Petani Diresahkan Harga BBM

Sumber gambar: djarumbeasiswaplus.org


Kebijakan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Premium dan Solar dua kali dalam kurun waktu bulan Maret 2015 membuat petani resah. Kenaikan harga BBM yang bersamaan dengan musim panen akan mempersulit petani dalam penutupan biaya produksi. Dengan naiknya harga BBM secara otomatis jasa sewa traktor, pompa air, penggilingan padi, sampai modal penanaman juga ikut naik. Keresahan petani muncul pada ketetapan harga jual gabah cenderung tetap, bahkan bisa turun akibat stok padi yang melimpah.

Pada awal kepemimpinan Presiden Jokowi, pemerintah telah melakukan penghapusan terhadap subsidi premium dan solar, yang artinya harga BBM di Indonesia telah mengikuti harga jual minyak mentah dunia. Saat musim panen tiba, petani membutuhkan fasilitas transportasi untuk mempermudah dalam pengangkutan gabah. Di sisi lain, pemerintah terus menaikkan harga BBM sampai batas waktu dan perubahan yang tidak pasti untuk menjaga kestabilan ekonomi dan pasukan BBM nasional. Padahal apabila harga BBM dinaikkan, biaya sarana transportasi akan ikut naik, namun harga jual gabah turun di saat musim panen tiba. Hal itulah yang membuat petani-petani resah.

Selama bulan Maret 2015, harga gabah kering panen (GKP) Rp 4.499,83 per kilogram atau mengalami penurunan 8,59 persen. Dan harga gabah kering giling turun (GKG) dari Rp 5.264,01 per kilogram atau turun 1,74 persen (sumber: BPS). Harga yang jauh lebih rendah ketimbang harga premium yaitu Rp 7.300 per liter. Petani tidak dapat memungkiri bahwa akibat kenaikan BBM, keuntungan sulit didapat. Meski pemerintah telah mengeluarkan ketetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP), hal ini terkesan sia-sia. Harga jual gabah tidak bisa dipandang sebagai keuntungan petani, malahan akan menimbulkan dampak buruk terhadap sarana produksi, biaya logistik (harga pupuk, benih), sampai transportasi.

Konstribusi pertanian yang seharusnya mempunyai peran penting dalam penyediaan pangan nasional, justru menjadi permainan. Dalih pemerintah mengalihkan subsidi BBM untuk perbaikan sarana dan infrastruktur pertanian sampai saat ini semakin tidak jelas. Ditambah dengan harga pembelian gabah dari pemerintah yang rendah membuat petani enggan menjual ke perum bulog. Alhasil ketersediaan beras bulog akan semakin sedikit. Petani akan mendapatkan untung jika menjualnya kepada tengkulak. Padahal dengan adanya tengkulak, harga jual ke konsumen bisa naik melampaui harga jual beras yang telah ditetapkan oleh pemerintah. 

Untuk menjaga kestabilan harga jual gabah terutama untuk harga Gabah Kering Giling (GKG) dan harga jual beras, minimal petani mematok harga jual di kisaran HPP yang telah di tetapkan. Meski akan mendapatkan sedikit keuntungan, setidaknya petani masih bisa menutup modal usaha tani padi agar tidak mengalami kerugian. Kewaspadaan terhadap kenaikan harga BBM perlu diketahui oleh semua petani, bahwa harga minyak nasional mengikuti harga jual minyak dunia. Sehingga seketika harga premium dan solar naik kembali, petani tidak kerepotan untuk menentukan strategi agar harga jual gabah tidak turun. Dengan adanya kebijakan pemerintah terhadap perubahan harga BBM, setidaknya pihak pemerintah memberikan konstribusi lebih terhadap harga beli gabah. (GWR)



Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar