Elegi Permulaan

Sumber gambar: sudiana1526.wordpress.com
Syahdu dan merayu
Sebuah suara tanpa lagu
Seperti désir angin yang layu
Seolah tanpa ada nyawa dalam ragu

Ku kira aku sudah hilang
Terbawa oleh jemari malaikat dalam ilalang
Ku kira aku sudah tiada
Terbawa oleh kuasa takdir yang ada

Aku ingat tergeletak tanpa nyawa di sebuah sawah
Yang mulai sesak atas pembangunan cosmopolitan
Yang mulai kering tanahnya haus akan perairan
Aku ingat betul mereka datang dengan amarah

Memukulku dari belakang juga depan
Dari arah barat sebagai kiblat
Menendangku mengusir dari kehidupan
Dari arah timur sebagai permulaan

Mereka menghajarku tanpa henti
Mereka tau aku hidup sebagai saksi ilahi
Atas ladang sawah yang tergerus karna birahi
Hingga ku merasa sebuah elegi terlucuti

Kueratkan ikatan caping yang sudah kusut
Kuhapuskan segala debu dalam baju lusuh
Aku kini berdiri untuk mengusut
Memulai sebuah perlawanan untuk musuh

Elegi ini bukanlah sebuah akhir
Aku bergerak atas kemuliaan dan nurani
Kaulah yang akan berakhir
Permulaan hidup yang damai atas para petani

Kini coba memulai bangkit
Bersamaan dengan cangkul ku raih
Aku berjalan tanpa gumpalan rasa sakit
Mencoba berani membawa hati yang perih

Yogyakarta, September 2015

Oleh:
Nash

Untuk:
#SalimKancil dan para kaum perlawanan yang bergerak

dalam jalan kebenaran. Resistensi tak pernah mati!
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar