Bahaya Melupakan Masa Lalu




#MenolakLupa adalah tagar yang sering kita dengar dan lihat di berbagai sosial media. Tagar ini muncul ketika kita mengingat kembali hari-hari bersejarah di Indonesia. Beberapa hari itu sangat dihormati dan menjadi pembelajaran bagi siapa pun di setiap pelosok negeri ini. Bahkan hingga menjadi tanggal merah dan membuat wajah anak-anak sekolah cerah karena sampai sekarang jasa para pahlawan itu sungguh berkontribusi “membebaskan” mereka dari kekangan aktivitas belajar. Alamak, bahkan saat tagar ini muncul, para remaja negeri ini justru mengubah tagar ini menjadi #MenolakLupaMantan, menjadi kegalauan baru. Hahaha, ternyata sesederhana itu permasalahan hidup yang menurut mereka paling pelik. Semoga generasi penerus negeri ini tidak serusak yang aku takutkan. Semoga remaja-remaja ini hanya bercanda dan tetap tabah memikirkan negaranya. Ada juga beberapa hari bersejarah yang hanya menjadi selentingan omongan beberapa orang yang masih berani mempertaruhkan keamanan dirinya untuk tetap membicarakan peristiwa-peristiwa abu-abu itu. 

Tagar ini juga masih berdengung ketika siapa pun sedang melihat para orangtua yang setiap Kamis memakai baju hitam, berdiri di bawah terik matahari dengan membawa payung hitam, penuh harap di depan Istana Negara. Mengemis memohon secuil harapan akan informasi keberadaan keluarga mereka yang telah hilang di era kekuasaan "The Smiling General" tersebut. Terkadang hujan tidak datang menemani mereka melaksanakan kamisan itu, tetapi mereka tetap memakai payung, karena siapapun yang melihat juga akan tahu bahwa mendung di langit bisa turun ke wajah-wajah penuh harap itu dan hujan akan muncul dari pojok mata seorang ibu yang menunggu anaknya pulang.

Banyak sekali peristiwa yang masih abu-abu di dunia ini, bahkan di Indonesia. Regime falls everyday, tidak ada yang dapat bertahan lama. Rezim silih berganti setiap masanya, peristiwa-peristiwa baru tercipta. Peristiwa-peristiwa lama yang merugikan rezim yang baru ditutupi begitu saja. Ditutupi demi kepentingan beberapa pihak. Apakah untuk kesekian kalinya pemerintah masih akan memakai kedok “penyelamatan stabilitas negara” untuk tidak menyeret luka-luka di masa lalu ke ranah politik dan hukum? 

Mereka bilang dengan menutup rapat beberapa peristiwa adalah demi menghindari kekacauan. Menghindari kekacauan lalu menjadi persetan dengan luka di hati orang tua para korban yang selalu memiliki mendung dan hujan di wajahnya itu? Apa akan persetan juga dengan mimpi buruk, doa-doa, dan harapan mereka di setiap tengah malam? Pil pahit yang harus kita telan ternyata tidak hanya negara yang kelam di Orde Baru tetapi juga “penghinaan” negara tentang arti dari memaafkan. Aldous Huxley mengatakan bahwa “That men do not learn very much from the lesson of history is the most important of all the lessons of history.” Pembelajaran paling penting dapat kita ambil dari orang yang tidak pernah belajar sejarah masa lalu. Aldous percaya bahwa hal tersebut adalah hal paling berbahaya di dunia ini. Melupakan sejarah.

Ketika ingatan manusia dilemahkan dan dipaksa melupakan persoalan-persoalan masa lampau, maka mereka tidak akan bisa berpikir dengan jernih untuk kebaikan masa depan. Manusia akan selalu kehilangan arah, orientasi diri dan identitasnya. Ketika tidak bisa mengenali lubang masa lalu, maka kita akan jatuh lagi ke lubang yang sama berkali-kali. Membiarkan alam menertawakan kita yang terus mengulang kebodohan masa lalu. Bahkan alam jengah memiliki tontonan yang membosankan. Dalam bukunya The Book of Laughter and Forgetting, Milan Kundera memang benar, “The strunggle of man against power is the strunggle of memory against forgetting.” Menolak lupa adalah bentuk dari perlawanan terhadap manipulasi sejarah yang dibuat penguasa.

Tidak seharusnya beberapa bagian cerita yang menyebalkan dan kelam kita sobek begitu saja dari dari buku. Bagian-bagian itu tetaplah menjadi pelengkap dan pembelajaran. Ketika seseorang membaca cerita tersebut, maka akan mengalami kegundahan. Bingung, merasa aneh melihat cerita tahu-tahu berakhir begitu saja. Tetapi di sisi lain peristiwa-peristiwa tak selesai itu tetap memberikan bau anyir dan menyengat karena busuk oleh manipulasi dan polesan dimana-mana. Sejak kapan bangkai bisa dipoles? Ini soal bau busuk yang menyengat, bukan visual semata.

Ingatan sosial tidak akan kuat oleh kebencian dan dendam. Tidak ada pelajaran bagus yang bisa kita ambil dari situ. Tidak akan, hingga kita kemudian sadar bahwa kebencian dan dendam itu serapuh setumpuk jerami sombong di dalam gudang kayu kokoh yang kalah oleh api kecil yang tertutup di bawah jerami. Pemerintah membuat sejarah seolah hanya sebagai sejarah. Kita melupakan fungsi sejarah sebagai petunjuk dan pemandu akan apa yang akan kita lakukan ke depannya. Seperti yang Aan Mansyur katakan, “We need justice, not just(n)ice.” Lalu dengan tidak menyeret kasus-kasus masa lampau yang dikubur begitu saja, sebenarnya ketentraman macam apa yang pemerintah maksud? Lalu bagaimana dengan ketentraman hati para orangtua almarhum aktivis tersebut? Sepertinya ada kesalahan definisi di sini. 

Morra Quatro mengatakan bahwa cara untuk merelakan adalah dengan penerimaan, penerimaan akan fakta yang ada. Mengakuinya, tidak ada cara lain. Penerimaan dari pemerintah yang mengakui dan tidak menutupi lagi fakta petinggi-petinggi negara itu memang bersalah. Penerimaan dari para keluarga korban untuk melepaskan kasus Orde Baru dan memaafkan para tersangka, tentu dengan catatan setelah semua orang yang bertanggungjawab diseret oleh negara ke depan meja hukum dan diadili sehingga dapat tersemai ketentraman dan maaf di hati orang-orang yang terzalimi. Agar kita tetap memiliki martabat yang etis dalam membangun sejarah negeri ini. Karena manipulasi dan menutup-nutupi sejarah adalah bentuk penghinaan dari sejarah itu sendiri. (Meg)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar