MEA: Mari Berdaya untuk Bersaing dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN


Pada Rabu, (16/9) Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bekerjasama dengan Direktorat Jendral Kerjasama ASEAN dan Kementerian Luar Negeri menyelenggarakan kuliah umum mengenai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan dimulai pada 31 Desember 2015. Kuliah umum yang bertempat di Gedung AR Fachrudin B dibuka oleh Rektor UMY, Dr. Bambang Cipto, S IP. M.A serta dimoderatori oleh Dian Azmawati, dosen dan koordinator Prodi HI untuk kelas internasional. Pembicara utama pada kuliah kali ini, yakni Nur Azizah selaku Ketua Jurusan sekaligus dosen Hubungan Internasional UMY, Ardi Pramono, dokter spesialis anestesi dan dosen Prodi Kedokteran Umum UMY, Ina Hagniningtyas Krisnamurthi selaku Direktur Jendral Kerjasama Ekonomi ASEAN, dan Ramdani Sirait, seorang Counselor Communication and Partnership for Sustainability Specialist. 


“ASEAN Adalah Kita,” inilah yang menjadi tema dari kuliah umum kali ini. Nur Azizah menuturkan adanya MEA membentuk kesepakatan antar negara anggota tentang nilai-nilai yang berguna untuk melahirkan identitas ASEAN yang lebih beradab. Adanya MEA juga berawal dari adanya tantangan negara-negara besar seperti Tiongkok dan India yang memaksa negara-negara di kawasan Asia Tenggara ikut besar juga. Namun, hal ini tidak dapat terjadi jika negara berjalan sendiri, karena itulah MEA ini digagas. Nur Azizah juga menambahkan upaya yang perlu dilakukan oleh pemerintah demi keberlangsungan MEA di Indonesia adalah dengan meningkatkan kualitas SDM, dengan cara kerjasama pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Selaku pemerhati perempuan, Nur Azizah percaya bahwa motor dari pembangunan suatu negara adalah kualitas perempuannya. 

Ina Hagniningtyas Krisnamurthi, membuka kuliahnya dengan menayangkan video klip musik beraliran rock dengan judul “Marabahaya”. Lagu tersebut menggunakan 4 bahasa, yakni bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Inggris-Filipino, dan bahasa Thailand. “..itulah ASEAN..” ujar Ina setelah video klip selesai mengartikan bahwa negara anggota ASEAN berasal dari etnik, suku, budaya, bangsa yang berbeda-beda, namun semua dapat bersatu sebagai satu masyarakat ASEAN. Ina kembali memaparkan, bahwa masyarakat ASEAN bukanlah mengenai identitas maupun fisik, namun mengenai suatu proses yang penuh kepentingan-kepentingan. Berdasarkan fakta sejarah, ASEAN terbentuk bukan karena adanya kesamaan identitas antar negara anggotanya, namun pada masa itu negara-negara di kawasan Asia Tenggara tersebut butuh teman untuk berpolitik. Kritik terhadap berjalannya ASEAN selama ini adalah, ASEAN terlalu berorientasi pada pemerintah, tidak melibatkan rakyatnya. Kemudian, sejak 2007, ASEAN mulai melibatkan rakyat dalam setiap kegiatannya, hingga lahirlah gagasan Masyarakat ASEAN di tahun 2008, dan direalisasikan di akhir tahun 2015. 

Berbicara soal MEA pastinya sampai pada pertanyaan “Siapkah Indonesia untuk MEA?” dan "Siapkah masyarakat kita untuk bersaing dengan masyarakat asing?” Secara lugas Ina menjawab dengan ada atau tidaknya MEA, Indonesia akan bergerak menuju perekonomian global, bersaing dengan negara-negara yang jauh lebih kuat seperti Amerika Serikat dan Tiongkok. Adanya ASEAN dan MEA justru menjadi pertahanan pertama Indonesia dalam menghadapi angin perubahan tersebut. Memang, Indonesia masih dilanda kemiskinan, pengangguran, dan kualitas SDM yang rendah, namun dengan ada atau tidaknya MEA, masalah-masalah tersebut akan tetap ada dan menjadi permasalahan bersama. 

Justru, Ina kembali memaparkan, MEA dengan konsepnya yang tidak mengambil jalur diplomasi ekonomi namun diplomasi pembangunan, akan membantu pembangunan ekonomi di Indonesia. “Pada saat ada pasar bebas dan basis produksi tunggal, diharapkan ada tingkat competitiveness yang tinggi. Dengan tingkat competitiveness yang tinggi, diharapkan ada pembangunan ekonomi yang merata dan berkeadilan. Pada saat itulah kita bisa berintegrasi dengan ekonomi global. Apakah selesai? Tidak karena ini siklus dan akan terus berputar,” ujarnya. Secara ringkas, Ina mengatakan Indonesia butuh dua kata bila ditanya kesiapan apa saja yang diperlukan. “Daya Saing, kalau kita berdaya maka kita dapat bersaing. Kita bersaing kalau kita berdaya.” 

Ina juga memaparkan data bagaimana Indonesia yang masyarakat diketahui banyak dijajah asing, juga menjajah perekonomian di kawasan Asia Tenggara. Di satu pihak Indonesia terjajah tapi di waktu yang sama Indonesia juga menjajah. Dibuktikan dengan beberapa merek lokal yang sudah mendunia seperti J.Co, LEA Jeans, Polygon, Kebab Turki, Maicih, dan lain sebagainya. Sehingga, masyarakat Indonesia tidak perlu rendah diri dengan masyarakat asing, karena kuncinya adalah daya saing, berdaya untuk bersaing. Bukan bersaing dengan MEA, namun bersaing dengan teman maupun tetangga sendiri. 

Kuliah dari Direktur Kementerian Ekonomi ASEAN ini diakhiri dengan video parodi dari AADC 2014 buatan siswa SMA, bercerita tentang percakapan LINE antara Rangga dan Cinta tentang MEA yang membuat tawa seluruh peserta kuliah umum. (LR) 
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar