Diskusi Mahasiswa Terbuka Mengenai Politik Ekologi Indonesia


“Politik Ekologi Pasca Reformasi di Indonesia”, itulah tajuk Kajian Out of the Box yang diadakan oleh Korps Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (Komap) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Rabu malam (5/11). Kajian Out of the Box ini diadakan di Taman Indah Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) dan dihadiri berbagai elemen masyarakat Fisipol beserta beberapa organisasi mahasiswa pergerakan, antara lain masyarakat FISIPOL sendiri, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) DIPO Fisipol UMY, HMI MPO Fisipol UMY, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fisipol UMY, Sekolah Bersama (Sekber), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fisipol, Pembebasan, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Solidaritas untuk Orang Pinggiran dan Perjuangan Kampus (Sopink), dan Rumah Baca Komunitas (RBK).

“Ekologi menyangkut harkat hidup bangsa,” itulah yang diungkapkan oleh Hanafi Wardhana Prawiranegara, Ketua Panitia Kajian Out of the Box, guna memantik diskusi. Hanafi kemudian melanjutkan bahwa ada tiga alasan mengapa politik ekologi sangat penting. Pertama, kebijakan publik dianggap belum mampu menjaga lingkungan. Kedua, Indonesia di mana warganya adalah mayoritas Muslim, memiliki tanggung jawab sebagai umat Muslim. Tanggung jawab umat muslim antara lain sebagai umat literasi dan umat ekologis. Ketiga, cinta lingkungan sebagai bentuk dari cinta negara.

Kajian Out of the Box diadakan secara terbuka, di mana tidak ada satu atau dua pembicara utama yang mendominasi diskusi. Melainkan, setiap elemen masyarakat dan pergerakan mahasiswa FISIPOL diberikan kesempatan untuk memaparkan ide dan pengetahuan mereka mengenai politik ekologi di Indonesia pasca reformasi. Dari sekian banyaknya argumen yang dilayangkan, kapitalisme dan neoliberalisme dianggap sangat bertabrakan dengan politik ekologi. Kapitalisme dan neoliberalisme yang mementingkan pemilik properti terkesan tidak peduli dengan lingkungan, yang dianggapnya hanya sebagai kapital untuk dieksploitasi. Diskusi juga menekankan kurangnya peran pemerintah dalam menjaga lingkungan, yang telah mengeluarkan berbagai hukum dan peraturan, tetapi sayangnya kurang efektif dan kurang ditegakkan.

Imelda Zamzana, mahasiswi jurusan Ilmu Pemerintahan (IP) mengapresiasi diskusi yang diadakan Komap ini, karena telah mewadahi mahasiswa untuk berpendapat mengenai masalah politik ekologi di Indonesia. ”Kita sebagai mahasiswa tidak hanya bertaut pada politik tapi juga bertaut pada lingkungan di mana kita membutuhkan filter, di mana kita butuh menyadari fenomena-fenomena lingkungan di Indonesia sangat banyak, dan itu karena salah satunya campur tangan politik. Oleh karena itu mahasiswa sebagai mahasiswa apalagi Fisipol ini (kajian politik ekologi – red) adalah gerakan yang sangat baik,” tambah Imelda.

“Hari ini politik di Indonesia belum berpihak ke masyarakat adat,” ujar Idra Faudu mahasiswa jurusan Agribisnis 2012. Idra juga berpendapat bahwa pembangunan belum berpihak ke adat istiadat, di mana masyarakat lokal dan kebudayaannya hanya dianggap sebagai objek pembangunan oleh pemerintah. Idra juga mengeritik sistem pendidikan yang dianggapnya belum disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat, sehingga menghasilkan sarjana-sarjana yang mengalami disorietasi setelah lulus dari perguruan tinggi. (qil)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar