Editorial: Penataan Kantin, Untuk Siapa?


“Masalah kantin sudah selesai, silakan mencari tema lain,” begitu jawaban disposisi surat yang redaksi terima terkait permohonan wawancara dengan pihak kampus terkait penataan kantin - setidaknya istilah itu yang diinginkan kampus - yang berujung penutupan kantin utara dan selatan di lingkungan kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada 30 November 2015 lalu.

Menolak disebut penggusuran, kampus lebih suka disebut penataan, maka jadilah polemik hingga berbulan-bulan. Palu pun telah diketok, hitam sudah di atas putih. Puluhan pedagang pasrah, mahasiswa marah. Tidak ada relokasi, mahasiswa terus menyuarakan aspirasi. Menuntut kejelasan nasib mereka sepeninggal dari tempat mereka biasa berjualan. 

Ketika lembaga perwakilan mahasiswa diam dan mendiamkan, Lembaga Penerbitan dan Pers Mahasiswa (LPPM) Nuansa sebagai media mahasiswa di kampus "Muda Mendunia" tentu tidak bisa tinggal diam. Kami mencoba untuk selalu ada, mengawal kebijakan dari awal sampai akhir, terlebih bagi kebijakan "penataan" kantin yang tentu memiliki tingkat sangkut paut yang besar bagi warga kampus, mulai ribuan mahasiswa, dosen pegawai, hingga mereka yang tiap hari menjajakan makanan untuk kebutuhan perut civitas academica. 

Ketika eksekusi tak lagi terelakkan, pers tidak berhenti di situ. Apakah dengan tak terelakkannya penutupan kantin, polemik otomatis berhenti di situ bak persoalan asap Sumatera dan Kalimantan yang tak lagi ada kabarnya setelah Tuhan menurunkan hujan? Kami berusaha memenuhi hak warga kampus untuk tahu, terus mengawal dengan tulisan. Dengan vital dan strategisnya keberadaan kantin utara dan selatan, dampak ditutupnya kantin cukup kompleks, ke mana para pedagang setelah tidak lagi berjualan? Ke mana mahasiswa yang biasa menjadi pelanggan kantin memenuhi kebutuhan makan setelah kantin ditiadakan? Lalu apa langkah kampus sebagai pemangku jabatan untuk menghadapi dampak-dampak tersebut? Apakah persoalan kantin sudah benar-benar selesai?

Melalui produk bulanan kami Nuansa Kabar yang akan terbit 15 Desember 2015 mendatang, LPPM Nuansa berusaha menjawab persoalan tersebut yang ditelisik secara mendalam mulai dari polemik, dampak, hingga solusi yang ditawarkan kampus terkait ditutupnya kantin utara dan selatan UMY melalui reportase yang tak sekedar di permukaan dan dikuatkan dengan hasil telisik survei yang mewakili suara mahasiswa akan permasalahan ini. Penataan kantin, untuk siapa? (redaksi)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar