Menimbang Pewaris Tahta Kraton Yogyakarta

Sumber: wikipedia.org


Jogja terasa akhir-akhir ini sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Salah satu hal yang membuat Jogja terasa berbeda di antaranya, di mana di perempatan seperti Pasar Ngasem, perempatan Taman Pintar, di sekitar Jalan Kauman bisa kita lihat spanduk berwarna putih dengan rangkaian tulisan berwarna hijau yang bertuliskan “Kembalikan paugeran – Jogja tetap Istimewa,”. 

Identitas yang ditulis di spanduk itu tertulis: Warga Kauman. Kauman sendiri merupakan sebuah kampung yang berada berdekatan dengan Kraton dan mayoritas dihuni oleh warga Muhammadiyah. Pemasangan spanduk itu sendiri bukan tanpa alasan. Spanduk itu dipasang sebagai bentuk protes terhadap Sabdaraja Sultan Yogyakarta. 

Sabdaraja Sultan Yogyakarta inilah yang membuat Jogja terasa agak berdeda dari biasanya. Sabdaraja menjadi polemik di kalangan internal Kraton Yogyakarta. Naskah Sabdaraja yang dibacakan tanggal 1 Mei 2015 dan Dhawuhraja yang disampaikan pada tanggal 5 Mei 2015 lalu ini berisi tentang penghapusan gelar Khalifatullah dalam gelarnya. 

Gelar Sultan yang lama, Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sedasa Ing Ngayogyakarta Hadiningrat. Gelar Sultan diganti dengan, Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ingkang Jumeneng Kasepuluh Suryaning Mataram Senapati Ing Ngalaga Langgeng Ing Bawono Langgeng, Langgeng Ing Toto Panoto Gomo. 

Salah satu isi Sabdaraja yang menjadi polemik di kalangan kraton adalah perubahan nama GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi. Perubahan nama putri sulung Sultan ini oleh banyak pihak diidentifikasikan dengan ditetapkannya putri sulung Sultan HB X sebagai putri mahkota yang nantinya bakal menggantikan kedudukan ayahhandanya. 

Secara sistematis dengan penggantian nama GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi Sultan sedang mempersiapkan putrinya sebagai pewaris tahta. Artinya ketetapan yang selama ini mengangkat seorang raja disandang oleh laki-laki menjadi rapuh. Jika raja tidak memiliki anak laki-laki maka tahta kerajaan seharusnya diberikan kepada adik laki-laki. 

Polemik Sabdaraja semakin mengundang keprihatinan setelah adik-adik Sri Sultan tidak ada yang menghadiri sewaktu Sabdaraja dibacakan. Langkah Sultan mengenai Sabdaraja dinilai tidak sependapat dengan adik-adiknya. Untuk memberi penjelasan serta keterangan kepada publik dan adik-adiknya, Jumat 8 Mei 2015 bertepatan di kediaman GKR Mangkubumi Sri Sultan HB X memberikan penjelasan bahwa Sabdaraja tanggal 1 Mei 2015 dan diikuti Dhawuhraja tanggal 5 Mei merupakan langkah Kraton untuk menghadapi perubahan zaman. Hal itu dilakukan untuk menjaga konsistensi Kraton saat ini dan masa mendatang serta harus menyesuaikan perubahan.

Kesultanan Yogyakarta merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memilki sistem pemerintahan kerajaan yang masih eksis dan menjadi kebanggaan tersendiri oleh masyarakat Jogja khususnya oleh warga Indonesia. Adapun yang menjadi pewaris tahta selanjutnya sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa dan bisa menjadikan Yogyakarta semakin lebih baik lagi ke depannya. Mudah-mudahan perbedaan yang terjadi di Kraton saat sekarang ini bisa dapat segera berakhir karena masyarakat mengharapkan Daerah Istimewa Yogyakarta tetap tentram, damai dan sejahtera, karena Yogyakarta tetap Istimewa. 




Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar