Melepas Memori



Oleh Asri Hakiki Hakdi

Dan di suatu hari kita bertemu kembali, di tempat yang berbeda dan waktu yang berbeda, yang tak berubah hanya perasaanku padamu. Aku melihat kilatan kaget di matamu yang beberapa detik kemudian berganti menjadi sebuah senyum hangat, sama seperti saat pertama kali kita bertemu. Aku membalas dengan senyuman terbaik yang tak pernah aku berikan kepada orang lain selain dirimu, hanya saja kau tak akan pernah menyadarinya.

Kau mengulurkan tanganmu untuk berjabat tangan, aku ragu, aku takut, bila hanya dengan melihatmu saja seluruh perasaanku kembali terusik, bagaimana jika indra perasaku bersentuhan denganmu? Kuberanikan diri untuk mengangkat tanganku dan bersentuhan dengan jari jemarimu, seketika seluruh kotak memori kembali terbuka, tetapi segera kututup paksa kotak memori tersebut. Kau bertanya “Bagaimana kabarmu?” Aku menjawab dengan kebohongan yang sering kali diucapkan semua orang “Aku baik.”

Tentu saja aku takkan pernah mengatakan hal sejujurnya bahwa aku tidak baik-baik saja bertemu denganmu, karena bertemu denganmu sama artinya dengan menghamburkan semua memori yang sudah lama kususun dan kusimpan di ruang terdasar hatiku dan itu berarti aku harus kembali menatanya dari awal. Bukankah itu melelahkan? Kau bisa saja menyembunyikan perasaanmu, tapi logikamu takkan pernah membiarkan kau lupa akan perasaan yang tesimpan itu.

Kita duduk di sudut kafe dekat jendela, saling bertukar kepingan cerita hidup, aku kembali melihat sosok dirimu yang dulu, mata yang selalu memancarkan harapan dan impian masa depan, hal yang selalu kusukai, tiba-tiba ponselmu berbunyi menandakan datangnya sebuah pesan. Segera kau melihat layar di ponselmu dan seketika tersenyum, senyum yang tak pernah kau perlihatkan padaku, senyum dengan binar mata yang tak akan pernah bisa dijelaskan, senyum yang serupa dengan senyuman yang selalu kuberikan padamu. Tiba-tiba kau mengalihkan pandanganmu dari layar ponselmu, kau menatapku dan berkata “Tunanganku sudah menungguku, maaf aku harus segera pergi." Kau mengucapkan hal tersebut dengan senyum yang tetap terukir di bibirmu, aku mengangguk dan tersenyum, segera kau bangkit dan pergi meninggalkan kafe, aku hanya bisa melihat punggungmu semakin menjauh, kemudian hilang di balik kumpulan orang yang berlalu-lalang.

Tanpa sadar genangan air dari mataku perlahan menuruni pipiku lalu mendarat di taplak meja kafe, aku melihat air itu meresap ke dalam tekstur kain lalu perlahan-lahan memudar dan mengering. Kupikir proses tersebut sama dengan perasaan kita, semua bekas yang ditinggalkan setiap orang yang singgah di hidup kita cepat atau lambat pasti akan terhapuskan, Sama halnya dengan bekas yang kau tinggalkan di hatiku akan terhapuskan entah oleh waktu maupun oleh orang yang pantas menggantikannya. Seketika kesadaran mengetuk logikaku dan kini aku menyadari bahwa aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu tapi aku justru lupa berdoa untuk kebahagiaanku sendiri. Aku tersenyum, kuusap sisa air mataku dengan jari-jariku, lalu aku berdiri dari kursi bersiap meninggalkan kafe beserta kepingan memori tentangmu.


Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar