Ironis, Negara Penghasil Minyak yang Impor Minyak

Sumber gambar: republika.com
Indonesia merupakan negara yang amat kaya akan sumber daya alamnya. Kondisi alam nan elok membuat tanah ini berlimpah hasil bumi, laut dan tak ketinggalan pula cadangan mineral minyak dan gas bumi terkandung di bumi pertiwi. Dengan kekayaan alam yang melimpah ruah tersebut, semestinya Indonesia mampu menjadi negara superpower, khususnya dalam sektor ekonomi dan menyejahterakan kehidupan rakyatnya dari sumber-sumber tersebut. Berbagai jenis ikan, tanaman dan tumbuhan, hutan, serta masih banyak lagi sumber daya di Indonesia yang apabila dikelola secara maksimal akan sangat berguna bagi kelangsungan hidup rakyat Indonesia sendiri dan dapat diekspor ke luar negri.

Melimpahnya sumber daya di Indonesia terutama minyak dan gas alam, maka tidak mengherankan jika banyak negara lain yang iri terhadap Indonesia dan ingin memiliki kekayaan alam yang terkandung di negara yang sering disebut zamrud katulistiwa ini. Pada zaman modern seperti saat ini, memiliki atau menguasai suatu negara tidak dengan cara kolonialisme seperti puluhan tahun yang lalu. Akan tetapi cukup dengan menguasai sumber dayanya saja, bukan teritorial dan pemerintahannya.

Cara-cara seperti ini amat erat dengan konsep liberalisme dan kapitalisme. Yang mana kedua paham ini memiliki paham eksploitasi, ada negara Center dan Periphery. Negara Center/Core ialah negara yang maju yang menguasai atau mendominasi negara Periphery yang notabene merupakan negara sedang berkembang. Posisi Indonesia disini ialah sebagai negara Periphery. Dapat dilihat dalam bidang minyak dan gas alam, perusahaan-perusahaan yang beroperasi dalam sektor ini merupakan perusahaan asing yang menanamkan modal, memperoleh pekerja dan bahan produksinya (minyak dan gas) di Indonesia lalu membangun negaranya dari kekayaan yang dihasilkan dari negara lain.

Melihat fenomena ini sungguh ironis. Bagaimana tidak, untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat di Indonesia PT Pertamina (Persero) menghabiskan sekitar 100 juta US Dollar dari APBN untuk mengimpor minyak. Negara dengan cadangan minyak dan gas yang sangat melimpah ini tidak sedikitpun rakyatnya dapat mencicipi hasil dari apa yang tersedia di negaranya sendiri. Jikalau ada, pasti hanya segelintir orang-orang tertentu. Untuk mengatasi hal ini tidak hanya dibutuhkan hukum atau undang-undang dari pemerintah Indonesia saja, melainkan juga pengawasan dan kepekaan dari rakyat Indonesia sendiri. (Cadika)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar