Sekte Kunang-Kunang




Oleh Z.Hilmi

Bunga-bunga kamboja busuk berserakan. Kuning putih kecoklatan dihampar bebas di sepanjang jalan selebar tiga meter menuju batas gelap yang samar. Anouk mengarahkan sinar senter ke ujung jalan, terlalu jauh sehingga hanya menemukan gelap yang panjang. Langit mendung. Bulan masih sembunyi di balik awan gelap tak menyisakan satupun cahayanya ke bumi. Kegelapan benar-benar diperangkap abadi di tengah pemakaman ini. Entah entitas apa seolah sengaja mencuri segala jenis cahaya yang ada. Anouk masih berjalan tanpa ragu di antara pohon-pohon kamboja tua di kedua sisi jalan yang memperhatikannya diam-diam.

Tibalah ia di depan gerbang setinggi tiga meter yang dirangkai oleh batang-batang besi tua berkarat. Tidak dikunci seperti biasa, sebagaimana ia terakhir berkunjung ke pemakaman tua ini.

“Kau yakin di sini tempatnya?” Tanya gadis di belakang Anouk.

“Kau diam saja,” balasnya. “Akan kutunjukan sebuah pertunjukan yang tak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu,” Anouk membuka gerbang yang kelihatan berat itu, suara besi berkarat saling tumbuk terdengar dari engsel-engselnya. 

“Ayo masuk,” kata Anouk

“Jangan gila, kau tidak tahu ini pemakaman apa?” 

“Aku tahu. Jangan pedulikan cerita-cerita itu, Donna. Mereka tidak tahu apa yang tersembunyi di pemakaman ini,” Anouk tersenyum mencoba meyakinkan.

Donna dengan wajah ragu melihat ke belakang. ia melangkah menjauhi Anouk, Ingin kabur dari lelaki gila nyali yang baru dikenalnya seminggu lalu. Jika tahu begini, aku tidak akan mengajaknya berkenalan. 

“Aku tidak percaya padamu,” Donna melangkah mundur.

“Jangan pulang tanpaku, atau kau akan menyesal, ingat itu,” wajah Anouk berubah menjadi serius. “Lagipula aku yang satu-satunya bawa penerangan di sini,” sambil menunjukan senter di tangannya.

Donna tak ingin ambil risiko, ia mengangguk.

“Baik, sekarang jam berapa?”

Donna mengangkat tangannya, mencari satu tombol di salah satu sisi jam digitalnya, neon redup menyala menunjukan angka-angka pada jam. “Sekarang pukul satu lewat 45 menit.”

“Sebentar lagi,” senyum aneh mekar lagi di wajahnya.

Berpetak-petak batu tegak disebar secara teratur di lahan luas. Sebuah batu besar berdiri kokoh tepat di tengah-tengahnya dengan ukiran-ukiran yang tak terlalu jelas. Anouk berjalan di depan Donna yang sejak dari pintu masuk sudah memegangi tangan kerasnya dengan erat, mengisyaratkan ketakutan tiada tara. Anouk tak merasa takut. ia mencoba memperpendek langkah kakinya. Waspada entah pada apa. Sinar senter masih ia arahkan ke segala penjuru, mencari setapak kecil yang menuntunnya pada sebuah tempat. 

Setelah lima menit berjalan, Anouk berhenti tiba-tiba. Badannya yang besar menumbuk kepala Donna. Anouk mengingat-ingat lagi jalan yang pernah ia lalui. Hujan akan turun, kilat dan gemuruh kecil hadir di atas langit mengusik kesunyian yang mengendap lama di pemakaman ini. Kilat sekejap menerangi seisi pemakaman. Sebentuk gundukan kecil yang terlihat di sebelah Timur lahan mengejutkan Anouk. 

“Di sana!” 

Gundukan demi gundukan ia tapaki hati-hati bersama Donna, menuntunnya naik ke sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi namun seluruh pemakaman dapat dilihat secara keseluruhan dari atas bukit. Mereka duduk di atas bukit.

“Selanjutnya apa?”

“Kita akan menunggu,” kata Anouk

“Sebentar lagi hujan.”

“Kelihatannya seperti itu.”

“Dingin.”

Anouk melingkarkan lengannya ke leher Donna. Dengan tubuhnya yang besar Anouk menghangatkan tubuh Donna yang ringkih seperti balok es yang setengah cair. 

“Donna.”

“Ya?”

“Kau pasti tahu di depan kita adalah korban-korban pembantaian.”

“Aku tahu cerita itu dari penduduk sini.”

“Mereka benar.”

***

Pada suatu malam Anouk sempat lari dari rumah karena suasana rumah yang sedang panas oleh perseteruan kedua orangtuanya. Keluarga yang sedang di ujung tanduk. Pertengkaran disebabkan ayah Anouk berselingkuh dengan bawahannya di kantor. Tertangkap basah ibunya, ayah Anouk membawa wanita ke kamar hotel karena diberitahu temannya.

Anouk lari dari rumah satu hari satu malam, sendirian ke pemakaman Kirkyard yang terletak tidak terlalu jauh dari rumahnya, mencari satu-satunya keheningan. Entah apa yang terjadi setelah itu, yang pasti Anouk berulang kali berkunjung tanpa ada seorang pun yang tahu mengapa. Donna adalah orang pertama yang ia bawa ke pemakaman.

Sebuah pembantaian pernah terjadi di kota ini beberapa dekade lalu oleh Sir George yang kala itu menolak pemberontak keagamaan sebuah sekte yang menuntut penyatuan terhadap kerajaan. Ribuan korban jiwa jatuh dalam satu malam. Mereka diculik dari rumahnya satu-persatu, dan apapun yang mengandung unsur panji putih dengan lambang sayap kunang-kunang yang menjurus pada sekte pemberontak itu akan dibantai. 

Dalang-dalang pemberontakan dan pengikutnya dikumpulkan di sebuah hutan yang jauh dari kota, sebagian besar dipenggal alih-alih tak ingin menimbulkan kepanikan di kota karena suara serdadu tembak. Ada juga yang disiksa sebelum benar-benar dimatikan, jari-jari mereka dipatahkan, telinga mereka diputus sekedar jadi bahan lelucon oleh algojo, betapa lucu penampilan manusia kala bertelinga satu.

Tubuh mereka dikubur dan ditumpuk tak beraturan pada satu lubang besar yang sekarang telah menjadi pemakaman. Nama pemakaman disamakan dengan nama tragedi kala itu, tragedi Kirkyard.

***

“Sudah lewat pukul dua dini hari,” kata Donna. “Kita sedang menunggu apa?”

Tanpa Anouk sempat menjawab, gerimis turun.

“Sudah waktunya,” Anouk beranjak berdiri dari tempat duduk, ia melangkah ke depan membelakangi Donna.

“Waktu untuk apa?” Donna berdiri.

Dari puncak bukit yang menghalangi pemandangan lahan pemakaman, satu persatu cahaya timbul seperti terbit dari horizon bukit. Sebuah pertunjukan hadir di depan matanya, kunang-kunang entah bagaimana caranya menelusup keluar dari tanah di bawah tugu peringatan yang mengukir nama-nama penganut sekte kunang-kunang. 

Ribuan kunang-kunang terbang di atas lahan pemakaman, membentuk rasi yang teratur sebagaimana formasi ikan hering di dalam pasifik. Seolah menari menggambarkan kesedihan dari korban pembantaian, jiwa-jiwa mereka terperangkap pada kontrak yang dibuat sekte itu. Sebuah mitos mengatakan para penganut sekte tersebut membuat perjanjian murni pada legenda roh kunang-kunang bernama Luciolla. Mereka menjual jiwanya. 

“Mitos itu benar,” kata Donna. 

“Ambil senter ini, aku ingin menghampiri mereka,” Anouk menyerahkan senter kepada Donna.

Tiada sepatah kata pun keluar dari mulut Donna, kata-katanya habis oleh pemandangan indah di depan matanya. Wajahnya disiram semburat cahaya kuning, juga rerimbun pepohonan tua di pemakaman.

Dari atas bukit, Donna melihat Anouk mendekat ke bawah gerombolan kunang-kunang. Seolah ingin menyampaikan sesuatu, Anouk membuka telapak tangannya. Segerombolan kunang-kunang seketika membuat formasi yang berubah-ubah dengan cepat, sangat bising. Mereka berdua seolah berkomunikasi. 

Donna yang masih di atas bukit, mencoba mendekati Anouk. Segerombolan kunang-kunang makin bising dan berubah-ubah bentukya saat Donna mendekat. Sedang hujan makin turun dengan deras, Anouk dengan wajah takjub berdiri kaku dibawahnya. Selang beberapa lama, gerombolan kunang-kunang terbang naik ke atas, diam sebentar dan seketika terjun ke arah Anouk menuju tepat ke dalam tanah.

Gerombolan kunang-kunang hilang di depan mata Donna, seisi pemakaman redup oleh cahaya kuning. Hujan berhenti, tirai-tirai awan disibak oleh angin malam. Bulan keluar dengan cahayanya, seperti telur dengan warna pucat dan Anouk menghilang entah kemana.

Donna menyalakan senter dan mencoba mencari Anouk. Ia panik, Anouk yang sedari tadi ia panggil namanya tanpa sekalipun menyaut mengisyaratkan kehadiran. Donna berlari pulang, ke arah gerbang berkarat. Segala kecamuk diaduk di lambungnya, sebagian besar tanda tanya yang tidak terjawab; ke mana Anouk, apa yang ia lakukan. 

Dua menit Donna berlari menuju gerbang namun tak kunjung sampai. Ia mencari-cari segala penjuru sembari mengingat-ingat dengan keras. Hingga ia teringat kata-kata Anouk. Tangannya lemas, senter di tangannya terjatuh.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar