Stop Olgaisme Untuk Kapitalisme!





Jika kita amati sejak tanggal 27 Maret lalu, setiap saluran televisi tidak henti-hentinya mengulas tentang wafatnya seorang komedian kenamaan tanah air, Yoga Syahputra atau yang lebih familiar dengan nama Olga Syahputra. Setelah wafatnya di Singapura beberapa minggu lalu, semua media televisi, cetak maupun elektronik tak habis akal terus mengeksploitasi kehidupan Olga Syahputra sebelum wafat dari sudut pandang manapun. Televisi adalah media yang paling mencolok dalam mengeksploitasi meninggalnya Olga. Tidak hanya infotainment yang usil memberitakan duka keluarga Olga, bahkan program berita yang seharusnya memberitakan high-issue pun latah menyiarkan duka Olga.

Dengan embel-embel tribute to olga, In Memoriam Olga Syahputra, atau edisi Special Olga, kru kreatif mengemasnya dengan lebih santun. Dalam sebuah acara musik yang dulu sempat dibawakan oleh Olga misalnya, tak lelah menguak kembali kesedihan rekan-rekan Olga diacara yang sama. Sampai salah seorang rekan Olga yang baru pulang dari tanah suci pun dijemput dari bandara dan diantar untuk berziarah ke makam olga. Terlepas dari itu ikhlas atau sudah diatur sebelumnya. Stasiun televisi lain pun larut dalam euforia Olgaisme, tayangan talkshow, situasi komedi (sitkom), film layar lebar, bahkan film televisi (ftv) pun diputar ulang demi mengejar rating.

Rating? Setidakmanusiawi itukah media sehingga dalam keadaannya yang seharusnya berduka karena kehilangan orang yang cukup berpengaruh, mereka justru saling mencuri posisi rating? Dikutip dari wowkeren.com, beberapa acara berikut naik rating dan share-nya ketika menayangkan semua hal tentang Olga Syahputra.

Dahsyat Tribute to Olga mampu meraih rating 5,5 persen. Sementara khusus untuk infotainment, dirajai oleh Kabar Kabari yang mendapat rating 4,5 persen dan share 25,4 persen. Silet bertengger diurutan ketiga dengan rating 4,0 persen dan share 22,2 persen. Program lainnya yang masuk lima besar setelah menayangkan berita meninggalnya Olga adalah Seputar Indonesia Siang yang tayang di RCTI.

Wartawan tak pernah habis sudut pandang dalam suatu pemberitaan. Termasuk dalam berita tentang Olga. Setelah mengulas lika-liku hidup Olga dimasa lalu, kini sedang hangat media-media online mengejar kehidupan Olga dari sudut pandang para sahabatnya. Tak sekedar membahas hubungan mereka dengan Olga, namun wartawan justru mengadu para sahabat Olga dengan seorang pengacara Farhat Abbas yang sering mengeluarkan cuapan sejak berita meninggalnya Olga tersiar.

Stop Olgaisme dalam pemberitaan media! Pemberitaan segala hal tentang Olga dari segala sudut pandang bukan untuk menghormati kepergian Olga, namun justru hanya untuk mengejar kapitalisasi industri media. Sekali lagi, tak ada salahnya untuk matikan remot TV karena nilai sebuah tayangan televisi berada pada remot TV anda! (UMA) (Sumber foto : showbiz.liputan6.com)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments: