Panggung Literasi Selatan Dibuka di Radio Buku


Pemotongan tumpeng menandai dibukanya Panggung Literasi Selatan oleh Biennale Yogyakarta dan Radio Buku serta diserahkannya Panggung Literasi Selatan ke desa Panggungharjo pada Jum’at sore, (2/10). Bertemakan “Emansipasi Desa: Kebudayaan, Ritus, dan Pengetahuan”, Panggung Literasi Selatan yang merupakan bagian dari Equator Festival ini diadakan selama tiga hari, dari 2 Oktober sampai dengan 4 Oktober 2015. Di dalam Panggung Literasi Selatan ini terdapat berbagai macam pameran kebudayaan dan pameran literasi, di mana pengunjung dapat menikmati beragam jenis agenda bertemakan literasi. Pemotongan tumpeng diiringi dengan penampilan kelompok budaya Qolbu Pabularas Manunggal, dan sebelumnya ada juga penampilan Karawitan Purborini Geneng dan penampilan lagu “Ayo Gawe Prahu” dari TK PKK 117 Asyakirin Geneng.

“Tidak cocok disebut kolaborasi, tetapi hasil usaha Desa Panggungharjo,” jelas Yustina Neni, Direktur Yayasan Biennale dalam sambutan pembukaannya. Neni kemudian mengucapkan apresiasinya kepada seluruh warga Desa Panggungharjo dalam partisipasinya sebagai kontributor maupun sebagai pengunjung Panggung Literasi Selatan. Neni juga mengeluarkan kerisihannya bahwa ketika orang mendengarkan kata Yogyakarta, yang dipikirkan hanyalah hal-hal yang standar seperti Nol Kilometer, Tugu Yogyakarta, Keraton, dan lain-lain yang hampir semuanya berada di dalam wilayah Kota Yogyakarta. Padahal Yogyakarta bukan hanya kota, Yogyakarta juga melingkupi Bantul, Sleman, Gunungkidul, serta Kulon Progo. Dengan Panggung Literasi Selatan yang diadakan di Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul ini dapat memperluas wawasan kebudayaan orang banyak mengenai Yogyakarta.

“Semoga acara ini menjadi ruang pertemuan bersama,” sebut Rain Rosidi, Direktur Artistik Biennale dalam sambutannya. Rain mengharapkan Panggung Literasi Selatan dapat menjadi ruang ekspresi berbagai komunitas dan masyarakat, sehingga meningkatkan pengetahuan mengenai kebudayaan dan literasi. Rain juga menuturkan bahwa dengan adanya agenda ini masyarakat Desa Panggungharjo dapat meningkatkan kesadaran kritis warga serta mengkaji kembali praktek kesenian mereka, dan kemudian melestarikannya dengan lebih baik lagi.

Wahyudi Anggoro, Lurah Panggungharjo turut memberikan sambutan dalam pembukaan. Wahyudi menjelaskan bahwa saat ini terjadi sesuatu hal yang mengaburkan cita-cita besar seniman dan budayawan, yakni komersialisasi besar-besaran. Dengan adanya Panggung Literasi Selatan yang mempertunjukkan karya senin non-komersial, Wahyudi berharap kesenian dapat mengalami revitalisasi.

Panggung Literasi Selatan ini adalah hasil kerjasama antara Biennale Yogyakarta, Radio Buku, dan Desa Panggungharjo. Lokasi penyelengaraanya sendiri terbagi dalam tiga titik di Desa Panggungharjo, salah satunya ialah di Radio Buku. Di dalam Panggung Literasi Selatan ini terdapat 47 komunitas yang turut berpartisipasi, serta 57 agenda yang beragam yang dapat dinikmati pengunjung. Beberapa komunitas yang terlibat dalam Panggung Literasi Selatan anatara lain mojok.co, pindai.org, Warung Arsip, Komunitas Kretek, Grup-grup Kesenian Desa Panggungharjo, dan berbagai komunitas lain. Bentuk agendanya sendiri sangat beragam, dimulai dari pameran, literasi, diskusi, workshop, lapak buku, dan sebagainya. (qil)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments: