Ketahuilah Sejarah dan Dirikan Salat Sebagai Ibadah


Sumber gambar: tafaqquhstreaming.com

Salat adalah tiang agama. Begitulah ungkapan yang sering kita dengar pada saat kita mengikuti ceramah di berbagai tempat atau kita sedang mendengarkan materi seorang guru agama. Ya, salat merupakan kewajiban bagi orang muslim. Seperti yang diterangkan dalam surat Al-Baqarah ayat 43 “Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” Sebuah tiang adalah sebuah penyangga, seperti sebuah rumah ada pondasi, atap, dan ada penyangganya. Begitupun dalam Islam, syahadat sebagai pondasi lalu salat sebagai penyangga.

Sebagai seorang muslim, kita mengetahui bahwa mengerjakan salat adalah kewajiban. Salat merupakan kunci dari segala ibadah. Ada hukum salat, waktu salat, syarat sah salat, hal-hal yang bisa membatalkan salat, semua dipaparkan lengkap dengan tata caranya dan dijelaskan tiap-tiap aspeknya. Lalu darimana semua itu berasal?. Mengapa salat itu wajib? Siapa yang pertama kali mengajarkan salat?, mungkin pertanyaan-pertanyaan tersebut pernah terngiang dalam benak kita. Tak kenal maka tak sayang, mungkin itu menjadi ungkapan yang cocok agar kita bisa lebih mencintai apa yang telah diwajibkan kepada kita. Pernahkah kita berpikir bagaimana asal mula salat fardu yang terdiri dari subuh, zuhur, asar, magrib, dan isya tersebut?.

Nabi Adam As adalah orang yang pertama menjalankan salat subuh. Pada waktu itu, Nabi Adam As melihat cahaya begitu gelap dan ia merasa takut. Namun, tak lama kemudian muncullah sinar yang tak lain adalah pergantian waktu malam menjadi pagi. Oleh sebab itu, salat subuh dilaksankan pagi hari untuk mengucap syukur atas hadirnya kecerahan setelah kegelapan.

Selanjutnya, salat zuhur dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim As sebagai orang yang pertama. Salat yang dilaksanakan pada saat matahari bergeser dari titik tengahnya mengingatkan akan sejarah digantinya Nabi Ismail As yang sebelumnya ingin disembelih. Empat rakaat pada salat ini menggambarkan empat perasaan sang Nabi yaitu rasa gembira, syukur atas Nabi Ismail As, rida dan syukur atas digantikannya sebuah domba.

Tidak jauh berbeda tentang gambaran perasaan seorang Nabi yang berhubungan dengan jumlah rakaat dalam salat. Salat yang dilakukan menjelang sore hari menggambarkan perasaan Nabi Yunus As yang merasakan empat macam kegelapan yaitu gelap karena kekhawatiran hasya, gelap di dalam air, gelap malam, dan gelap di dalam perut ikan.

Salat wajib tiga rakaat atau salat magrib juga memiliki filosofi sendiri. Kisah Nabi Isa As ketika berhasil keluar dari kaumnya di penghujung senja. Tiga rakaat sangat bermakna bagi Nabi Isa As. Tiga rakaat itu menandai perjuangannya yaitu ketika menegakkan tauhid, menafikan bentuk sesembahan selain Allah SWT, dan terakhir menafikan hinaan bahwa ia dilahirkan tanpa Ayah.

Salat isya adalah salat wajib terakhir setiap harinya. Empat rakaat salat isya menyimpan sejarah Nabi Musa As yang di mana keempat kesedihannya dihilangkan oleh Allah SWT saat meninggalkan Kota Madyan.

Ternyata tidak hanya Nabi-Nabi di atas yang menyimpan sejarah tentang didirikannya salat lima waktu. Tetapi, Rasulullah SAW juga menyimpan untaian sejarah mengenai salat wajib tersebut. Menurut sejarah, setiap tiba waktu salat Nabi Muhammad SAW selalu diperingatkan oleh malaikat Jibril. Malaikat jibril selalu berkata “Bangunlah wahai Rasulullah dan dirikanlah salat,” hal itulah yang selalu malaikat lakukan baik pada waktu subuh, zuhur, asar, magrib, maupun isya.

Betapa mulia sejarah yang tersimpan dalam setiap salat yang kita dirikan. Islam adalah agama yang membawa rahmat juga kesejahteraan bagi umat-Nya. Allah ta’ala akan selalu melindungi hamba yang taat pada-Nya dan tak pernah mendustakan nikmat-Nya. Semoga setelah kita tahu sejarah salat, kita kian menjadi hamba yang bersahaja untuk selalu menyembah kepada-Nya. Semoga Allah memberi keberkahan atas hidup kita. Amin.


Sumber informasi : Kitab Sulamunnajah karya Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani Al-Jawi


 
Disadur dari NQ edisi 38
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar