sebagai penjual saya juga merasakan, teman-teman pasti terganggu dengan keberadaan barang-barang tersebut. Sehingga saya memang lebih dulu berniat untuk berhenti berjualan di kantin kejujuran sampai akhirnya Surat Keputusan (SK) Wakil Rektor II terbit dan membuktikan dugaan saya,” ungkap Suharto.

Senada dengan Suharto, beberapa mahasiswa juga mengeluhkan kehadiran kantin kejujuran yang tidak tertata rapi ini yang kemudian direspons oleh pihak kampus dengan dikeluarkannya SK Wakil Rektor II tentang larangan berjualan di berbagai tempat selain kantin dan Kopma. Termasuk di antaranya kantin kejujuran dan kantin-kantin kecil lain yang ada di beberapa titik di dalam gedung perkuliahan, seperti Agrimart di Fakultas Pertanian dan kantin di Gedung D lantai dua.

Setelah terbit SK dari wakil rektor II tentang ditutupnya kantin kejujuran ini menimbulkan pro dan kontra. Meskipun terbitnya SK ini diawali dengan protes dari beberapa mahasiswa yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran kantin kejujuran yang mempersempit ruang publik, namun tak sedikit pula pendapat kontra tersebut datang dari beberapa kalangan terutama dari mahasiswa yang sebagian besar pernah menjadi konsumen kantin kejujuran.

Aisyah Nurrahmah, salah satu mahasiswa yang merupakan konsumen dari kantin kejujuran sangat menyayangkan penutupan kantin kejujuran tersebut. Menurutnya, kantin kejujuran bisa menjadi pilihan alternatif karena aksesnya yang dekat dan praktis apabila sedang lapar pada saat menunggu waktu pergantian kuliah. Selain itu, kantin kejujuran bisa menjadi bisnis kecil-kecilan bagi mahasiswa. Dari kantin kejujuran itu, kita bisa melihat bagaimana kejujuran dan tanggung jawab dari para mahasiswa. “Sebenarnya kalau bisa jangan ditutup, harusnya kampus memberikan mereka fasilitas agar terintegrasi sehingga akan lebih terorganisir,” tambahnya. 

Pendapat yang sama diutarakan oleh Aljuri, mahasiswa Fakultas Hukum. Walau bukan sebagai konsumen dari kantin kejujuran, ia menyayangkan adanya surat larangan tersebut karena berimbas juga pada beberapa kantin kecil lainnya. Ia yang biasanya membeli minuman atau makanan di fotokopi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) yang lebih dekat dengan gedung kuliah, kini harus ke kantin selatan dulu jika ingin membeli minum (tulisan ini dibuat sebelum kantin selatan ditata ulang - red). “Harusnya disediakan tempat untuk menjual minuman atau makanan agar memudahkan para mahasiswa,” ungkapnya. 

Dua hal yang kontradiktif dengan kebijakan penutupan kantin kejujuran adalah dorongan untuk berwirausaha. Kantin kejujuran merupakan salah satu wadah untuk mahasiswa belajar berwirausaha. Menurut salah satu pakar ekonomi UMY Dr. Rizal Yaya, S.E, M.Ec., Akt, memang benar bahwa kampus mendorong salah satu kemampuan bagi mahasiswa, yaitu kewirausahaan. Namun terkait penutupan kantin kejujuran ini, alasan yang digunakan pihak kampus untuk melakukannya memang cukup rasional. Selain karena mengganggu fasilitas tempat duduk yang seharusnya digunakan mahasiswa untuk duduk, banyaknya produk makanan yang diletakkan di lobi-lobi tersebut juga menimbulkan kecurigaan bahwa ada makanan-makanan yang bukan berasal dari mahasiswa, melainkan dari pihak luar dan setelah diselidiki pihak kampus, ternyata memang ada makanan-makanan yang berasal dari pihak luar.

Menurut beliau, pola kantin kejujuran yang hanya meletakkan barang jualan begitu saja akan susah untuk dikontrol karena tidak diketahui jelas siapa yang meletakkan barang jualan tersebut. Apabila di kemudian hari ditemukan hal-hal yang tidak terduga, maka akan susah untuk dimintakan pertanggungjawaban. Salah satu solusinya mungkin bisa dengan model portabel yang seperti menyediakan stan untuk mahasiswa berjualan. Lokasi yang digunakan juga jangan sampai mengganggu fasilitas. Harus ada pengorganisasian yang baik juga antar pihak kampus dan mahasiswa. Mahasiswa yang berminat kemudian bisa mendaftar, sehingga akan jelas siapa penjualnya dan apa produk yang akan dijual serta memudahkan untuk dilakukan pertanggungjawaban. Untuk menerapkan model portabel yang demikian, kesulitannya memang karena belum dianggarkan. Namun, ke depannya mungkin bisa diterapkan sebagai salah satu solusi untuk pengembangan kewirausahaan mahasiswa.

Penambahan fasilitas untuk mengontrol jumlah dan jenis produk yang dijual di kantin kejujuran juga diungkapkan oleh Suharto. Sebagai penjual ia menambahkan untuk disediakan regulasi khusus terkait pengorganisasian kantin kejujuran ini. “Saya rasa perlu adanya peraturan khusus untuk kantin kejujuran agar lebih tertib dan mencegah penjualan barang yang sama dengan penjual lain. Karena hal itu dapat merugikan sesama penjual dan konsumen akan bosan. Peraturan ini juga untuk membendung penjual dari luar. Saya berharap kampus dapat membuka lagi perijinan kantin kejujuran namun dengan beberapa peraturan yang jelas,” tutup Suharto. (nan/kml)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar