Standar Ganda Kehidupan di Dunia Maya dan Nyata



Sedikit terlambat rasanya untuk menyadari setelah membaca artikel dari New York Post, tanggal 11 Oktober 2015 yang berjudul “Our double lives: Dark realities behind ‘perfect’ online profiles”. Artikel ini menuliskan tentang orang-orang yang dianggap mempunyai kehidupan yang sempurna melalui dunia maya tetapi berakhir dengan nahas dan ketidak sadaran kita akan adanya standar ganda dalam kehidupan kita. Tidak bisa dipungkiri, media sosial kini telah menyatu bahkan menjadi bagian dari rutinitas harian di kehidupan kita. Setiap menit tangan kita secara otomatis selalu berusaha membuka lini masa untuk melihat hal-hal yang terbaru. Di mana pun kita berada, sedang melakukan apa, bahkan sedang bersama siapa, seolah-oleh menjadi hal yang lumrah untuk selalu dipamerkan di khalayak umum. Kita tidak tahu bahwa ternyata media sosial membawa kita menuju pusaran yang dinamakan dengan pencitraan atau manipulasi. Kenyataannya beberapa orang memang sengaja memanfaatkan media sosial untuk menunjukkan bahwa dirinya memiliki sisi lain yang lebih berprestise. Bagaimana jika ternyata apa yang mereka perlihatkan di dunia maya justru bertolak belakang dengan keadaan di dunia nyata? Berapa banyak kebohongan yang dia buat hanya untuk sebuah profil yang sempurna? Apakah mereka cukup bahagia dengan kebohongan-kebohongan tersebut? Atau, bagaimana jika ternyata kehidupan mereka sebenarnya tak sesempurna itu akan tetapi begitu banyak orang yang berharap profil sempurna darinya? Berapa besar tekanan yang ia dapatkan karena memenuhi keinginan orang lain? 

Standar ganda dalam kehidupan pun menjadi semakin tidak terelakkan. Orang-orang memiliki kecenderungan untuk menampilkan sesuatu yang ‘baik’ dari diri mereka, membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang, menciptakan dunia yang sempurna baginya, dan menganggap jumlah likes merupakan sebuah popularitas. Mereka lupa bahwa mereka memiliki dunia nyata yang perlu mereka urus juga. Atau jangan-jangan sindrom standar ganda ini merupakan efek dari semakin jauhnya kita dengan kehidupan nyata? Sesungguhnya ini menjadi keprihatinan tersendiri, karena ternyata tidak sedikit orang yang mengalami depresi karena media sosial. Tidak ada salahnya sebenarnya mencoba untuk menciptakan sebuah profil yang berakarakter di dunia maya. Yang salah ialah ketika mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa tidak ada kehidupan sempurna di dunia ini. Mereka hanya perlu melihat ke luar, mengubah persepketif mereka, dan selalu bersyukur dengan segala sesuatu yang mereka dapatkan. Dengan begitu mereka akan bisa lebih menghargai diri mereka sendiri dan sadar bahwa kebahagiaan yang hakiki lebih bernilai harganya daripada sesuatu yang fana. (gta)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar