Pelajar dan Mahasiswa Yogyakarta : Masih Ingatkah dengan Adat-istiadat Yogyakarta?



Ramah, sopan dan santun merupakan adat istiadat yang sudah melekat erat di daerah yang kental akan budayanya ini, Yogyakarta. Sebagai warga asli maupun pendatang, adat istiadat tersebut semestinya dimiliki dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari karena pada dasarnya sikap seperti ramah, sopan dan santun merupakan sikap yang memang seharusnya dimiliki oleh semua orang. Untuk sebagian besar warga asli yang sedari kecil sudah bernafaskan lingkungan dan budaya Yogyakarta, maka tidak canggung lagi dengan kebiasaan itu justru malah akan merasa tidak nyaman jika tidak berlaku ramah ataupun sopan. Bukan hanya dari lingkungan keluarga, namun juga dalam lingkungan sekolah sikap maupun perilaku tersebut harus diterapkan dengan sungguh-sungguh.


Yogyakarta selain dijuluki sebagai kota budaya, kota wisata, dan kota gudeg juga sering dijuluki sebagai kota pelajar. Alasan dijuluki sebagai kota pelajar yakni karena memang atmosfer akademik yang sangat terasa dan mendukung setiap individu untuk berkembang, baik dalam hal akademik maupun perkembangan pribadi. Yogyakarta juga dikenal memiliki sistem dan suasana belajar yang unggul, hal itu didukung dengan banyaknya sekolah mulai dari tingkat dasar sampai tingkat menengah atas baik negeri maupun swasta, juga banyaknya jumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Selain itu, Yogyakarta juga sangat kaya akan sumber belajar, seperti pengajar yang berkompeten, perpustakaan yang berkualitas dan jumlahnya banyak, tempat pusat kajian-kajian keilmuan, juga tempat wisata yang sekaligus sebagai media belajar seperti Taman Pintar dan Taman Budaya. Maka tidak terasa aneh jika banyak pemuda dari daerah lain yang memilih Yogyakarta sebagai tempat untuk menuntut ilmu.

Dengan dasar adat istiadat yang kental serta atmosfer akademik yang baik, maka benar jika sebagian besar pelajar ataupun mahasiswa dalam perilaku kesehariannya tidak bertolak belakang dengan norma maupun adat istiadat yang ada. Hal tersebut menjadi sebuah keharusan. Namun faktanya tidaklah selalu seperti itu. Ada bahkan banyak juga remaja yang nakal. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya kasus yang menyangkut mereka seperti tawuran, tindak kekerasan, dll. Selaras dengan apa yang dikemukakan oleh KBU Reskrim Polres Bantul bahwa kasus yang menyangkut usia remaja jumlahnya dari tahun ke tahun terus meningkat, kasus terbaru yakni pada Minggu 15 Maret 2015 sebanyak 22 pelajar ditangkap karena membawa senjata tajam. Contoh kasus yang lain dan sempat mengejutkan warga Bantul beberapa waktu yang lalu yakni kasus kekerasan yang melibatkan pelajar SMA yang disebabkan oleh tattoo Hello Kitty. Selain itu, banyak dari mahasiswa juga yang kini sudah luntur dalam menerapkan etika di lingkungan sekitarnya serta masih sering melanggar peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah desa setempat seperti pulang larut malam, membolehkan lawan jenis bermain untuk waktu yang lama di tempat kost, dll.

Bapak Wanusi selaku Ketua RT 01 Kampung Geblakan menceritakan bahwa kasus kekerasan, baik yang melibatkan penghuni kost maupun warga tidak ada. Tetapi kasus pencurian banyak terjadi dikampung beliau. “Kebanyakan modus yang dilakukan pelaku pencuri yakni dengan membawa teman untuk melakukan aksi pencurian tersebut tetapi, kunci pintu kamar dan jendela tidak rusak, serta terkadang juga karena kecerobohan penghuni. Mulai banyaknya kasus pencurian sekitar tahun 2009 sampai 2010 dan setelahnya sudah berkurang hingga saat ini. Pada tahun 2015, sampai saat ini hanya terjadi satu kasus pencurian. Meskipun demikian warga kampung guyub rukun, ramah dan sopan-santun,” jelasnya.

“Sekitar 350 anak kost tinggal di daerah ini dan kebanyakan penghuninya mahasiswa dari kampus terdekat, hal yang disayangkan yakni mereka jarang mengikuti kegiatan yang ada di lingkungan sekitar sini, itu menunjukkan ketidak pedulian mereka. Selain itu, mereka juga tidak begitu ramah dan terkesan acuh khususnya penghuni kost perempuan. Hanya sedikit sekali yang mau menyapa warga sekitar. Sedangkan penghuni kost laki-laki masih banyak yang sering menyapa warga sekitar. Meskipun demikian, lanjut Pak Wanusi “Semua itu dimaklumi saja, sebab adat tiap orang berbeda-beda”. Namun warga tetap peduli kepada mereka. Salah satunya ditunjukkan dengan menegur para penghuni kost yang terkadang ada teman lawan jenisnya masih bermain lewat batas waktu yang telah ditentukan. Pak Wanusi berharap agar pelajar maupun mahasiswa memperbaiki perilaku lagi, saling peduli, dimanapun kita berada tinggalkan kesan yang baik, dan berusahalah menyesuaikan dengan adat istiadat Yogyakarta. Memang, tidak semua dari kita termasuk dalam red zone, namun apa salahnya jika dalam keseharian kita terhadap lingkungan dimanapun kita berada selalu berusaha menerapkan etika dan berperilaku yang baik karena hal tersebut akan berdampak bagi kehidupan kita dan masyarakat.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar