Halo UMY!



Halo. Nama saya Unggul. Bukan, bukan Unggul Islami. Saya adalah anak kampung yang tidak paham tentang birokrasi dan sejenisnya. Tetapi, saya cukup paham tentang seluk beluk kampus saya. Saya di sini hanya ingin berujar dan berbagi cerita tentang prestasi, gelar, dan capaian yang berhasil diraih kampus saya. Kampus saya adalah kampus paling kece se-Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Ia dimasuki oleh enam ribu mahasiswa setiap tahunnya dan didiami oleh lebih kurang 19 ribu mahasiswa aktif. Kampus saya megah, dengan AC yang tertempel di setiap ruangannya. Bahkan, bagi orang-orang eksekutif yang mempunyai duit lebih, kampus menyediakan gedung yang sangat eksklusif dan dipisahkan dengan orang-orang biasa. Konon, gedung tersebut hanya bisa dipakai untuk acara-acara mahasiswa yang bersifat internasional. Kampusku memang the best!

Kampus saya sering mendapat perhatian media, nasional maupun lokal. Sering pula menjadi tuan rumah event tingkat nasional, seperti PIMNAS tahun 2012, bahkan kemarin Agustus 2015, menjadi tuan rumah kontes robot tingkat internasional. Bukan main. Saya tidak paham, apakah mereka membayar media dan ketuanrumahan tersebut untuk memositifkan citra kampus atau tidak, semoga saja tidak. Tapi yang pasti, kampus saya memang banyak duit, hasil dari amal usahanya yang sangat banyak dan dari uang pendaftaran ribuan calon mahasiswa yang tidak lolos tes Computer Based Test (CBT) maupun Paper Best Test (PBT). 

Kampusku banyak mendapatkan prestasi dan gelar-gelar. Kampus hijau, kampus investasi, kampus muda mendunia, dan kampus unggul. Oh, maaf, kurang islami. Saya ulangi, ya. Kampus hijau, kampus investasi, kampus muda mendunia, dan kampus unggul islami. Maaf sekali tadi saya lupa menuliskan islaminya. Sungguh terlupakan oleh saya. Yuk, bahas satu per satu.

Prestasi pertama yakni kampus hijau. Bukan, bukan karena cat gedungnya mayoritas berwarna hijau. Bukan juga karena dekat dengan sawah-sawah sehingga dijuluki kampus hijau. Tapi, memang karena banyaknya pohon-pohon yang rindang dan asri sehingga menjuluki kampus saya ini sebagai kampus hijau. Karena itu, kampus saya ini mendapatkan gelar Green Campus dari Indonesia Green Awards yang diinisiasi oleh The La Tofi School of CSR yang berkantor di Jakarta. (Daftar penerima penghargaan bisa dilihat di http://indonesiagreenawards.com/). Bukan main loh, tiga tahun berturut-turut kampus saya mendapatkan gelar ini. Saya tidak paham indikator penilaiannya seperti apa, tapi yang pasti penilainya ini tidak melihat ke setiap ruangan di kampus saya tercinta ini. Berapa banyak AC yang hidup hingga berapa watt daya lampu yang dinyalakan setiap harinya. Bahkan, saya pernah mendengar seseorang yang bekerja di sini, kampus saya membayar ratusan juta hanya untuk biaya listrik bulanan. Husssh! Jangan su’udzon dulu. Ratusan juta untuk membayar listrik itu bukan cuma gara-gara AC dan lampu! Kalian para mahasiswa pasti pernah menggunakan listrik di kampus ini untuk numpang mengecas gawai kalian kan? Jangan munafik deh! Jadi, wajarlah angka ratusan juta dibayarkan kampus ini untuk biaya listrik. Kampus saya kan kaya, jadi, kalau hanya membayar segitu mah gampang. Tolong koreksi kalau saya salah.

Kampus investasi. Apa itu? Jadi, tahun 2015 ini, kampus saya mendapatkan rekor MURI untuk pembuat rekening reksadana syariah terbesar dalam lingkup kampus di Indonesia bekerjasama dengan salah satu perusahaan jasa asuransi. 5000 mahasiswa baru angkatan 2015 kampus ini pasti tahu hal ini. Mereka juga senang, karena ketika penyerahan rekor MURInya mereka didatangi oleh vokalis band terkenal. Cerdas sekali kelabuannya. Mereka, para mahasiswa baru ini diberikan rekening reksadana syariah dengan nominal 100 ribu rupiah per kepala secara GRATIS! Saya tidak paham, apakah 100 ribu rupiah itu kampus yang menalangi seluruhnya, atau hanya sebagian saja. Saya hanya mahasiswa biasa yang numpang kuliah di sini. Kalaupun memang benar, kampus saya yang menalangi seluruhnya, sungguh kaya kampus saya ini bisa menalangi 500 juta rupiah untuk investasi mahasiswa barunya.

Jadi, kalian para mahasiswa baru 2015, jangan cuma senang karena didatangi oleh vokalis band terkenal! Kalian juga harus mengurus rekening reksadana kalian yang sudah dibayarkan oleh kampus! Jangan sampai kampus membuang percuma 500 juta rupiah hanya untuk rekening reksadana nonaktif. Sayang loh, 500 juta rupiah itu duit semua. Duit 500 juta rupiah itu tidak sedikit. Coba kita berhitung sebentar, ya. 500 juta rupiah kalau diberikan kepada masyarakat tidak mampu yang berada di sekitar kampus ini bisa membuat mereka berdaya dan berkehidupan yang layak. 500 juta rupiah kalau diberikan kepada pemerintah desa di sekitar kampus ini, bisa untuk memuluskan jalan-jalan berlubang yang mengitari kampus ini, bukan hanya di sisi baratnya saja. 500 juta rupiah kalau untuk membenahi wifi bisa mendapatkan kecepatan terkencang se-Yogyakarta, mungkin. 500 juta rupiah kalau untuk membeli buku koleksi perpustakaan bisa-bisa kalian mati karena ditimpa buku-buku. Sudah mengerti maksud saya, mahasiswa baru 2015? Yuk, aktif berinvestasi!

Kampus muda mendunia. Saya akui, saya cukup bangga dengan gelar ini. Saya gembar-gemborkan gelar ini ke teman-teman saya di luar kampus ini. Teman-teman saya terlihat antusias dengan kata muda mendunia, walaupun mereka sering memplesetkannya menjadi muda mengakhirat. Kampus ini dimasuki oleh orang-orang luar biasa dengan jiwa muda yang masih berkobar. Semangat mereka belajar di kampus ini perlu diapresiasi. Mereka berharap untuk diajar oleh dosen-dosen bermutu kelas atas yang dipunyai kampus ini. Tapi, karena semangat kampus ini untuk mendunia, kampus ini harus membiayai dosen-dosennya untuk ke luar negeri dalam rangka mendunia sekalian promosi kampus, sehingga membuat mahasiswa yang telah berharapan lebih ini diajar oleh asdos-asdos yang baru saja lulus dan minim pengalaman. Dalam jangka panjang, hal ini bagus. Mungkin lima atau 10 tahun lagi dosen-dosen di sini sudah profesor semua. Mengungguli universitas-universitas di daerah Colombo dan sekitarnya. Namun, dalam jangka pendek, saya kasihan dengan mahasiswa baru yang mempunyai harapan berlebihan. Saya juga tidak tahu solusinya bagaimana. Saya hanya mahasiswa bodoh yang harus puas diajar oleh asdos-asdos minim pengalaman.

Kampus unggul islami. Tenang, kali ini saya tidak lupa menyertakan islaminya. Selain muda mendunia, kampus ini mempunyai gelar unggul islami. Unggulnya sangat terlihat dari mahasiswanya yang banyak sekali mendapat gelar Cum Laude di setiap prosesi wisuda. Selain itu, banyaknya mahasiswa yang exchange ke luar negeri juga melambangkan keunggulan kampus saya ini. Islaminya? Nah, kalo islaminya tergambarkan dari masjidnya yang megah dan superbesar. Selain itu, tergambarkan juga oleh seluruh mahasiswa berjenis kelamin wanita, saya ulangi, berjenis kelamin wanita, yang diwajibkan memakai kerudung. Entah kerudung macam apa, yang penting bagian kepalanya ditutupi. Kebetulan saya pernah mewawancarai petinggi salah satu fakultas di kampus ini, dia berujar islaminya kampus ini tidak hanya bisa dilambangkan dengan mahasiswinya memakai kerudung semua. Tetapi, juga dengan adab, etika, dan norma yang harus ditegakkan. Jadi, ya tarik kesimpulan sendirilah. Katanya mahasiswa muda mendunia unggul islami?

Sebenarnya masih banyak prestasi-prestasi kampus saya yang harus dibahas di sini. Tetapi, cukup dulu lah. Nanti malah semakin banyak mahasiswa baru yang mendaftar di kampus saya ini. Sudah sangat sesak rasanya tempat parkir di kampus saya tercinta ini. Maafkan saya hanya bisa mengkritik tanpa memberi solusi. Saya hanya mahasiswa biasa yang buta akan birokrasi kampus. Saya hanya bisa mengajak para mahasiswa muda mendunia, mana suaramu? Kok diam saja melihat prestasi-prestasi kampusmu? Ayo, muda bersuara! (SAW)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar