RAKERNAS ISMEI XIII: Desentralisasi Ekonomi Sebagai Langkah Untuk Memajukan Perekonomian Indonesia


Rapat Kerja Nasional Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (RAKERNAS ISMEI) XIII telah memasuki hari kedua. Acara seminar yang digelar pada hari Selasa, (27/10) di gedung AR Fachruddin B lantai lima ini dihadiri oleh beberapa pembicara yang kompeten di bidangnya, seperti Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Yoeke Indra Agung, Perwakilan Gubernur Jawa Tengah, Heru, dan Guru Besar Ekonomi dari Universitas Islam Sultan Agung, Widodo. Seminar hari kedua ini mengangkat tema "Pengaruh Desentralisasi Ekonomi dan Politik dalam Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Bangsa".


Desentralisasi ekonomi dan politik yang terjadi di Indonesia beberapa tahun terakhir banyak membuahkan hasil. Banyak daerah-daerah pasca desentralisasi perkembangannya menjadi pesat dan mampu memberdayakan masyarakatnya. “Tahun 1999, di Indonesia ada 234 kabupaten, setelah didesentralisasi, perkembangannya hingga tahun 2014, jumlahnya naik hampir dua kali lipat menjadi 405 kabupaten. Dari perkembangan itu pula, banyak daerah yang mampu mengembangkan potensi daerahnya masing-masing,” ujar Widodo, dalam paparannya.

Beberapa daerah hasil desentralisasi yang berhasil mengelola daerahnya sehingga menjadi daerah maju adalah Kota Denpasar. Denpasar berhasil membangun kotanya dengan dasar bisnis berbasis potensi dan kreatifitas serta berfokus pada penguatan ekonomi kerakyatan yang berbasis pada ekonomi kreatif. Dari hasil itu, dapat pendapatan asli daerah (PAD) meningkat, dari tahun 2011 yang mendapatkan PAD sebesar 511 miliar rupiah, melonjak 30% pada tahun 2014, menjadi 698,7 miliar rupiah. Hal ini membuktikan bahwa desentralisasi ekonomi di Indonesia berjalan sukses.

Namun, lanjut Widodo dalam paparannya, desentralisasi juga memiliki dampak negatif yang memberatkan suatu daerah, di antaranya adalah daerah-daerah akan memungut berbagai biaya baru yang cenderung menghambat iklim investasi dan gairah bisnis di daerah tersebut, kebocoran dan penggunaan dana daerah yang kurang efisien, dan terjadi pembengkakan pada struktur birokrasi daerah tersebut. “Namun, hal tersebut bisa diatasi jika seluruh stakeholders bisa bersinergi untuk mewujudkan ekonomi daerahnya yang mandiri dan sejahtera,” terang Widodo.

Salah satu peserta seminar mengaku senang dengan materi-materi yang disampaikan oleh para pembicara karena bisa membuka wawasannya terhadap desentralisasi ekonomi dan politik di Indonesia. “Saya sangat senang bisa berada di sini dan mendapatkan wawasan tentang perkembangan strategi-strategi ekonomi dan keberhasilan-keberhasilan seperti apa yang dapat ditempuh agar setiap daerah lebih maju dan lebih mandiri. Dengan wawasan yang saya dapat hari ini, saya akan berusaha untuk menyebarkannya kepada teman-teman saya di kampung,” kata Muhammad Isra Haruna, peserta RAKERNAS yang berasal dari Universitas Muhammadiyah Makassar.

Seminar hari kedua ini ditutup pada pukul 15.30 WIB kemudian akan dilanjutkan dengan acara inti, yakni RAKERNAS ISMEI XIII. RAKERNAS ISMEI XIII akan berakhir pada Kamis, (29/10) dan memiliki agenda besar yakni akan memilih ketua baru ISMEI tahun 2015. (SAW/GYS)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar