Berkaca Pada Negara Tetangga : Miskinkan Koruptor

Sumber gambar: pojoksatu.id
Oleh: Rofia Ismania

Hal yang wajar ketika seseorang menyukai uang, mungkin karena gambarnya ataukah warnanya. Tetapi hal yang tidak wajar ketika orang telah memakan uang, apalagi memakan uang rakyat. Banyaknya kasus-kasus korupsi yang menimpa pejabat-pejabat negeri saat ini ataukah kasus-kasus korupsi yang ada di sekitar kita saat ini. Entahlah, kita bukanlah Tuhan yang tahu akan segala hal. Tentu, siapa yang berbuat pasti ia akan bertanggungjawab atas apa yang telah di perbuatnya.

Berkaca pada negara tetangga yaitu Singapura. Di mana Singapura menjadi salah satu negara yang ditetapkan sebagai negara bersih dari korupsi di Asia Tenggara. Menempati peringkat ke 7 dari daftar Indeks Persepsi Korupsi Transparasi Internasional dan Indonesia di peringkat ke 107 dari 175 Negara. Singapura memiliki keyakinan bahwa korupsi tidaklah untuk diberantas, melainkan yang ada hanyalah miskinkan para koruptor. Apalagi untuk mencegah, pencegahan korupsi hanya sebagai alasan untuk kepentingan-kepentingan sepihak saja. Tidak dipungkiri seseorang bisa berubah seiring dengan jabatannya. Semakin tinggi pohon itu tumbuh ke atas, semakin banyak pula angin yang meniupnya, sama halnya dengan semakin tinggi jabatan yang mereka miliki, semakin banyak pula godaan-godaan yang akan mereka hadapi. Dan kebanyakan jika dilihat dari pejabat-pejabat atau para petinggi tidak kuasa menahan godaan itu. Alhasil, tinggallah mereka di balik jeruji besi. Tetapi sepertinya jeruji besi bukanlah penghalang mereka untuk tidak berbuat hal yang sama lagi.

Awal Mula Korupsi

Menurut Ridwan dan Wijayanto dalam bukunya Korupsi Mengorupsi Indonesia, Korupsi dalam sejarah manusia bukanlah hal yang baru. Ia lahir berbarengan dengan umur manusia itu sendiri. Ketika manusia hidup bermasyarakat, di sanalah awal mula terjadinya korupsi. Di Indonesia sendiri, korupsi mulai terjadi sejak jaman kerajaan. Bahkan VOC bangkrut pada awal abad ke-20 akibat korupsi. Hal ini juga terjadi pada masa orde lama, bahkan memasuki awal orde baru pun korupsi semakin merajalela. Pada masa orde baru yang awalnya pemerintahan di tangan Presiden Soeharto, yang berupaya untuk memberantas korupsi. Tetapi di sisi yang bersamaan Soeharto tumbang karena isu korupsi. Korupsi memang tak bisa dianggap enteng, bisa saja koruptor saat ini bersembunyi di balik sarung kepemimpinan, kekuasaan, atau bahkan kewibawaan. Siapa yang tahu. Saat ini, semakin banyaknya angka korupsi, yang dilakukan pejabat tinggi sampai pejabat daerah atau bahkan kalian sendirilah selanjutnya?

Hukuman Yang Seperti Apa?

Hukum di Indonesia memang tumpul ke atas tajam ke bawah. Hukuman penjara bagi koruptor hanya 10-15 tahun penjara. Tak sebanding dengan hukuman bagi pencuri sandal seharga lima puluh ribu rupiah, atau bahkan nenek pencuri kakao. Itu bukanlah hukuman yang sebanding dengan apa yang telah mereka perbuat. Merugikan banyak orang dan mementingkan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum itulah moral koruptor. Mereka para koruptor, tentunya harus diberikan hukuman yang seberat-beratnya, hukum sampai mereka jera, hal yang penting adalah miskinkan para koruptor-koruptor negeri. Karena dengan itu wewenang mereka akan kekuasaan hilang, dan akan beralih untuk rakyat. Berkaca pada negara tetangga menciptakan negara Indonesia yang rentan terhadap korupsi. Dan memulai dari diri sendiri untuk menciptakan suatu perubahan.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar