Kantin Hilang Gedung Baru Pun Datang



Di setiap universitas ketika memasuki tahun ajaran baru selalu ditandai dengan munculnya mahasiswa baru. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sebagai salah satu kampus swasta yang cukup diminati juga merasakan hal yang sama. Bertambahnya mahasiswa baru juga berakibat pada harus meningkatnya fasilitas bagi mahasiswa itu sendiri. Tentunya apa yang mereka bayar harus sebanding dengan apa yang mereka terima. Hal ini membuat pihak kampus UMY membuat kebijakan dengan penambahan gedung baru dan banyaknya mahasiswa yang sudah memasuki tingkat akhir mendapatkan kelas kuliah malam. 

Dengan dibangunnya gedung baru tentu pihak kampus membutuhkan lahan luas, karena UMY berada di kawasan padat penduduk tidak serta merta membuat kampus bebas membeli lahan mereka. Dengan kurangnya lahan untuk membangun gedung baru, pihak kampus akhirnya mengambil keputusan dengan akan menggusur dua kantin mahasiswa yaitu kantin selatan dan utara. Para pedagang diberi waktu tiga bulan untuk mempersiapkan penggusuran, yang sungguh ironis adalah mereka tidak diberi kepastian relokasi atau pengembalian tempat jika nanti gedung baru sudah selesai dibangun. 

Saya sebagai salah satu mahasiswa UMY sendiri merasa sedih dan bingung. Kenapa? Karena kantin adalah tempat di mana saya dan beberapa teman bisa mendapatkan makanan yang murah dan mengenyangkan. Jujur saya adalah mahasiswa dari kalangan menengah ke bawah. Dengan uang saku pas-pasan setiap minggu tidak memungkinkan saya untuk makan di kafe dan beberapa restoran mewah lain. Kantin adalah tempat menjual makanan yang sesuai dengan kantong mahasiswa seperti saya. Selain murah dan pilihan menu yang banyak, kantin juga menawarkan keramahan dan keakraban. Suatu ketika saya dan teman saya Wira berniat makan di kantin, tetapi berhubung hari Jumat dan uang mingguan kami belum dikirim maka kami berniat ingin memesan minum saja, tak disangka Bunda (sang pemilik warung biasa dipanggil) malah menawarkan kami untuk makan tanpa perlu membayar. 

Sebenarnya pihak pedagang kantin sendiri sudah berusaha untuk melakukan komunikasi dengan pihak kampus, namun jawaban yang mereka terima malah semakin membuat mereka resah. “Ya gimana ya mbak, kita udah coba ngomong ke sana. Tapi bukannya penggusuran ini dibatalkan, kita cuma dikasih waktu tiga bulan buat siap-siap. Terus pas ibu tanya kira-kira kalau gedung baru sudah dibangun kita bisa tetap jualan atau enggak, eh malah katanya besok bakal ada seleksi lagi buat pemilihan menu kantin,” tutur salah satu pedagang di kantin selatan. 

Jika dari sisi pedagang jelas mereka akan kehilangan mata pencaharian mereka dengan digusurnya kantin. Padahal sebagian besar dari pedagang yang berjualan di kantin adalah ibu-ibu. 80% dari mereka benar-benar menggantungkan hidupnya dengan berjualan di kantin. Terlebih juga banyak dari mereka yang janda dan mencari nafkah untuk menyekolahkan anak mereka hanya dengan berjualan di kantin. Bukan hanya akan berakibat pada bertambahnya pengangguran, tetapi juga banyak dari anak-anak pedagang tersebut pasti akan mengalami kesulitan dalam dana pendidikannya ketika sumber rezeki dari ibu dan ayah mereka digusur. 

Meskipun sekarang kantin secara resmi belum ditutup namun dengan adanya proses pembangunan gedung baru omset kantin juga menurun karena proyek tersebut menutup akses menuju kantin selatan. Ini terlihat dari jumlah mahasiswa yang makan di kantin semakin sepi dari hari ke hari, karena banyak dari mahasiswa baru yang tidak tahu letak kantin karena tertutup oleh proyek. “Sebel juga tiap mau ke kantin harus lewat jalan sempit yang lumayan berdebu gara-gara proyek gedung baru, tapi mau gimana lagi cuma kantin yang nawarin makan kenyang, enak dan harganya murah. sepuluh ribu rupiah aja udah kenyang banget kalo makan di kantin. Agak bingung juga besok kalo kantin ditutup, mahasiswa kayak aku di mana lagi bisa makan dengan duit segitu. Enaknya lagi kalo pas lagi enggak ada uang, bisa ngutang dulu, di tempat lain mah mana bisa,” ucap Nita salah satu mahasiswa yang tidak setuju kantin ditutup. 

Selain bisa “ngutang” ada hal lain yang kita dapatkan ketika makan di kantin yaitu kita dapat langsung berkomunikasi dengan penjual secara langsung. Makanya banyak dari pedagang kantin yang memiliki panggilan akrab dari mahasiswa seperti Bunda, Tante Pirang, Mbok dan lain-lain. Hal ini membuktikan bahwa mereka bukan hanya sekadar pedagang yang berjualan makanan tapi sudah selayaknya orang tua pengganti terutama bagi mahasiswa rantau yang mungkin sangat jarang bertemu dengan orang tua mereka. Tentu ini semua tidak akan pernah kita temukan jika kita makan di kafe dan restoran mewah. 

Baiknya dalam mengambil keputusan hendaknya kampus juga melakukan sharing dengan mahasiswa dari setiap fakultas dan jurusan, karena mahasiswalah yang akan menggunakan dan menikmati fasilitas yang ada. Kalau muncul alasan lain seperti penggusuran kantin adalah karena terkesan kumuh dan penuh asap rokok, saya pikir tidak hanya kantin yang penuh dengan asap rokok tempat publik lain seperti lobi dan parkiran juga sering digunakan mahasiswa untuk merokok. Gedung baru memang perlu untuk keberlangsungan fasilitas belajar mahasiswa, tetapi jangan hanya karena itu kita juga mengorbankan nasib masyarakat yang berusaha mencari rezeki dengan berdagang di kampus kita. 

Mungkin solusi yang bisa diambil pihak kampus adalah dengan memberikan ruang terbuka atau tempat yang bisa digunakan oleh para pedagang untuk tetap berjualan dan setidaknya bisa memberikan mereka kepastian apakah mereka tetap bisa berjualan kembali ketika gedung baru sudah selesai dibangun. Harapannya dengan itu semua kita juga bisa mencegah dan mengurangi jumlah pengangguran yang ada di negara kita. Segala sesuatu tidak perlu dimulai dengan hal besar, karena kepekaan dimulai dari hal yang ada di sekitar kita. (ANR)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar