Mahasiswa: Generasi Asal Bunyi

Sumber gambar:http://blog.umy.ac.id/idrafaudu/

Setiap tahun ratusan ribu mahasiswa baru berbondong-bondong mengikuti OSPEK yang diselenggarakan oleh universitasnya. Setiap tahun pula, kita jamak mendengarkan pidato yang disampaikan oleh para senior kepada juniornya. Pidato berisi doktrin-doktrin mengenai agen perubahan ataupun pendidik kelompok grassroot. Para senior pasti begitu bersemangat ketika acara-acara seperti ini berlangsung. Membunyikan kalimat-kalimat perlawanan terhadap ketidakadilan pemerintah, dengan membawa romantisme reformasi.

Ritual-ritual tersebut terus berlangsung setiap tahunnya, dengan dalih pembentukan karakter dan menanamkan rasa hormat terhadap senior, hingga menjadi suatu bentuk feodalisme. Sebuah kasta pendidikan tinggi, namun kental dengan nuansa feodal di mana dampaknya pun seringkali sulit diterima nalar waras. Tindakan perploncoan oleh senior seringkali berakhir dengan kematian atau efek traumatis. 

Alangkah bobroknya manakala tempat yang digadang-gadang menjadi sarana pembentuk kaum terpelajar justru dipenuhi dengan orang-orang dengan kesombongan intelektual. Teriakan-teriakan tentang agen perubahan namun justru berasal dari mulut-mulut yang masih mencari lindungan orang tua. Klaim sebagai agen perubahan agaknya terlalu bombastis. Mana mungkin sistem orientasi yang feodalistis mampu membentuknya. Metode orientasi berbasis kedisiplinan adalah contoh konkrit. Suatu metode yang sebenarnya tidak ada gunanya, selain untuk memberikan kesempatan bagi senior untuk memarahi juniornya. Kedisiplinan macam apa yang yang akan dibentuk? Selain hanya ajang guyonan bagi senior. Jika program ini digunakan untuk merubah pola pikir mahasiswa secara fundamental, maka lupakan saja.

Metode kuliah pun kadangkala tak lebih dari lelucon. Semua materi kuliah sudah ada dalam bentuk diktat. Kuliah pun pada akhirnya hanya masalah pembahasan diktat. Bahkan dalam beberapa mata kuliah juga sebenarnya tidak memerlukan pertemuan. Cukup hafalkan diktatnya dan ujian dapat anda hadapi dengan mudah. Tak perlu analisis mendalam, cukup menyalin diktat. Apakah metode seperti itu yang diharapkan untuk menciptakan agen perubahan?

Implikasi nyata dari metode-metode di atas adalah terbentuknya manusia dengan mental pembelajar yang terkikis. Proses menjadi sesuatu yang tidak lagi penting. Berbagai  cara bisa saja digunakan demi hasil yang terbaik apalagi dengan waktu yang singkat (instan). Pada akhirnya mereka menjadi orang-orang yang mengklaim diri sebagai intelektual, namun tidak memiliki landasan teknis yang mumpuni.

Etos sebagai pembelajar adalah hal utama yang harus dimiliki mahasiswa. Bagaimana mungkin, kaum yang mengatakan diri mereka pembelajar namun enggan untuk sekedar membaca artikel atau jurnal. Rasa ingin tahu seolah sudah menjadi hal yang tak lagi penting. Berubah menjadi apatisme terhadap ilmu dan menganggap remeh terhadap bahan ajar yang diberikan oleh dosen.

Sungguh suatu mimpi buruk manakala estafet kepemimpinan negeri ini harus diberikan kepada generasi demikian. Menganggap diri sebagai kelompok pendidik grassroot, pembela kepentingan rakyat, dan agen perubahan, namun hanya berbekal kemampuan analisa dangkal dan tidak sistematis. Cukup berbekal TOA, poster dan bendera sambil meneriakan kata-kata di jalanan kemudian menyebutnya sebagai perjuangan, lebih baik lupakan saja.

Bangsa ini tidak bisa dibangun hanya dengan modal teriakan dan tuntutan. Bangsa ini juga tidak akan keluar dari keterpurukan dengan pola orientasi feodal semacam perploncoan. Namun, bangsa ini membutuhkan generasi dengan mental pembelajar yang kuat. Generasi dengan rasa ingin tahu dan etos belajar yang tinggi. Generasi inilah yang nantinya akan melahirkan ide-ide segar yang solutif. Bukan ide-ide usang masa lalu yang selalu dipoles dengan teriakan di pinggir jalan.

Pemahaman akan fungsi kampus pun menjadi penting. Kampus bukanlah wahana untuk berpolitik praktis, apalagi dengan ambisi politis yang terlampau tinggi. Pada akhirnya hasil akhir yang dihasilkan menjadi tidak jelas, di mana masyarakat tidak mampu mengambil manfaat apa pun dari sana, selain hanya wahana untuk melampiaskan hasrat kesombongan intelektual segelintir orang.

Mengembalikan identitas kampus sebagai ruang intelektual adalah suatu keharusan. Memang terlalu naif untuk menyebut perkuliahan adalah prioritas utama mahasiswa, namun bertindak pada tatanan praktis tanpa landasan teoritis dan konsep kepemimpinan yang jelas adalah omong kosong.

Melalui dinamika pembelajaran yang intensif, kampus akan menjadi wahana yang ideal bagi pembentukan pemimpin-pemimpin kuat. Pemimpin dengan konsep yang jelas sehingga mampu melakukan langkah taktis untuk menyelesaikan problematika yang ada. Bukan hanya sekedar pemimpin karbitan yang tidak memiliki konsep dalam memimpin, yang pada akhirnya hanya bisa berlaku korup dan mengabaikan tanggungjawab.

Seorang pemimpin yang baik akan menawarkan solusi konkrit untuk setiap permasalahan yang ada. Dengan kata lain, seorang pemimpin adalah orang dengan tingkat kesadaran peran yang tinggi serta mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat, berdasar pada kapasitasnya untuk melakukan analisa mendalam terhadap suatu fenomena. Maka sangat mengherankan manakala ada pernyataan “Indonesia sudah kebanyakan orang pintar,”. Jika memang benar bahwa orang pintar di negeri ini sudah terlalu banyak, maka tentu berbagai permasalahan pelik di negeri ini sudah terselesaikan dari dulu. Namun pada kenyataannya setiap hari kita dijejali dengan informasi yang kesemuanya berisi permasalahan.

Teori dan praktek haruslah sejalan. Sebelum mahasiswa mampu berkiprah, maka intelektualitasnya haruslah mumpuni. Bukan hanya sekedar mampu membedakan hitam dan putih. Etos belajar itulah yang harus dibangun sedari dini dan sesegera mungkin. Sungguh konyol ketika berangan menyelamatkan grassroot namun etos belajar saja tidak punya. Pada akhirnya proses tidak lagi penting. Semuanya serba terburu-buru dan instan. Hanya dengan bermodal semangat menggebu, sudah merasa bisa untuk memperbaiki bangsa. (nang)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar