Hari Pangan Sedunia, Apa Kabar Pangan Indonesia?


Tepat 16 Oktober merupakan peringatan Hari Pangan Sedunia yang diresmikan oleh agensi Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) yang menangani tentang pangan yakni Food and Agriculture Organization (FAO) yang didirikan pada tahun 1945. Pada konferensi umum ke-20 bulan November 1979 yang diikuti oleh 150 lebih negara bertujuan untuk meningkatkan kepedulian terhadap masalah kemiskinan dan kelaparan. Gagasan adanya peringatan Hari Pangan Sedunia ini berawal dari seorang delegasi Hongaria, Menteri Pertanian dan Pangan Dr. Pal Romany.

Terlepas dari sejarah adanya peringatan Hari Pangan Sedunia, setidaknya sudah ada kepedulian terhadap pangan oleh dunia. Lalu, bagaimana kepedulian bangsa Indonesia terhadap pangan untuk bangsanya sendiri? Ketika berbicara tentang kepedulian bangsa Indonesia terhadap pangan, tentu kita masih ingat jelas dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang mengimpor besar-besaran bahan pangan. Mulai dari beras yang kemudian memicu fenomena beras plastik, impor daging sapi yang berimbas dengan banyaknya oknum yang menimbun sapi-sapi siap potong diternakkan, dan masih banyak masalah yang menyangkut pangan Indonesia. Apakah ini yang kita sebut dengan kepedulian?

Masalah pangan di Indonesia sebenarnya bukan sepenuhnya tanggung jawab pemerintah, namun karena masyarakat sudah memercayakan kepada pemerintah maka segala aturan serta kebijakan yang mengatur masalah pangan di Indonesia menjadi tanggungjawab pemerintah. Kebijakan pemerintah terhadap impor bahan bukan hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Sejak awal masyarakat memang mengetahui hal tersebut, semisal ketika persediaan beras dalam gudang Badan Urusan Logistik (Bulog) sudah menipis, hal yang dilakukan pemerintah agar tidak kekurangan persediaan beras adalah dengan mengimpor beras dari negara tetangga. Persediaan beras dipengaruhi oleh beberapa masalah yang dihadapi oleh petani Indonesia. Salah satu masalah yang dihadapi oleh petani Indonesia seperti kegagalan panen karena serangan hama, sulitnya sistem pengairan, melonjaknya harga pupuk, kurangnya fasilitas pertanian, keterbatasan modal, biaya produksi tidak sebanding dengan hasil panen, dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan petani Indonesia.

Lagi-lagi kurangnya perhatian pemerintah Indonesia terhadap kesejahteraan petani. Menilik tentang kesejahteraan petani, beberapa hari yang lalu banyak terjadi aksi besar-besar untuk memperjuangkan nasib petani Indonesia melalui peringatan Hari Tani Nasional. Dari berbagai kalangan mahasiswa khusunya mahasiswa Fakultas Pertanian paling kencang menyuarakan nasib petani Indonesia di hadapan pemerintah Indonesia. Menyuarakan nasib petani bukan menjadi tonggak perubahan nasib petani terkait hasil pangan, namun setidaknya sudah ada aksi positif dari kaum muda untuk adanya perubahan khususnya perubahan dalam hal pangan untuk bangsa Indonesia.

Selain faktor kebijakan pemerintah yang terkesan lepas kendali terhadap impor bahan pangan, kita juga perlu melihat seberapa jauh usaha petani Indonesia untuk mendukung agar pemerintah Indonesia tidak terus-terusan mengimpor bahan pangan negara tetangga. Rasanya seperti dijajah bangsa sendiri ketika bahan pangan saja Indonesia harus mengimpor ke negara tetangga. Apa kata dunia? Pandangan dunia dengan Indonesia yang notabene negara agraris hilang begitu saja ketika Indonesia gemar impor bahan pangan. Tentu yang menjadi bahan pertanyaan dunia adalah “Ke mana hamparan sawah dan ladang yang hijau di bumi pertiwi?” Miris mendengar suara sumbang seperti ini. Di sisi lain kegemaran mengimpor bahan pangan khususnya beras perlahan akan mematahkan produktivitas petani Indonesia untuk menghasilkan bahan pahan.

Lahirnya peringatan Hari Pangan Sedunia sebaiknya menjadi refleksi kita masyarakat Indonesia baik pemerintah Indonesia, petani Indonesia, dan kami mahasiswa Indonesia sebagai agen perubahan dan agen pengendali mampu berjalan beriringan dalam menyukseskan pangan Indonesia agar terlepas dari kegemaran impor dan permasalahan pangan yang dipicu dari berbagai macam faktor. “Selamat Hari Pangan Sedunia, berawal dari pangan yang bergizi ciptakan generasi bangsa Indonesia yang lebih berprestasi.” (SLS)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar