Mewariskan Tulisan


Oleh:Z. Hilmi

Pram pernah bilang, bahwa menulis adalah pekerjaan untuk keabadian. Harimau boleh meninggalkan belang, tapi manusia boleh juga meninggalkan sebuah tulisan untuk kemudian dibaca setelah sepeninggalnya. Apa yang membuat menulis jadi begitu penting bagi sebuah peradaban adalah sejarah yang direkam di dalamnya, atau sari-sari pikir dari beberapa tokoh tentang ide-ide dasar kehidupan manusia, norma, dan sebagainya.


Dari peradaban Mesir Kuno hingga peradaban paling tua di Eropa seperti Yunani Kuno dibentuk oleh pemikiran yang kemudian didokumentasikan melalui tulisan. Sebuah bangsa boleh tumbuh dan hancur, namun ingatan olehnya tetap terekam oleh tulisan. Menulis adalah cerita bagaimana jatuh bangun manusia memaknai dirinya sendiri.



Bahkan pada tahun 500an masehi, seorang manusia telah dipilih untuk memuliakan sebuah tulisan dari kata-kata Tuhannya melalui Alquran. Hingga sekarang tulisan tersebut menjadi pedoman bagi ratusan juta penganutnya. Karena tulisan, ia dicintai sekaligus dibenci. Lalu apa yang diistimewakan dari kitab tersebut. Ialah pemikiran dan nilai-nilai yang membawa manusia pada zaman itu menuju peradaban yang lebih baik. Dan hingga kini menjadi satu-satunya warisan bagi penganut terbesar di dunia. 

Manusia dan Tulisan 

Manusia adalah animal symbolicum, kata Cassirer. Manusia sebagai makhluk simbol selalu memaknai diri dan sekitarnya melalui berbagai macam tanda seperti bahasa. Lebih luas daripada itu melalui gambar, rumus-rumus dan tulisan yang mana adalah proses abstaksi akan realitas. Manusia pun sejatinya merupakan simbol dari entitas berdarah, berdaging dan berpikir itu sendiri. 

Cassirer berpendapat lebih jauh, manusia adalah makhluk yang selalu hidup dalam satu ekosistem khusus. Ekosistem inilah yang kemudian memberikan kehidupan bagi manusia. Dalam artian lebih luas, manusia hidup dalam kepungan simbol dan simbol-simbol inilah yang memberikan arti bagi segala sesuatu di sekitarnya. Salah satu simbol paling dominan di dalam peradaban manusia adalah tulisan. 

Di hadapan alam manusia tidak lagi pasif. Manusia mulai memaknai segala kejadian dalam hidupnya melalui simbol secara personal. Ide muncul melalui pemikiran dan tulisan yang menyebarluaskannya. Dari sanalah peradaban dan kebudayaan lahir melalui tulisan.

Manusia pun disebut sebagai makhluk historis. Apa yang yang membentuk mereka hari ini tak lain adalah sejarah. Melalui proses historis, manusia menciptakan identitasnya. Di lain sisi, manusia pun juga makhluk yang menyejarah. Manusia turut campur dalam realitas secara kreatif sejalan dengan pemikiran dan tindakannya. Oleh sebab itu manusia selalu mewariskan sesuatu.

Sebuah bangsa baru dikatakan beradab jika budaya tulis sudah berkembang dan mengakar di masyarakat tersebut. Hal ini bukan hanya berlaku bagi kaum terdidik tetapi untuk semua orang yang memiliki kepentingan dan pemikiran untuk diwariskan. Namun untuk berpartisipasi dalam peradaban, manusia tidak hanya dituntut sebagai terpelajar namun juga dapat bersikap bebas mengutarakan pendapat melalui tulisan. 

Mengutip sebuah diktum terkenal “Yang dikatakan akan fana, sedang yang ditulis akan abadi.” Sudah semestinya sebagai terpelajar yang mendapat ilmu setinggi-tingginya di ruang kelas atau dimana pun untuk turut berpartisipasi dalam proses intelektual seperti menulis. Sampaikanlah walau hanya satu ayat.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar