Surat Terbuka untuk Panitia Mataf UMY

Sumber Gambar: blogobisnis.com

Assalamualaikum.



Perkenalkan, anggap saja nama saya Budi. Saya manusia, sudah itu saja, tidak membawa nama belakang Sitompul, Xiao-lung atau embel-embel marga suku apapun. Saya takut dianggap rasis jika kemudian seseorang di antara antum mendapati saya adalah oknum yang sudah ditunggangi golongan tertentu untuk mengompori isu rasisme di tubuh kampus yang unggul dan islami ini. Meskipun dalam proses ini saya sempat didesak untuk tidak terlalu blak-blakan terhadap kemunduran berpikir di tubuh mahasiswa. Tidak bisa tidak, sudah tanggung jawab moral saya dan antum yang terpelajar ini untuk sama-sama belajar tentang Pancasila, agar di kemudian hari, Mataf dengan tendensi pembodohan macam ini tidak terulang lagi.

Apa yang saya tulis ini murni untuk menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Sudah semestinya saya yang berstatus mahasiswa seperti antum peka terhadap isu yang tidak bisa dianggap sepele. Apalagi jika isu yang sensitif seperti ini terjadi di tubuh universitas yang kita tahu sempat masuk universitas swasta terbaik di Indonesia. Artinya, UMY yang digadang-gadangkan sejak dulu kala sebagai kampus unggul adalah universitas berkualitas, yang menampung mahasiswi-mahasiswa kaya literatur, tidak hedonis, dan pro-rakyat tentunya. Namun sungguh disayangkan, apa yang terjadi beberapa waktu lalu benar-benar membuat saya kecewa tentang kedalaman berpikir teman-teman panitia Mataf di UMY. 

Soal persepsi, jelas itu hak antum sebagai manusia. Antum merdeka sebebas-bebasnya. Antum bebas murka terhadap tulisan saya ini, atau jika antum berpikir, justru antum bisa ambil pelajaran dari tulisan ini. Yang jelas, antum ini mahasiswa cerdas dan sudah dewasa, apalagi jika sudah diamanati sebagai panitia yang mana membawa adik-adik kita untuk mengenal apa itu kampus muda mendunia dan unggul islami. Tentu sikap yang antum ambil harusnya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan matang dan sangat hati-hati. 

Pertama, bagaimana saya bisa tahu antum ini mahasiswa cerdas. Bicara soal teknis, pada jaman saya dulu, masuk UMY tidak terlalu sulit, karena UMY ingin cepat-cepat laku kemudian menaruh standar ujian masuk tidak terlalu tinggi. Oleh sebab itu, mengapa mahasiswa bodoh seperti saya ini bisa masuk. Tidak seperti sekarang, menurut Biro Akademik, mahasiswa baru tahun ini berjumlah 5400 jiwa yang mana jumlah itu menurun dari tahun sebelumnya. Semua itu tentunya bukan karena UMY sudah terlalu penuh, lihat saja rasio dosen dan mahasiswanya, masih imbang. Semua itu tentu didasarkan karena UMY sudah sadar bahwa kualitas adalah hal yang penting, dan mungkin itu penyebab mengapa jumlah mahasiswa baru tahun ini lebih sedikit, yaitu kualitas, bukan kuantitas. Sedikitnya mahasiswa baru yang diterima bukan karena SPP yang sudah terlalu mahal, kemudian anak-anak desa tidak bisa berkuliah di kampus yang maha unggul ini. Namun, karena UMY sudah mementingkan KUALITAS. Kesimpulan saya, antum ini mahasiswa berkualitas yang sedang dicari-cari kampus macam ini.

Kedua, mengapa saya tahu antum ini mahasiswa yang paling cerdas. Sekitar beberapa hari yang lalu, saya mendengar bahwa ada kisruh di salah satu fakultas sewaktu technical meeting untuk pelaksanaan Mataf. Semua itu disebabkan karena ada salah satu panitia dengan keterlaluan polos menyebutkan salah satu merk mie dengan sebutan, (maaf), “Mie yang keritingnya seperti rambut orang timur ketumpahan minyak.” Bagaimana ya bung, saya saja yang bukan orang timur geram dengan lelucon yang terlalu dipaksakan seperti itu. Mungkin antum ini pernah datang dari satu kafe ke kafe lain untuk melihat stand-up comedy yang kata orang masa kini adalah humornya orang cerdas. Humor dengan derajat paling tinggi. Tapi, mungkin itulah yang selama ini disebut sebagai humor dengan derajat yang paling tinggi, harus menyinggung ras. Bagaimana saya yang terlalu serius dan bodoh ini bisa paham dengan lelucon ente

Tapi sebagai manusia, sebagai mahasiswa, dan sebagai orang Indonesia, tentu lelucon macam tadi tidak bisa dianggap lucu. Bukan karena orang Indonesia tidak punya selera humor cerdas seperti antum, melainkan rasa pluralisme nenek moyang yang ditanam di masing-masing tubuh kami kemudian menanggapi hal tersebut tidak bisa didiamkan. Harus dijadikan pelajaran dengan kepala dingin oleh kita, bahwa kita sejatinya adalah saudara sedarah. Tidak boleh pecah oleh hal apapun, apalagi atas dasar kebencian dan paradigma jongkok, bahwa salah satu ras lebih rendah dibanding ras yang lain. 

Oh iya, mungkin saya lupa antum khilaf tidak mengoordinasikan aturan tersebut kepada pihak yang memangku kebijakan, seperti BEM KM atau dekan jurusan misalnya. Lantas, di sini saya merasa heran tentang siapa harus mengoorsidinasi siapa, apakah BEM KM sebagai eksekutif mahasiswa tertinggi yang ambil inisiatif atau sebaliknya. Yang jelas, nasi sudah menjadi bubur, selagi Tuhan Maha Pengampun, sebagaimana disebutkan pada surat At-Tahriim ayat 8. Tentu antum sudah belajar agama, apalagi universitas antum punya standar sendiri tentang baca tulis Al-Qur’an, pastinya antum sangat paham. Soal bagaimana antum mengimplementasikan ajaran-ajaran di dalamnya, itu urusan pribadi antum dan Tuhan antum. Bagaimana antum memberi contoh kepada adik-adik mahasiswa apa itu arti khilaf. 

Yang tau niat hati antum itu hanya Tuhan dan antum sendiri. Saya pribadi sudah khuznudzon dengan apa yang antum lakukan kemarin lalu. Saya berpikir, mungkin antum punya niatan untuk mempersatukan lagi rasa nasionalisme di fakultas antum. Buktinya ada yang tersinggung dengan penyataan tersebut. Itu menunjukan rasa nasionalisme yang besar di kalangan mahasiswa di fakultas antum. Hanya saja antum mencoba cara yang tidak seperti biasanya. Soal bagaimana pendapat orang itu tak usah dihiraukan, yang penting antum sudah lillahita’ala dan dari kejadian kemarin semua bisa diambil hikmahnya. Luar biasa, antum memang cerdas!

Lalu, sebenarnya siapa saya ini. Dengan semena-mena menyebarkan tulisan yang terserah bisa antum anggap merupakan bentuk provokasi atau malah pembelajaran. Media di kampus ini sudah terlalu baik, tidak menggembar-gemborkan berita yang tidak layak untuk disebarluaskan. Bukan lantaran takut digebuk oleh atasan, melainkan ingin menciptakan suasana nyaman di kampus. Bukan lantaran ingin dianggap berlebihan, tapi ingin lebih memanjangkan pikiran dengan segala pertimbangan yang kelewat matang. Saya hanya orang Indonesia yang kebetulan sempat belajar pendidikan kewarganegaraan. Saya mahasiswa yang kebetulan lebih beruntung dibanding teman-teman yang tidak bisa kuliah. Oleh sebab itu, saya merasa malu apabila diam saja padahal sudah melihat dan membaca banyak ilmu. Saya malu terhadap mereka yang tidak bisa berbuat apa-apa, sedangkan saya bisa. 

Oleh sebab itu saya merasa perlu untuk menulis dan menyebarluaskan tulisan ini, agar semua kalangan kampus, tidak terkecuali mahasiswa baru dapat mengetahui bahwa kita tidak baik-baik saja dari segi berpikir untuk menghargai keberagaman. Dengan harapan kita tidak kemudian mengulangi kejadian yang sama. Oleh sebab itu, jika antum menyadari bahwa tulisan ini adalah bentuk pembelajaran, setidaknya antum bisa menyebarluaskan tulisan ini.

Saya, Budi orang Indonesia, dan segenap teman-teman yang kemarin merasa tersinggung, kiranya ingin meminta maaf apabila terlahir keriting, tidak putih mulus seperti kalian yang entah bagaimana caranya kalian bisa merendahkan kami. Kami minta maaf sudah jauh-jauh datang ke pulau kalian untuk menuntut ilmu dan belajar Pancasila. Kiranya kalian tidak merasa nyaman kepada kami, tolong katakan dengan cara-cara yang lebih beradab. 

Wassalam.

-Budi, orang Indonesia

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 comments:

  1. Hai Budi, aku sangat takjub dengan tulisanmu. Aku buatkan surat untukmu juga sayang. :) Mohon dibaca yah :*

    http://docdro.id/QfGOv7T

    ~

    BalasHapus
  2. Hingga hampir sebulan dilalui, suratku tak kunjung dimuat dalam mediamu bud :) . Tak perlu ku sesali, setidaknya ku paham ke mana media ini berlindung dan berperang. Terima kasih untuk admin, karena mungkin tulisanku terlalu sampah. Bahkan jika admin memang diselimuti dengan ketakutan, aku perbolehkan kau memperkosa tulisanku dengan mengatasnamakan yang lain. Setidaknya jangan benar-benar membunuh tulisanku dan menenggelamkannya dari masyarakat yang masih polos, terutama kampus islami mu, bud. Salam kebaikan :)

    BalasHapus