Asal-Usul Terbentuknya Jomblo


Sebagaimana Big Bang, sebelum terbentuknya semesta, partikel-partikel di seluruh alam menyatu menjadi bentuk paling absolut dan padat kemudian lebur berupa bintang-bintang panas. Dari seluruh proses tersebut, terbentuklah galaksi-galaksi dan planet-planet serta makluk-makhluk hidup yang terus berevolusi mulai dari sel tunggal hingga makhluk hidup paling modern.

Semesta pada dasarnya dapat diibaratkan sebagai satu garis, karena seperti penerangan diatas, terbentuknya alam semesta tak lain tak bukan adalah awal yang kemudian berakhir. Sebagaimana dua entitas yang jika salah satu tidak ada, maka yang terjadi tak lain hanya “tidak sama sekali,” serupa gelap pada terang atau hitam pada putih. Semesta pada beberapa kitab dipercayai memiliki akhir yang kemudian disebut kiamat, atau istilah armageddon dalam kepercayaan kristiani. Tidak seperti lingkaran yang solid atau memiliki makna tersirat sebagai keabadian karena tak memiliki sumbu oleh orang-orang dulu di jaman Mesir hingga Yunani.

Jomblo pun salah satu manifestasi dari pembentukan semesta dan seisinya, makhluk yang disebut manusia kemudian dalam kehidupannya bersosialisasi, merekonstruksi sedemikian rupa manusia jenis lain dalam satu medium di antara bilik-bilik masyarakat marjinal. Seolah menjadi jomblo atau mereka yang sedang tak memiliki pasangan adalah sedosa-dosanya dosa paling berat anak cucu adam, tuna kasih sayang serta manusia paling tidak bahagia.

Jika kita terlalu selo untuk sekedar membuka kitab KBBI, maka kata jomblo tak satu pun kita temukan dalam padanan kata. Kata jomblo dalam KBBI pada awalnya berasal dari kata jomlo, tanpa tambahan huruf “b” di tengahnya. Kata jomlo berasal dari bahasa sunda yang sudah dibakukan dan memiliki arti negatif (tergantung persepsi anda), yaitu gadis tua yang belum juga memiliki pasangan. Namun karena pengaruh globalisasi ditambah emansipasi dan overgeneralisasi serta perasaan iri hati, kata jomblo mengalami perluasan makna dan menjurus tak hanya pada kaum hawa, melainkan juga kepada kaum adam. Memang seperti itulah keajaiban bahasa, ia terus dinamis dan menyesuaikan diri dari tahun ke tahun, dijadikan alat politik untuk melabeli suatu kelompok dengan makna-makna bersayap oleh perempuan.

Untuk menelisik lebih jauh, seperti dalam satu kondisi kita menemukan seonggok jomblo kiranya telah mengambang di rawa-rawa. Kita mengambilnya, dijadikan objek eksperimen lalu membelah dadanya yang kelihatan pucat dan hampa dari luar. Kita pun akan menemukan sebagaimana sifat-sifat manusia yang memanusiakannya, contohnya seperti perasaan sedih, gembira, kesepian, dicintai dan mencintai. Sifat-sifat itulah yang kemudian menjadikan jomblo jauh dari persepsi bahwa mereka adalah penghuni dunia ketiga yang memperbanyak dirinya melalui pikiran, kloning, serta sejenisnya. 

Jomblo pun kerap dijadikan topik renyah oleh muda-mudi kekinian di berbagai aspek kehidupannya. Seperti kita lihat dalam media yang notabene menjadi ilmuwan paling depan dalam penciptaanya akan fenomena jomblo yang juga atribut primer muda-mudi produk globalisasi. 

Perpaduan antara informasi dan teknologi menjadi kemajuan yang kiranya berlebihan akhir-akhir ini, kita kerap melihat isu-isu gender dijadikan objek lawakan oleh oknum-oknum yang kelewat selo. Lewat media-media sosial, oknum selo tadi seolah bergerak serupa dengan masyarakat bawah tanah melalui tangan-tangan rahasianya menggenggam dunia. Yang jadi permasalahan adalah kita acap kali tak sadar bahwa dengan dibawanya isu-isu tadi, telah merekonstrusksi alam bawah sadar kita terhadap orang-orang macam jomblo, LGBT, ormas dan lainnya. Apalagi jika seluruh informasi tersebut dikonsumsi oleh anak cucu kita yang ibarat spons, akan menyerap apapun yang ada di depannya. Dampaknya pun kini sudah jelas, identitas mencinta dan dicintai layaknya sinetron justru diambil alih oleh anak-anak bawah umur. Bukannya oleh kita yang kiranya cukup dewasa untuk melepas status jomblo.

Pada intinya, generasi kita mulai terancam moralitasnya. Memang, pacaran adalah hak semua manusia. Namun alangkah kelewat batas kita tak menghormati mereka yang memilih single dengan melabeli diri mereka secara umum, bahwa menjadi sendirian beararti tak memiliki hak menjadi bahagia. Kita harus membuang jauh-jauh tolak ukur akan kebahagian tadi, dan menempatkan batasan sebagaimana mestinya. 

Menjadi jomblo tentu sebuah pilihan, juga tentu sebuah nasib, atau lebih jauh dari itu, menjadi jomblo adalah pilihan untuk menyerah pada nasib. Namun dari ketiga kategori jomblo tadi, tentu alangkah berbahaya menjadi jomblo jenis ketiga. Tak jelas juntrungannya, tiba-tiba menjadi pesimis akan nasib kemudian pasrah alih-alih tak laku oleh lawan jenis. 

Menurut saya, mencintai dan dicintai bukan sesuatu yang dapat dipaksakan. Tidak bermaksud munafik, kau bisa jatuh cinta berulang kali di waktu yang sama, namun pada akhirnya kau hanya memilih satu sesuai dengan nalar realismu, manakah yang lebih menguntungkan kiranya jika dijadikan pasangan seumur hidup. Dan jika cinta datang satu kali dalam fase hidup dimanapun kondisimu saat itu, yakinkanlah terlebih dahulu, jika tergesa sebutlah itu nafsu. Kau tak lebih hanya manusia, selebihnya hanya pilihan-pilihan. (Hilmi)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments: