Prospek dan Tantangan Pertanian Indonesia dalam Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015


Di dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, salah satu dari keempat elemennya adalah menjadikan ASEAN satu pasar dan produksi. Diharapkan menjadi satu wilayah ekonomi yang kompetitif, pertumbuhan ekonomi yang seimbang, dan intergrasi ASEAN ke ekonomi global. Salah satu elemen dari penyatuan ASEAN menjadi satu pasar dan produksi ialah “Free Movement of Goods” yang artinya pembebasan pergerakan barang di kawasan ASEAN. Hasil pertanian dikategorisasikan sebagai “goods” dalam  elemen penyatuan ASEAN dan menjadi satu pasar dan produksi. “Jika sekarang masih ada hambatan, maka tidak ada hambatan,” ujar Roedhy Poerwanto dalam seminar nasional “Kemandirian Pangan Indonesia Menyongsong AEC 2015” di ruang sidang AR Fachruddin B lantai 5 Sabtu (18/4).

Seminar nasional yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Agroteknologi ini mengundang beberapa pakar untuk mendiskusikan kondisi dan prospek Indonesia terutama dalam bidang pertanian dalam menyongsong MEA 2015. Beberapa pakar yang diundang antara lain Prof. Dr. Ir. Roedhy Poerwanto, Msc dari (IPB) Institut Pertanian Bogor, dan pengamat nasional, Dr.  Ichsanuddin Noorsy, Bsc, SH, Msi. Menteri Pertanian Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman MP serta Ir. Agus Supriyatna Somantri, Msc selaku perwakilan dari Balai Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Turut pula hadir Muhammad Yani, SH, MM, selaku Sub Divisi Impor Perdagangan Luar Negeri , Kementerian Perdagangan Republik Indonesias

Lanjut pak Roedhy Poerwanto, dalam menghadapi MEA 2015, Indonesia harus belajar ke belakang, yaitu ASEAN China Free Trade Area (ACFTA). ACFTA bertujuan untuk meliberalisasi secara progresif dan meningkatkan perdagangan barang dan jasa antar ASEAN dan Tiongkok. Salah satu program dari ACFTA adalah Early Harvest Program yang menurunkan  tarif komoditas sayur-sayuran dan buah-buahan, sehingga sayur-sayuran dan buah-buahan Indonesia yang diekspor ke Tiongkok  menurunkan harganya, dan juga sebaliknya. Pada awalnya ini sebenarnya adalah kesempatan bagi Indonesia, dimana standar kualitas Tiongkok lebih ringan dibanding negara lain sehingga Indonesia berpotensi mengambil keuntungan dari situ. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Barang-barang dari Tiongkok lebih membanjiri pasar Indonesia daripada barang Indonesia membanjiri Tiongkok. Dan dalam praktiknya, ada beberapa komoditas pertania Indonesia yang dihambat oleh pertanian Tiongkok untuk masuk di negaranya. Belajar dari ACFTA, Indonesia harus berhati-hati, karena MEA adalah bentuk liberalisasi pasar ASEAN, jelasnya.

Pak Roedhy Poerwanto juga menyoroti masalah konsumsi padi Indonesia. Indonesia menduduki peringkat ketiga dalam produksi padi yang dikalahkan  oleh India dan Tiongkok. Luar areal panen padi Indonesia juga menduduki posisi ketiga, dikalahkan lagi oleh Tiongkok dan India. Produktivitas padi Indonesia juga cukup kompetitif, yakni sekitar 4,98 ton/ha pada tahun 2011. Tetapi kita masih impor, karena “Kita makan nasi terlalu banyak, mau tidak mau kita harus mengurangi konsumsi nasi dan menggantinya dengan makanan lain, tetapi harus lokal.” jelasnya

Ketersedian lahan adalah masalah lain yang disoroti oleh pak Roedhy Poerwanto. Ketersediaan lahan yang menurun asalah tren yang terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia, dan Indonesia sendiri juga punya pola keterbatasan lahan. Lahan yang luas belum tentu subur dan lahan yang subur terbatas. Dalam usaha membuka hutan untuk dijadikan lahan pertanian juga menyebabkan Java Syndrome terjadi. Dalam Java Syndrome  ketika lahan pertanian bertambah, lahan hutan berkurang dan juga lahan pemukiman akan naik. Dan akhirnya, lahan yang sebelumnya untuk pertanian dijadikan lahan pemukiman, sehingga dalam fase akhir Java Syndrome yang terjadi adalah lahan pertanian dan lahan perhutanan turun bersama-sama seiring meningkatnya lahan pemukiman.

Pemateri selanjutnya ialah pengamat ekonomi Dr. Ichsanudin Noorsy, , Bsc, SH, Msi yang terkenal kritis akan ekonomi neoliberal. Ichasanuddin mengemukakan bahwa neoliberalisme itu tidak jauh dari kolonialisme. Ketika Belanda dating mereka bermotif ekonomi dan membentuk VOC sebagai perusahaan yang memonopoli perdagangan di Indonesia. Tidak lama untuk peran VOC digantikan oleh pemerintah colonial Belanda. Begitu juga yang dilakukan Inggris di India, atau Perancis di jajahannya, atau Spanyol di Amerika Latin. Dan Amerika Serikat pun terus melanjutkan imperialism modern, dengan Bretton Woods system yang diusungnya. Dalam hal pangan sendiri, Ichsanuddin mengemukakan bahwa secara pribadi ia tidak suka dengan liberalisasi pertanian, melihat bahwa pangan adalah komoditas yang paling rapuh dalam melahirkan inflasi. Ichasanuddin Noorsy menutup sesinya dengan menanyakan sebuah pertanyaan ke peserta seminar “Apakah ada program 5 tahun ke depan yang meningkatkan keyakinan (akan ekonomi Indonesia menghadapi MEA - red)?

Ir. Agus Supriyanta dalam sesinya mengemukakan bahwa salah satu kunci MEA 2015 adalah daya saing ekonomi, tetapi sayangnya daya saing Indonesia masih lemah. Dalam atribut daya saing pun, Indonesia belum mengarah pada pengngkatan kualitas, melihat bahwa jumlah produksi Indonesia cukup besar tetapi produktivitas Indonesia masih ditantang oleh banyak negara lain. “kita punya potensi, tetapi kita harus meningkatkan potensi tersebut untuk menjadi kekuatan,” jelasnya.


Pemateri terakhir, Muhammad Yani, menyoroti masalah impor pangan Indonesia dan berusaha meluruskan beberapa miskonsepsi tentang impor Indonesia. Impor sendiri diarahkan ke barang yang belum bisa diproduksi sendiri, dan pemenuhan kebutuhan input barang model dan barang baku yang bertujuan untuk memproduksi barang pengganti impor serta peningkatan ekspor. Untuk impor beras sendiri pemerintah sengaja membatasi dan itu saja tidak gampang, dan ada juga protes dari negara pengekspor beras terkait kebijakan pembatasan impor beras. “Beras yang kita impor pun jenis beras seperti Japonica, Basmati, Thai Hom Mali, dan lain-lain yang biasa dikonsumsi perhotelan… dan walaupun beras tersebut di jual di masyarakat harganya akan terlalu mahal untuk dibeli masyarakat luas,” paparnya. (QIL)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

4 comments:

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai pertanian indonesia.Benar benar sangat bermamfaat dalam menambah wawasan kita menjadi mengetahui lebih jauh mengenai indonesia.Saya juga mempunyai artikel yang sejenis mengenai indonesia yang bisa anda kunjungi di sini

    BalasHapus
  2. Artikel ini sangat menarik dan saya menyukainya
    ST3 Telkom

    BalasHapus