Pers Mahasiswa se-DIY Tunjukkan Solidaritas terhadap Lentera


Kamis (22/10), kasus pemberedelan majalah Lentera oleh pihak kepolisian dan kampus menjadi bukti bahwa kebebasan pers khususnya bagi pers mahasiswa (persma) masih belum bisa dinikmati. Gabungan Pers Mahasiswa se-DIY, Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI), Social Movement Institute (SMI), dan Gerakan Nasional Progresif (GNP) melakukan aksi solidaritas, bertempat di Tugu Yogyakarta, menuntut kriminalisasi kepolisian terhadap aktivitas mahasiswa dan pihak kampus yang gagal menjadi pelindung bagi mahasiswa, terutama persma. Bentuk aksi solidaritas ini bertujuan untuk memblow-up isu kepada publik agar paham bahwa kebebasan persma itu harus diperjuangkan di era demokrasi. 

“Aksi ini sebagai wujud solidaritas kami terhadap teman-teman persma Lentera. Sekaligus wujud penolakan atau anti terhadap pemberedelan yang dilakukan oleh birokrasi kampus dan pihak-pihak tertentu. Selain itu, ini juga dilakukan untuk menyuarakan kebebasan berekspresi, berpendapat, dan kebebasan pers di kampus maupun di luar kampus. Karena selama ini kami melihat banyak teman-teman persma yang mengalami tindakan semena-mena, hanya karena kita dinilai sebagai tempat untuk melatih minat dan bakat kita sebagai pers. Justru kami ingin memberikan informasi bahwa persma juga selayaknya seperti pers professional. Kita menulis berita, melakukan reportase, punya produk dan sebagainya, kerja-kerja kita sama seperti pers profesional,” ujar Somad, Sekjen Nasional PPMI. 

Perwakilan persma Lentera, Bima Satri Putra selaku Pimpinan Redaksi Lentera mengucapkan rasa terima kasih kepada teman-teman persma se-DIY yang peduli terhadap pemberedelan yang dihadapi persma Lentera. “Atasan kampus dan kepolisian meminta agar semua majalah termasuk yang sudah terbeli untuk ditarik kembali, beberapa sudah diserahkan. LBH Pers sudah mengirimkan surat pengaduan ke Komnas HAM, jadi kami menunggu keberlanjutannya,” ujar Bima saat ditanyai perkembangan kasus pemberedelan Lentera. 

Selain aparat kepolisian dan pihak kampus, aksi ini juga menyoroti peran Dewan Pers yang dinilai kurang dalam menyikapi permasalahan persma. “Ini juga sekaligus perjuangan kami ke Dewan Pers untuk mengakui persma. Selama ini kita jarang sekali mendapat pengakuan. Kami ingin sekali dari Dewan Pers melakukan kajian ulang tentang kinerja persma,” lanjut Somad. 

Aksi solidaritas ini rencana tidak akan berakhir di Yogyakarta saja, namun pada Jumat pagi (23/10) akan dilakukan di Salatiga oleh persma Salatiga. Selain itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang dan PPMI Kota Semarang akan melaksanakan diskusi dan bedah Majalah Lentera pada pukul 14.00 WIB. Persma Makassar dan beberapa kota di Sumatera juga akan melakukan aksi serupa, menanggapi pemberedelan Lentera. 

Pembredelan telah menjadi momok tersendiri bagi pers mahasiswa, baik yang dilakukan oleh pihak luar kampus maupun di dalam kampus. Sebelum Majalah Lentera diberedel kepolisian, di Madura, persma Aksara juga mengalami pembredelan oleh pihak kampus lantaran mengangkat isu yang tidak sesuai dengan kampus. (LR)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar