Nawacita: Setahun Ada Namun Tak Dianggap

Sumber gambar: jokowinomics.com
oleh: Kurniasari Alifta R

Dalam memimpin Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) telah membuat program kerja untuk lima tahun mendatang. Program kerja tersebut diberi nama Nawacita. Program Nawacita adalah sembilan harapan yang dicetuskan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo bersama Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla pada penyampaian visi dan misi mereka ketika Pemilu Presiden 2014 lalu. Kini, meskipun Jokowi dan JK telah satu tahun memimpin Indonesia dengan program Nawacitanya, tidak banyak yang tahu tentang apa itu Nawacita. Dalam menjalankan program kerjanya selama lima tahun mendatang, Jokowi dan JK tentunya sangat membutuhkan pengawalan dari seluruh warga negara Indonesia, khususnya para mahasiswa. Namun sayangnya, saat ini banyak sekali mahasiswa yang tidak tahu tentang apa itu isi dari Nawacita atau bahkan ada yang tidak tahu sama sekali apa itu Nawacita. 

Melihat kondisi seperti itu, Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara (Himasigara) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengadakan acara Seminar Nasional yang bertajuk “Mengawal Pencapaian Nawacita dan Revolusi Mental Menuju Visi Indonesia Sejahtera” yang diselenggarakan pada hari Kamis (15/10), di Ruang Sidang Umum Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta. Acara ini dihadiri oleh 200 peserta yang berasal dari dalam maupun luar UNY. Seminar Nasional seperti ini merupakan program kerja tahunan Himasigara yang setiap tahunnya harus dilaksanakan. Menurut Ketua Pelaksana Seminar Nasional, Gerry Priyanggono, tujuan diselenggarakannya acara Seminar Nasional ini guna mengajak para mahasiswa untuk lebih kritis dan aktif dalam mengawal pelaksanaan program Nawacita. Acara Seminar Nasional tahun ini menghadirkan pembicara-pembicara yang berasal dari berbagai komponen, yaitu Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Aria Bima, Dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta, Lena Satlita, dan mahasiswa Ilmu Administrasi Negara Unversitas Negeri Yogyakarta, Ikhsanudin Muchlis. 

Seminar Nasional dibagi menjadi dua panel, panel pertama diisi oleh Aria Bima selaku pembicara pertama dan Lena Satlita selaku pembicara kedua. Dalam penyampaian materinya, Aria Bima menjelaskan bahwa visi dan misi yang Jokowi dan Jusuf Kalla buat didasarkan antara lain pada melemahnya sendi-sendi ekonomi Negara, merebaknya intoleransi di mana warga negara Indonesia tidak bangga sebagai bangsa Indonesia, pudarnya gotong royong dan solidaritas serta tersingkirnya kebudayaan lokal sebagai akibat dari politik penyeragaman. Visi dan misi Jokowi juga dibuat karena ingin mengembalikan penyelesaian persoalan bangsa melalui cara ideologi. “Sebenarnya nawacita itu sebagai akibat dari penjabaran daripada Trisakti Bung Karno,” tambahnya. 

Dalam panel kedua, berlaku sebagai pembicara yaitu Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan mahasiswa Ilmu Administrasi UNY, Ikhsanudin Muchlis. Ganjar Pranowo menjelaskan bagaimana warga Negara Indonesia harusnya bersikap dalam mewujudkan Revolusi Mental, yaitu masing-masing individu harus bisa “move on” dari sifat koruptif menjadi transparan. Ganjar Pranowo juga menjelaskan bahwa perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri. Selain itu, Ganjar Pranowo juga menjelaskan bagaimana konsep yang ia pakai dalam memimpin Jawa Tengah, “Rakyat Jawa Tengah setiap hari bisa berkomunikasi dengan saya melalui Twitter,” jelas Ganjar Pranowo. 

Acara Seminar Nasional ini ditutup dengan pemaparan mengenai “Pemimpin Transformasional di Era Revolusi Mental Menuju Visi Indonesia Sejahtera” yang disampaikan oleh mahasiswa Ilmu Administrasi Negara Universitas Negeri Yogyakarta, Ikhsanudin Muchlis. Dalam pemaparannya, ia mengatakan bahwa gagasan Revolusi Mental adalah sebuah ajakan untuk segera melakukan perubahan etos kerja. Selain itu, dalam pemaparannya, ia juga menjelaskan tentang perbedaan negara maju dan berkembang, juga tentang pemimpin yang transformasional. Menurutnya, untuk mengubah bangsa Indonesia dari bangsa klien menjadi bangsa yang modern, Indonesia membutuhkan pemimpin yang transformasional, yaitu pemimpin yang mampu membawa perubahan positif dan berpengaruh terhadap peningkatan kerja. Ia juga menambahkan, bahwa perbedaan antara negara maju dan berkembang bukan diukur dari umur atau kekayaan sumber daya alam suatu negara, namun diukur dari kedisiplinannya. 

Ketika ditemui di ruang transit setelah acara selesai, Ikhsannudin Muchlis selaku pembicara menjelaskan bahwa dengan diselenggarakannya acara Seminar Nasional seperti ini nantinya para peserta yang mengikuti Seminar Nasional diharapkan mampu untuk lebih paham apa itu Nawacita, dan tidak lagi menjadi mahasiswa yang apatis ketika sudah keluar dari ruangan seminar. “Mahasiswa yang benar-benar kritis dengan keadaan sekitarnya justru sedikit gitu, kalo ditanya sering menjumpai atau tidak itu justru lebih banyak,” tambah Ikhsan.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar