Green Campus, Katanya?

Sumber gambar: umy.ac.id
Isu Global Warming nampaknya sekarang tidak hanya sekedar isu belaka. Perubahan cuaca yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak menentu menjadi salah satu efek yang muncul dari sekian banyak dampak lainnya. Global Warming (pemanasan global) merupakan istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan kenaikan rata-rata temperatur pada atmosfer bumi. Sebuah perubahan yang diyakini akan berpengaruh secara permanen terhadap iklim bumi. Namun masih banyak masyarakat yang kurang peduli terhadap peristiwa yang telah membawa bumi pada tahap Warning. 

Untuk itu beberapa tahun belakangan ini, banyak universitas di Indonesia yang mengampanyekan bahkan membangun kampus mereka menjadi kampus yang ramah lingkungan. Mereka berlomba untuk menciptakan ruang terbuka hijau di lingkungan kampus. Berdasarkan dalam data UI Greenmetrics 2014 terdapat 10 perguruan tinggi yang telah memegang prinsip Go Green, di antaranya Universitas Indonesia (UI) pada urutan pertama, Institut Pertanian Bogor (IPB), Univesitas Negeri Semarang (Unes), Universitas Andalas (Unad), Universitas Diponegoro (Undip), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Islam Indonesia (UII), dan Universitas Lampung (Unila). 

Tidak ketinggalan juga Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk pertama kali menerima penghargaan Indonesia Green Award (IGA) pada tahun 2012 dengan kategori Green Campus. Tentunya, penghargaan ini tidak lepas dari keinginan dan komitmen UMY untuk ikut andil dalam menciptakan kampus hijau seperti universitas lainnya. Tidak sampai di situ, UMY selama tiga tahun berturut-turut terus dihujani dengan penghargaan yang kaitannya dengan lingkungan hijau sejak tahun 2012, 2013 dan 2014 oleh Indonesia Green Award (IGA). Prestasi ini pastinya menjadi pendorong yang kuat untuk UMY mampu terus meningkatkan kualitas lingkungan yang baik agar sebuah penghargaan tidak hanya sebagai topeng untuk mencari popularitas universitas saja. 

Di Mana Hijaunya?

Namun, ada hal menarik sekaligus miris ketika kita bangga menerima sebuah hadiah tapi pada kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang diterima. Dalam kurun waktu 2 tahun terakhir, bertambahnya jumlah mahasiswa UMY mendukung naiknya volume kendaraan. Sedangkan lahan parkir yang tersedia pun ikut menyusut. Lahan hijau yang harusnya ada sebagai gambaran kampus yang peduli dengan lingkungan juga perlahan terkikis oleh pembangunan gedung. Ruang untuk merokok pun dibiarkan bebas kapan pun dan di mana pun. Bahkan aturan kini tinggal aturan. Segala sesuatu yang mendukung aktivitas peningkatan pemanasan global justru menjamur di UMY. 

Hal paling menarik untuk disoroti adalah pembangunan gedung baru. Pembangunan ini tentunya mengambil alih lahan yang awalnya digunakan untuk lahan parkir dan jalan utama pun ikut dijadikan lahan pembangunan. Pemandangan yang rapi pun kini berubah 180 derajat. Pembangunan gedung baru ini pun memberikan cerita dan pandangan baru bagi mereka yang melihat UMY sebagai Green Campus. Lahan yang diambil alih untuk pembangunan ini pun tidak tanggung-tanggung hingga ke lahan parkir Fakultas Hukum. 

Selain itu, kepadatan pada lahan parkir ini meningkat secara signifikan. Bertambahnya jumlah mahasiswa baru yang membawa kendaraan membuat tidak hanya lahan parkir yang telah disediakan terisi penuh, namun mahasiswa juga menjadikan jalan utama sebagai tempat parkir. Hal ini dapat dilihat dari lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol). 

Padahal, jika diketahui bahaya dari emisi karbon yang dihasilkan dari pembakaran bensin, solar, kayu, daun, LPG, dan bahan bakar yang banyak mengandung hidrokarbon, yaitu senyawa yang mengandung hidrogen dan karbon. Selain karbon dioksida, gas lain yang dapat memicu emisi karbon di antaranya adalah CFC (Chlorofluorocarbon) dari gas dingin (gas Freon) pada AC, kulkas, cat piloks, obat nyamuk semprot dan hair spay. Di mana bahaya dari emisi karbon ini akan menghasilkan efek pemanasan global pada iklim bumi. Akibatnya, bumi akan menjadi lebih panas. Bahaya yang lebih parah lagi pemanasan global yang terjadi sejak tahun 1990 ini sangat terasa dan mengalami peningkatan hingga saat ini. 

Untuk itu, dibutuhkan kesadaran dari semua pihak untuk mau membangun kesadaran terhadap lingkungan sekitar. Menjaga apa yang telah dicita-citakan dan komitmen yang telah dibangun untuk menjadi kampus hijau merupakan amanah yang harus dijaga bersama. Memulai sesuatu memang mudah namun untuk menjaganya adalah sebuah proses. (Ryu).
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar