Untukmu dari Aku, Sahabatmu



Hari itu tampak cerah. Ocha pergi kesekolah tanpa ditemani Kayla. Kayla mesti pergi ke suatu tempat yang penting dan Ocha tak boleh tahu rencananya itu. Ocha pun masih sabar menunggu hingga malam pun larut. “Aku harus nyusul Kayla nih,” ujarnya sambil menarik sweaternya dari jemuran dan pamit ke Salsa. Ocha naik angkot ke pasar malam, dalam perjalanan pun dia merasa melihat dua orang yang sangat dia kenal di sebuah kafe. Ocha langsung turun dengan muka yang merah padam menahan marah, setelah membayar angkot. Ocha langsung menuju tempat duduk dua orang tadi.

“Kayla! Fajar! ini yah kejutan dari kalian berdua untuk aku? Oke aku terkejut, sangat terkejut! Fajar kita putus, dan kamu la. Percuma aku khawatirkan orang yang merebut pacar sahabatnya sendiri!” Gertak Ocha blak-blakan tanpa memberi kesempatan mereka bicara, Ocha langsung pergi dari kafe itu dan naik angkot pulang ke asramanya. Ocha tak mau tahu lagi apa yang akan terjadi setelah ini. Ocha tiba di asrama dan langsung mehempaskan diri ke tempat tidurnya sambil menangis. 

Salsa pun berniat mendekat tapi bersamaan dengan itu, ponsel Salsa berbunyi. “Halo?” Ujar Salsa yang tampak berbicara serius dengan penelepon di seberang. “Iya saya segera kesana,” kata Salsa mengakhiri pembicaraannya dengan penelepon tadi dan bergegas memberitahukan Ocha. “Cha, Kayla lagi…” Kata-kata Salsa terputus saat Ocha memberi tanda untuk menyuruh Salsa pergi. Tanpa pikir panjang Salsa pun pergi dengan mata sembab, Ocha tak tahu apa alasannya yang jelasnya saat itu Ocha merasakan sangat sakit di dadanya. Salsa yang bergegas naik angkot itu sengaja mengirim pesan singkat ke ponsel Caca.

“Cha, Kayla masuk UGD, kalau kamu mau datang, langsung saja ke RS Pelita,” pesan Salsa. Caca mulai khawatir, biar bagaimana pun Kayla masih sahabatnya, dia langsung melupakan sakit yang tengah melanda dadanya itu dan bergegas menyusul ke rumah sakit yang disebutkan Salsa. Sepanjang perjalanan Ocha berusaha menahan air matanya yang dari tadi mengalir.

Sesampainya di rumah sakit…

Ocha langsung berlari menuju ruang UGD, Ocha mendengar tangisan histeris yang keluar dari mulut Salsa.

“Ada apa ini?” Gumam Ocha yang membendung air mata. Dia memasuki ruangan itu. Pertama dia melihat Fajar dengan sebuah bungkusan di tangannya, “Pasti dari Kayla,” pikir Ocha. Sakit hatinya kembali muncul, lama dia pandang Fajar hingga Fajar berusaha mendekatinya. Tapi dengan tatapan sinis memendam rasa benci, Ocha meninggalkan Fajar yang matanya telah sembab. Ocha berpikir bahwa sandiwara apa lagi yang Ical perlihatkan ke dia. Ocha menarik nafas dalam-dalam dan kembali berjalan menuju tempat tidur yang terhalang tirai serba putih, Ocha mengibaskan tirai itu, dia lihat di situ ada Salsa dan…

“Kaylaaaa…,” teriak Ocha histeris. Terbaring seorang gadis, muka mulus tak tampak lagi, yang nampak hanyalah luka-luka dan muka yang hampir tak bisa dikenali, bersimbah darah tak bernyawa, rambut hitam lurus terurai begitu saja seakan membiarkan tuannya melumurinya dengan cairan merah yang mengalir dari kepala tuannya. Jilbab yang tadi dikenakannya pun tak nampak warna dasarnya karena percikan darah. Ocha memeluk sahabat yang paling disayanginya itu. Ada rasa sesal dalam hatinya. Kenapa tidak membiarkan sahabatnya itu menjelaskan apa yang terjadi?

Sesaat itu ada yang menggenggaman hangat lengannya, kemudian memberikan bingkisan imut yang ada di tangannya. “Nih bingkisan buat kamu, kejutan ini yang dari tadi pagi dicari Kayla dan baru dapat d iluar kota. Aku mengantar Kayla karena aku juga ingin memberikan kejutan kecil-kecilan, tapi kamu datang saat aku dan dia merencanakan acara kejutan buat kamu,” jelas Fajar saat Ocha mengetahui apa isi dari bingkisan itu. Buku diary, warna pink sesuai yang dijanjikan Kayla

“La, kenapa mesti kamu jadi korban egonya aku? Siapa lagi yang dengerin curhat aku?" Ocha memeluk jasad sahabatnya itu dan menangis sejadi-jadinya. Salsa mendekatinya dan memberikan sebuah buku diary milik Kayla “Kata Kayla, kalo dia tidak dapat buku yang mirip punya dia, buku diarynya ini buat kamu,” ujar Salsa 

Ocha membuka buku kecil itu, tak sempat membaca halaman pertama, dia membuka beberapa lembaran berikutnya, hingga Ocha pun membaca tulisan Kayla paling akhir.

"13 Mei 2003, 01.00 pagi

Aku sudah dapat sahabat, kasih sayang sahabat. Tapi aku tak dapat memberikan apapun untuk sahabatku itu. Ini hari jadi dia, dan dia menginginkan kamu diary, mungkin saja suatu saat aku berikan kamu ke dia, tapi itu suatu saat, hanya saja aku harus cari yang mirip denganmu untuk sahabatku. Aku minta tolong ke Fajar mungkin juga tidak apa-apa yah diary, dia kan pacar sahabat aku berarti dia juga sahabat aku dong. Hahaha….hanya sebuah buku tapi kalo dia masih menginginkan kamu diary, mau tak mau aku harus ngasih kamu ke dia. Nyawa aku pun boleh yang penting sahabat aku senang, hahaha, Lebaaaaaaaay. Ya udah dulu diary aku ngantuk neh…

Ga’ kelupaan 'MET ULTAH OCHA, MY FRIENDSHIP'

Kayla"

Ocha menutup diary Kayla, semakin berlinang air mata Ocha. Apapun yang Kayla akan berikan untuk Ocha, bahkan nyawanya seperti sekarang yang Ocha alami. Kayla takut kalau Ocha menganggap dirinya berkhianat karena sudah lancang mengajak Fajar untuk mengantarnya, hingga dia tak mempedulikan lagi ramainya kendaraan di jalan yang membuat dirinya menghadap sang Ilahi. (deer)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar