Sukses, LPPM Nuansa UMY Mengadakan Seminar Nasional Anti Korupsi




“Korupsi sudah menjadi budaya di masyarakat indonesia saat sekarang ini. Tapi kenapa budaya itu gak dicuri oleh malaysia ya?” itulah sepenggal kalimat yang di ucapakan oleh salah satu pembicara seminar nasional dengan tema “Menggugat Peran Media dan Mahasiswa dalam Pemberantasan Korupsi” yang diadakan oleh LPPM Nuansa UMY. Acara seminar nasional ini dilaksanakan pada Selasa (31/03) di gedung AR. Fachrudin lantai 5 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. 

Dalam acara seminar nasional ini dihadiri kurang lebih 300 mahasiswa dari berbagai jurusan. Seminar ini diawali dengan acara sambutan dari panitia dan ketua LPKA UMY. Dilanjutkan dengan drama musikalisasi dari LPPM Nuansa UMY. Seminar ini dimoderatori oleh Fajar Junaidi seorang penulis dan dosen komunikasi UMY dengan menghadirakan ketua AJI Yogyakarta, Hendrawan, Pusat Kajian Anti Korupsi UGM (PUKAT) Zaenurrahman, Anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Dotty, Wartawan “The Jakarta Post” jurnalis investigasi, Bambang Muryanto, dan Transparancy International Indonesia, Lia Toriana.

Lia Toriana dari Transparancy International Indonesia memaparkan di era mellenium saat sekarang ini media sangat berperan penting dalam perkembangan politik Indonesia. Di saat seperti inilah peluang anak muda Indonesia untuk melawan korupsi sangat besar dengan memanfaatkan media internet. Karena menurut data yang dihimpun oleh Transparancy International Indonesia sekitar 90 % anak muda Indonesia menggunakan internet, dan 75 % dari itu menggunakan media sosial. Tapi anehnya generasi muda saat sekarang ini kurang tanggap tehadap isu korupsi, cuma bisa ngomel-ngomel gak jelas dan terlalu acuh terhadap bangsanya.

Kita boleh gak suka kepada Nazzarudin, kita boleh benci kepada Anas, dan kita boleh marah kepada semua pelaku korupsi, tapi liat dulu kalau kita masih “damai” dengan polisi ketika kita ditilang dan masih “nyogok” ketika bikin SIM? Lebih baik tidak usah banyak omong, papar Lia Toriana.

Tidak jauh berbeda dengan yang disinggung Lia Toriana. Zaenurrahman dari FH PUKAT UGM mengatakan pendidikan anti korupsi di media televisi untuk masyarakat masih belum baik, penyalahgunaan kekuasaan yang sering dilakukan adalah salah satu yang harus diwaspadai sehingga posisi kedekatan politik menjadi celah koruptor untuk beraksi. Oleh karena itu media harus lebih intensif lagi menyajikan pendidikan anti korupsi kepada masyarakat dan menimbulkan gerakan pendidikan anti korupsi untuk memotong habis budaya korupsi di negeri ini.

Di lain pihak wartawan “The Jakarta Post” jurnalis investigasi, Bambang Muryanto memaparkan bagaimana peran mahasiswa sekarang ini akan pemberantasan korupsi sangat kurang aktif. Mahasiswa lebih disibukkan IPK dan presensi daripada turun ke jalan mengawal kasus korupsi. Hendrawan dari AJI Yogyakarta setuju dengan pemaparan Bambang Muryanto yang menyinggung bagaimana sistem pendidikan perguruan tinggi yang menjadikan mahasiswa malas berpikir tentang kondisi bangsa dan bergerak untuk berkontribusi memberantas rantai budaya korupsi di negeri ini.

Terkahir pembicara dari anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Dotty menyampaikan bahwa berkontribusi melawan korupsi bisa dilakukan dari mana saja salah satunya dari passion kita seperti hobi yang kita gemari. Seorang yang memilki passion sebagai filmmaker bisa vokal terhadap anti korupsi dengan membuat film yang bertemakan anti korupsi. Oleh karena itu banyak cara yang bisa dilakukan untuk berkontribusi melawan korupsi. Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi.

Acara seminar nasional Menggugat Peran Media dan Mahasiswa dalam Pemberantasan Korupsi diakhiri dengan pemberian plakat kepada pembicara dan moderator, dilanjutkan dengan pemberian hadiah kepada penanya dan pemenang kuis selfie Nuansa Kabar serta hiburan. (AWan)




Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments:

  1. ide dari paragraf ke paragraf lemah / kurang nyambung, dipermak dikit lah supaya nyambung, hehe paragraf terakhir delet aja sih, ada satu hal yg perlu ditanggapi kalo kata ketua AJI,mengenai UMY masih ngasih amplop kepada wartawan, itu perlu diusut!!!

    BalasHapus