Perdamaian Global Dapat Diraih Melalui Soft Power Diplomacy



“Perdamaian sebenarnya dapat diraih,” ujar Diana ES Sutikno, Kepala Seksi Sub-Direktorat Keamanan Internasional Direktorat Keamanan Internasional dan Pelucutan Senjata dari Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Lanjut ibu Diana, walaupun perdamaian global tidak secara langsung memmengaruhi kehidupan sehari-hari kita, tetapi perdamaian global tetap hal yang krusial. Dalam hal soft power dan perdamaian global, ibu Diana menjelaskan bahwa soft power bukan hanya mengenai budaya, tetapi juga tentang keikutsertaaan di kawasan berkonflik, dalam arti sebagai bagian dari solusi konflik. Indonesia telah menggunakan soft power di mana Indonesia menduduki peringkat ke-12 dalam negara yang terbanyak mengirim tentara dan personel untuk tentara pejaga perdamaian (peacekeeping forces).

Itulah paparan ibu Diana dalam kapasitasnya untuk menyampaikan sudut pandang pemerintah di dalam seminar internasional yang bertajuk “Emphasizing Soft Power Diplomacy to Achieve Global Peace” yang diselenggarakan oleh Korps Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (Komahi UMY) pada Senin pagi (1/6). Seminar internasional yang bertempat Ruang Sidang AR Fachruddin B lt.5 Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini merupakan bagian dari rangkaian Muhammadiyah Yogyakarta Diplomatic Course (MYDC) dari tanggal 1 Juni 2015 sampai 4 Juni 2015 di mana pada tanggal 3 dan 4 Juni 2015 akan dilaksanakan simulasi sidang Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ibu Diana kemudian menjelaskan bahwa menjadi diplomat adalah bentuk dari “kelulusan” belajar dari sebelumnya yang dilakukan di dalam kelas. Setiap tahun Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menerima diplomat-diplomat muda, di mana setelah mereka menerima pendidikan dari Kemlu RI kemudian akan dikirim ke berbagai kedutaan besar Indonesia di luar negeri untuk menjalani internship (magang). Salah satu dari tujuan dari hubungan diplomatik, dan pada gilirannya tugas diplomat, adalah untuk menjaga kepentingan negara. “Diplomat itu pekerjaan 24/7, karena kita memastikan bahwa kepentingan kita diamankan,” papar ibu Diana mengenai karir sebagai diplomat. Salah satu tugas diplomat adalah merepresentasikan negara di luar negeri sehingga kesiagaan 24/7 harus dipastikan dan menjaga permasalahan pribadi tidak mempengaruhi kapasitas professional seorang diplomat. Selain itu, untuk menjadi diplomat, kita juga harus dapat memancarkan aura dan gestur persahabatan.

Pembicara kedua adalah Yor Ching Poon Tokuda Country Director of Global Peace Foundation Indonesia sebagai sudut pandang Lembaga Swadaya Transnasional dalam soft power diplomacy. “Our vision is one family under God,” ungkap Tokuda dalam pidatonya. Ibu Tokuda kemudian menjelaskan bahwa Tuhan yang dimaksud dalam visi Global Peace Foundation tidak merujuk ke satu definisi Tuhan menurut agama tertentu, melainkan kepada Tuhan pencipta semesta alam sehingga setiap manusia seharusnya hidup dalam perdamaian sebagai ciptaan Tuhan. Ibu Tokuda kemudian menjelaskan bahwa perdamian dimulai dari rumah. Setelah perdamaian dapat dicapai di rumah, maka perdamaian akan dicapai di komunitas, kemudian ke negara, dan akhirnya dapat dicapai di seluruh dunia.

Prof Dr. Tulus Warsito M. Si. Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (HI UMY) kemudian menjelaskan bahwa perdamaian adalah hal yang harus dibuat oleh manusia. “Perdamaian bukanlah situasi yang diberikan dan peperangan tidaklah abadi,” jelas pak Tulus. Pak Tulus menjelaskan lebih lanjut bahwa perdamaian dan peperangan adalah hal yang siklikal dan terjadi karena hal-hal yang terjadi sebelumnya, sehingga untuk mencapai perdamaian kita harus mengusahakan perdamaian. (Qil)


Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar