Kontroversi BPJS : Menerapkan Syariat Islam dalam BPJS

Sumber gambar : beritabuana.co
 

Sejak awal tahun 2015, Indonesia telah mulai mengoperasikan program jaminan sosial yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Berdasarkan Undang-undang No. 40 Tahun 2011, BPJS hadir menggantikan Asuransi Kesehatan (Askes) yang sebelumnya dikelola oleh PT Askes Indonesia. Namun, di pertengahan tahun muncul isu di masyarakat yang mempertanyakan bagaimana hukum BPJS dalam ajaran Islam. Berawal dari pernyataan Majelis Ulama Indoneisia (MUI), setelah mengadakan ijtima ulama yang menyatakan bahwa BPJS mengandung beberapa unsur yang kurang syar’I, BPJS mulai diisukan haram hukumnya di kalangan masyarakat.

Jaminan sosial atau at-takaful al-ijtima’iy sejatinya merupakan salah satu dari tiga rukun ekonomi Islam yang paling mendasar dan esensial. Hal ini diutarakan oleh Prof. Dr. Ahmad Muhaamd ‘Assal, Guru Besar Universitas Riyadh, Arab Saudi dalam bukunya An-Nizam al-Iqtishadity al-Islami. Sehingga, dengan adanya BPJS ini diharapkan dapat memberikan jaminan sosial bagi masyarakat kecil yang belum terjamah oleh pemerintah. “Adapun mekanisme dan praktik yang kurang syar’I yang harus kita luruskan,” ujar Dr. Masyudi Muqarrabin, M.EC.

Mengapa pelaksanaan BPJS dinilai kurang mengandung unsur-unsur ajaran Islam? terdapat dua hal alasan, pertama, sistem asuransi sosial dalam BPJS bersifat maisir atau gambling. Kedua, sistem investasi BPJS juga dinilai tidak ada kejelasan (ghoror) serta kurang transparan kepada masyarakat. Kedua sifat diatas, maisir dan ghoror, dilarang oleh Allah SWT.

مَا يَكُوْنُ مَجْهُوْلُ العَاقِبَةِ لاَ يَدْرِى أَيَكُوْنُ أَمْ لَا

“Sesuatu yang ujung-ujungnya tidak jelas, hasilnya akan ada ataukah tidak.” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 31:149)

Dalam sistem asuransi, baik asuransi sosial maupun asuransi umum, pada prinsipnya mengandung unsur maisir (gambling) dan ghoror. Masyarakat yang membayar iuran premi tiap bulannya belum tentu akan mengalami musibah yang membutuhkan asuransi. Hal-hal yang memiliki ketidakjelasan seperti ini sebaiknya dihindari oleh kaum muslimim.

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari jual beli hashoh (hasil lemparan kerilik, itulah yang dibeli) dan melarang dari jual beli ghoror.” (HR. Muslim)

Kemudian dari segi sistem investasi BPJS, sejak awal memang belum diberlakukan hukum investasi yang syar’I. Masyarakat yang telah membayar iuran premi setiap bulannya dan bahkan mendapat denda apabila terjadi keterlambatan pembayaran, serta tidak mendapat transparansi atas uang mereka. Investasi ini dikelola secara konvensional sehingga jauh dari anjuran Islam dalam pengelolaan dana tersebut.

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ

“Jika kalian telah sibuk dengan jual beli inah (sistem jual beli yang terdapat unsure riba) kalian terbuai dengan peternakan dan bercocok tanam, dan kalian tinggalkan jihad, maka akan Allah timpakan di atas kalian kehinaan yang tidak akan terangkat sampai kalian kembali ke agama kalian” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud)

Ada baiknya dalam pelaksanaannya, BPJS dikelola sesuai dengan syariat Islam. Diantaranya menggunakan model jaminan sosial takaful dengan akad niatan sedekah di awal perjanjian. Lalu menjunjung prinsip ta’awun yakni konsep bertemunya setiap individu yang memiliki kemampuan dan keahlian yang berbeda untuk bekerja sama saling tolong-menolong mencapai tujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Ta’awun juga menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan pengorbanan demi kepentingan bersama. Dengan mekanisme ta’awun ini masyarakat dapat memahami makna saling tolong-menolong dalam memberikan keringanan kepada yang lebih membutuhkan. Sehingga, saat masyarakat membayar iuran premi niatnya adalah sedekah dan tidak mengharapkan musibah dikemudian hari.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong menolonglah kami dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (Al Ma’idah/5:2)


Sumber informasi : Masyhudi Muqorobin, M.Ec.,Ph.D.Akt



Disadur dari NQ edisi 37
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar