Cerita dari Pulau Sebatik untuk Sumpah Pemuda


Oleh: Rofia Ismania

Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda yang diperingati tanggal 28 Oktober, Generasi Bakti Negeri (GBN) Saudara Sebatik 2015 membacakan Sumpah Pemuda, kemudian dilanjutkan aksi pembacaan puisi oleh Komunitas Sastra Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang bertemakan Sumpah Pemuda. Acara tersebut dilaksanakan di lobi gedung D Kampus Terpadu UMY pada Rabu (28/10). Tim GBN juga tergabung dalam aksi tersebut. Tidak hanya pembacaan puisi saja, melainkan ada cerita dari Pulau Sebatik untuk Hari Sumpah Pemuda oleh GBN Saudara Sebatik.


Acara berjalan lancar dengan pembacaan puisi dan cerpen yang mengangkat tema tentang Sumpah Pemuda, terkhusus untuk para pemuda sekarang yang cenderung apatis dengan realitas yang ada. Sumpah Pemuda hanya dijadikan wacana karena telah terlena dengan masa yang semakin canggih. Mahfud selaku koordinator pendidikan mengatakan bahwa mungkin sekarang teknologi semakin canggih, tetapi jangan sampai karena keberadaan teknologi itu kita menjadi orang yang manja. Tidak kita sadari, bahwa di tapal batas antara Indonesia-Malaysia ada semangat yang begitu luar biasa untuk menempuh pendidikan, walaupun memiliki kekurangan dalam akses pendidikan bahkan kecanggihan teknologi belum mereka rasakan.

Masih minimnya pendidikan di perbatasan Indonesia-Malaysia yaitu di Pulau Sebatik masih meninggalkan kenangan bagi Tim KKN tersebut. Mahfud menceritakan tentang anak-anak Sekolah Dasar di pulau tersebut dengan senyumnya berangkat ke sekolah. Mereka setiap hari berangkat dari Malaysia dan sekolahnya berada di Indonesia yaitu dengan berjalan kaki. Membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai ke sekolah. Mereka memiliki semangat yang luar biasa, dibandingkan dengan kita, yang masih mengeluh dengan fasilitas-fasilitas yang serba tercukupi saat ini.

“Setiap pagi mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya tanpa ada yang menyuruh, dengan antusiasnya mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kebetulan program KKN kita salah satunya adalah nasionalisme. Tetapi ketika kita di sana, kita bingung dan malu apa yang harus kita lakukan karena rasa nasionalisme mereka lebih dari nasionalisme kita. Kita malu apa yang harus kita lakukan disana. Akhirnya, salah satu cara kami menanamkan rasa nasionalisme dari dalam diri mereka yaitu dengan mengajarkan budaya-budaya Indonesia seperti tari-tarian, lagu-lagu daerah,” papar Mahfud dalam orasinya.

Mereka bagian dari Indonesia, tetapi mereka tidak tahu tentang budaya Indonesia seperti tari-tarian, lagu-lagu sampai letak pulau-pulau yang ada di Indonesia bahkan mereka juga tidak tahu dimana letak Ibu Kota Republik Indonesia, karena terhalang oleh keterbatasan pendidikan di tempat itu yang masih mereka rasakan saat ini.

Di Mana Pemuda Sekarang?

“Bagaimana perjuangan pemuda di tahun itu, kini kita lihat pemuda di sekeliling kita sekarang masih cuek, apatis. Saya selalu bilang 'The power of powerful is the young people. That is why we have to move in order to make a change for a bettle life.' Jadi kekuatan yang paling kuat di dunia ini adalah kekuatan pemuda. Sumber daya terkaya Indonesia ini bukan dari tambang, emas, dan sumber daya yang lainnya tetapi sumber daya manusialah yang paling kaya di Indonesia. Maka ketika kita membangun sumber daya manusia, maka kita membangun masa depan negara Indonesia. Pesan saya, mahasiswa harus memberikan perhatiannya yang lebih, memberikan sumbangannya secara nyata untuk masa depan bangsa,” papar Deni selaku ketua Tim KKN Sebatik 2015.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar