Harun Nasution Pembuka Gerbang Orientalis di IAIN

Sumber gambar: wikimedia.org


Harun Nasution, lahir di Pematang Siantar, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara pada 23 September 1919.

Ayahnya Abdul Jabbar, adalah seorang ulama terkemuka yang pernah menjabat sebagai kepala agama, hakim agama dan imam masjid di Simalungun. Sementara Ibunya yang seorang anak dari Ulama asal Mandailing yang semasa gadisnya bermukin di Makkah.

Ketertarikan Harun dengan metode berfikir rasional ala orientalis sudah mulai nampak ketika ia bersekolah di Moderne Islamietische Kweekschool (MIK) di Bukittinggi. Ia merasa sangat cocok belajar di MIK, karena ia dapat menemukan Islam yang modern. Harun menuturkan:

‘’Disana ku memakai dasi, dan di ajarkan bahwa memelihara anjing tidak haram. Itu yang kupelajari dan kurasa cocok. Kupikir, mengapa harus berat-berat mengambil wudhu dahulu hanya untuk mengangkat Alquran. Terpikir pula, apa beda Alquran dengan kertas biasa. Alquran yang kupegang itu adalah kertas, bukan wahyu. Wahyunya tidak disitu. Apa salahnya memegang kertas tanpa berwudlu lebih dahulu. Begitu juga soal shalat, memakai ushali atau tidak bagiku sama saja. Di Bukittinggi, aku mulai mengenal tokoh-tokoh besar seperti Hamka, Zainal Abidin Ahmad, dan Jamil Jambek melalui tulisan-tulisan mereka di majalah Pedoman Masyarakat dan khutbah-khutbah mereka.’’

Setelah merampungkan studinya di MIK, Harun lantas pergi ke Mesir pada tahun 1938 setelah satu tahun sebelumnya ia belajar di Makkah. Ia sangat ingin pergi ke Mesir karena ulama-ulama yang berfikiran progresif yang mengajar dirinya di MIK merupakan lulusan Mesir. Di sana ia belajar di Fakultas Ushuludin Universitas Al – Azhar. Akan tetapi di Al-Azhar ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan, maka dari itu ia memutuskan untuk pindah ke American University di Cairo.

Berbekal kemampuan berbahasa Arab, Inggris dan Belanda serta gelar B.A. yang ia dapatkan dari American University Cairo, Harun mendapatkan tawaran untuk bekerja sebagai Konsulat Indonesia di Mesir. Tapi tidak lama kemudian ia ditugaskan menjadi sekertaris di Kedutaan Besar Indonesia di Brussel. Namun karena gejolak politik yang terjadi di Indonesia dan ia masuk dalam daftar cekal akhirnya ia harus menyudahi karir diplomatiknya dan kembali ke Mesir.

Harun Nasution merupakan tipikal orang yang cukup gigih ketika berjuang menuntut ilmu dan memperjuangkan hidupnya. Ia mampu eksis d itengah kesulitan hidup yang dialaminya. Namun sangat disayangkan dia terjebak ke dalam pemikiran orientalis. Dia memang mengakui hal itu. Dia mengerti Islam melalui orientalis. Ia merasa tidak puas dengan iklim keilmuan Islam di tempat dia menuntut ilmu, Mesir.

“Sewaktu di Belgia setiap ada uang, aku pergi ke toko buku. Mencari buku-buku Islam. Aku membeli buku Islam, lalu kubaca. Aku tahu, di Belanda ada banyak buku mengenai Islam. Karena Belanda dekat, maka aku pergi ke sana. Kebetulan ada temanku di Kedutaan Indonesia di Den Haag. Dia yang membawaku ke toko buku. Aku mencari buku-buku mengenai Islam. Banyak buku Islam ditulis oleh orang orientalis. Itu kubaca dan baru aku mengerti, oh ini Islam."

"Aku semakin tertarik. Aku membaca buku-buku itu dan mempelajarinya. Kemudian aku mencari majalah-majalah yang berbahasa Inggris, yang dikarang oleh orang Islam. Yang kudapat adalah surat kabar Ahmadiyah terbitan London. Nah, di sana aku menemukan Islam yang rasional. Di situ aku mulai tertarik sama Islam"

Harun berangkat ke McGill University untuk belajar Islam pada tanggal 20 September 1962. Ia berangkat ke sana atas jasa HM Rasjidi. Di pusat studi Islam bentukan Willfred Cantwell Smith inilah, Harun Nasution mengaku benar-benar puas belajar Islam. Ia merasa cocok dengan situasi ilmiah di kampus itu. Harun menuturkan:

“Disitulah aku betul-betul puas belajar Islam. Aku mendapat beasiswa selama beberapa tahun. Sisana juga aku memperoleh pandangan Islam yang luas. Bukan Islam yang di ajarkan di Al-Azhar Mesir. Di McGill aku punya kesempatan. Baik secara ekonomi maupun waktu. Aku membeli buku-buku modern, karangan orang Pakistan atau orang orientalis. Baik dalam bahasa Inggris, Prancis, atau Belanda. Di sana liberal. Bebas. Jadi, mudah mencarinya.

Di sana baru kulihat Islam bercorak rasional. Bukan Islam irasional seperti didapatkan di Indonesia, Mekkah dan Al-Azhar. Aku bisa mengerti kalau orang berpendidikan Barat mengenal Islam dengan baik melalui buku-buku karangan orientalis. Bisa kumengerti mengapa orang tertarik Islam karena karangan orientalis. Aku memang tidak tertarik dengan karangan orang Islam sendiri. Kecuali yang modern seperti Ahmad Amin. Tapi bagaimana intelektual kita? Mana bisa membaca serupa buku-buku dari Inggris, Pakistan, India dan sebagainya? Karangan dari Indonesia tak ada yang menarik. Tapi aku tidak dipengaruhi oleh pemikiran orientalis. Aku dipengaruhi pemikiran rasional dalam Islam. Oleh filsafat, ilmu kalam yang ada dalam Islam. Kupikir barang kali pengertian atau ajaran Islam yang sudah diajarkan di timur, banyak yang mesti kita ubah. Tidak bisa begitu saja. Kulihat penafsiran-penafsiran yang kubaca itu rasional sekali. Islam rasional sekali. Di McGill itulah aku sadar: pengajaran Islam di dalam dan di luar Islam berbeda betul. Kuliah dengan dialog. Semua mata kuliah diseminarkan. Aku benar-benar merasakan manfaatnya. Aku tak hanya menerima pelajaran, tetapi terlibat untuk mengerti. Disitulah aku baru mengerti Islam ditinjau dari berbagai aspeknya. Apa yang diajarkan sebenarnya ya itu-itu juga. Tidak jauh dari sejarah. Begitu juga yang dipelajari mahasiswa McGill. Tapi dari studi sejarah, aku melihat hal lain. Rupanya antara Islam dari sejarah dengan Islam dari buku-buku kuning berbeda. Islam yang di sejarah lebih menarik dari yang di buku-buku kuning. Buku-buku kuning itu kaku. Itu yang kuperhatikan.”

Harun menulis tesis masternya mengenai konsep negara Islam. Ia menulis konsep negara Islam menurut tokoh – tokoh Islam di Indonesia. Setelah menyelesaikan studi masternya dengan tesis berjudul The Islamic State in Indonesia: the Rise of the Ideology, the Movement for Its Creation and the Theory of Masyumi, Harun melanjutkan ke jenjang Ph.D. Dalam disertasi doktoralnya yang berjudul The Place of Reason in Abduh, Its Impact on His Theological System and Views, ia menulis tentang pengaruh Mutazilah pada Muhammad Abduh. Ia memang sangat tertarik terhadap pemikiran Mutazilah. Ia menuturkan :

“Aku ingin mengetahui apa sebenarnya pendapat Abduh?. Kalau coraknya Mutazilah, maka pemikirannya sangat berarti bagi perkembangan Islam. Tapi, kalau Asy’ariah, kunilai tidak berarti apa-apa. Aku mau melihat siapa dia. Sepintas lalu, tampaknya ia Mutazilah. Tapi aku ingin membuktikan apakah ia benar – benar Mutazilah. Sejak awal di McGill, aku sudah melihat pemikiran Mutazilah maju sekali. Kaum Mutazilah-lah yang bisa mengadakan satu gerakan pemikiran dan peradaban Islam. Selanjutnya malah mendirikan universitas di Eropa. Ini yang membuatku berfikir; kalau Islam zaman dulu begitu, mengapa Islam sekarang tidak? Sebaiknya Islam zaman sekarang lebih didorong lagi ke sana. Sejak itu harapan ku cuma satu; pemikiran Asyariah perlu diganti dengan pemikiran-pemikiran Mutazilah, pemikiran para filosof atau pemikiran rasional. Atau dalam istilah sekarang, metodologi rasional Mutazilah. Sebaliknya, metodologi tradisional Asyariyah harus diganti.

Akupun memilih pengaruh Mutazilah pada Muhammad Abduh sebagai obyek studiku. Tapi pilihan ini dinilai berbahaya oleh Adams, direktur institut."

“Nanti dunia Islam mengatakan kami disini mempelopori paham Mutazilah. Itu berbahaya,” kata Adams.

"Kupikir ia sudah kacau, bukan lagi ilmuan... Kesimpulanku membuat kelas menjadi ribut. Terutama mahasiswa dari kalangan Islam. Mereka menganggapku membuat tuduhan salah terhadap Abduh. Tapi kukatakan, itulah kesimpulanku. Abduh tidak menganut pemikiran Al-Maturidi, apalagi Asyariyah. Jadi, ia tentu ke Mutazilah.

Setelah kupelajari, Muhammad Abduh memang jauh lebih Mutazilah daripada Mutazilah. Di sini orang-orang mengklaim bahwa Muhammadiyah menyerap pemikiran Abduh. Itu tidak benar. Muhammadiyah jauh dari Muhammad Abduh. Jauh sekali... Aku katakan, Muhammad Abduh adalah seorang Mutazilah. Salah seorang (tokoh) dari mereka langsung menanggapi, 'Naudzubillah,' katanya. Lalu aku bilang, 'Pak Hatta! Bagaimana jadinya kalau hal itu saya katakan kepada orang lain. Jagonya saja mengatakan begitu,' Sejak itulah aku mulai berbeda pendapat dengannya.”

Tahun 1968 Harun menyelesaikan gelar Ph.D-nya. Cita-citanya untuk merombak sistem pendidikan Islam menjadi ala Mutazilah mulai menemui titik terang ketika ia menginjakkan kaki di IAIN Jakarta pada tahun 1969.

Saat masuk di IAIN ia telah menyiapkan amunisi pembaharuannya.

Melalui bukunya yang berjudul Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, yang pada tahun 1973 ditetapkan sebagai buku utama mahasiswa IAIN se-Indonesia Harun berhasil mempengaruhi institusi pendidikan Islam itu. Buku itu dijadikan bahan bacaan utama untuk mata kuliah Pengantar Ilmu Agama Islam, melalui Rapat Kerja Rektor IAIN se-Indonesia di Ciumbuluit, Bandung, Agustus 1973.

Ada masalah yang cukup mendasar terhadap buku Harun tersebut, alur pemikirannya sangat khas kaum orientalis, yaitu meragukan otentisitas hadits nabi Muhammad SAW. Harun menulis “Karena haidts tidak dihafal dan tidak dicatat sejak semula, tidaklah dapat diketahui dengan pasti mana hadist yang betul-betul berasal dari nabi dan mana hadist yang dibuat – buat.”

Pernyataan Harun yang meragukan otentisitas Hadist tersebut sama seperti apa yang coba disebarkan oleh Ignaz Goldziher dan Joseph Schacht, Mereka menyatakan bahwa Hadits nabi hanyalah hasil kreasi orang-orang Muslim pada abad ketiga Hijriah. Sedangkan konsep Sanad tak lebih dari sebuah rekayasa para ulama untuk melegitimasi keabsahan suatu Hadist.

Jika Harun dalam kajian masalah hadits lebih cenderung menggunakan metode orientalis, maka sudah selayaknya buku Harun dikritik dan direvisi. Akan tetapi, tindakan tersebut tidak pernah diambil.

Pemikiran – pemikiran Harun juga sangat condong terhadap Sekularisme. Hal ini terlihat ketika ia justru mendukung pendapat Ali Abdul Raziq yang menyatakan sistem khilafah tidak ada dalam Islam. “Juga Syekh Ali Abdul Raziq yang berpendapat bahwa sistem kekhilafahan tidak ada dalam Al-Quran dan oleh karena itu kalau dihapuskan oleh Mustafa Kemal, maka perbuatan itu tidak bertentangan dengan Islam.”

Harun juga terkesan sembrono ketika ia memaparkan aspek pembaharuan Islam. Paham pembaharuan atau modernisasi, menurutnya memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kehidupan barat, dan segera masuk ke ranah agama yang oleh Barat dipandang sebagai aspek yang menghalangi kemajuan.

“Modernisasi Dalam hidup keagamaan di Barat mempunyai tujuan untuk menyesuaikan ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama Katholik dan Protestan dengan ilmu pengetahuan dan filsafat modern. Aliran ini akhirnya membawa sekularisme di Barat. Pembaharuan dalam Islam juga memiliki tujuan yang sama. Tetapi dalam pada itu perlu diingat bahwa dalam Islam ada ajaran-ajaran yang bersifat mutlak yang tak dapat diubah-ubah. Yang dapat diubah hanyalah ajaran-ajaran yang tidak bersifat mutlak, yaitu penafsiran atau interpretasi dari ajaran-ajaran yang bersifat mutlak itu.”

Terlihat jelas bahwa Harun mengatakan, pembaharuan dalam Islam memiliki tujuan yang sama dengan Barat. Meskipun kemudian ia membalut kata – katanya bahwa ajaran yang dapat diubah adalah ajaran – ajaran yang bersifat tidak mutlak, tapi tetap tanpa penguraian.

Dalam upaya pembaharuannya, Harun juga tidak segan – segan untuk menolak hadits shahih dalam masalah Aqidah Islamiah. Seperti pada kasus rukun Iman yang keenam, dia mengatakan, jika umat Islam mau maju, maka rukun iman yang keenam, yaitu beriman terhadap qadha & qadhar harus ditinggalkan.

Untuk menyebarkan pemikiran ‘pembaharuannya’ Harun menulis sejumlah buku antara lain: Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya (1974), Teologi Islam: Aliran-Aliran, Sejarah, Analisa, dan Perbandingan (1977), Filsafat Agama (1978), Falsafat dan Mistisisme dalam Islam (1978), Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan (1978), Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah (1987), dan Islam Rasional (1995).

Memang dalam studi Islam ala orientalis, masalah keyakinan akan kebenaran Islam bukanlah menjadi tujuan. Bahkan, para orientalis dengan sangat berani menyerang sendi-sendi Islam secara sistematis. Kaitannya dengan masalah Harun Nasution, dia tidak hanya mempertanyakan kebenaran Islam, namun juga meragukan otentisitas hadits sahih. Selain itu juga muncul kesan bahwa Harun Nasution hendak menanamkan keragu-raguan terhadap keagungan syariat Islam.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Ali Husny Al-Kharbuthly, bahwa ada tiga motif utama kaum orientalis dalam mengkaji Islam. Pertama, untuk menyebarkan agama Kristen ke negeri Muslim. Kedua, adalah motif penjajahan terhadap negeri-negeri muslim, dan yang terakhir adalah untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Memang aspek pendidikan memerlukan waktu panjang untuk membuat perubahan. Tetapi, apabila perubahan itu telah terjadi, maka langsung berdampak sangat besar. Jika perubahan yang terjadi bersifat konstruktif dan mendukung kemajuan umat berdasarkan Alquran & Hadits maka perlu mendapat dukungan. Tapi, jika perubahan yang dimaksud merupakan perubahan yang dimaknai oleh orang-orang orientalis, maka hal itu justru akan menjadi penyakit. Apabila penyakit itu sudah bersifat kronis, bisa jadi penyakit itu sudah dianggap menjadi bagian dari kehidupan seseorang. Metode orientalis dalam studi Islam yang destruktif terhadap Islam justru kini dianggap sebagai kebenaran dan metode ampuh untuk memahami Islam, oleh sebagian besar orang.

Kini, usaha Harun untuk me-mutazilahkan UIN sudah menampakkan hasil yang ‘memuaskan’. Contoh konkritnya adalah apa yang terjadi pada masa ta’aruf mahasiswa baru Fakultas Ushuludin IAIN Bandung pada 27 September 2004. Ketika salah seorang panitia acara ta’aruf memberikan sambutan dengan kata-kata “Selamat bergabung di area bebas Tuhan!!!”

Sambutan yang tak kalah ‘meriah’ juga datang dari anak-anak jurusan Sosiologi Agama. Salah seorang dari mereka mengatakan “Mahasiswa Sosiologi Agama adalah insan kreatif inovatif yang sosialis demokratis. Beri kesempatan kepada teman – teman kami yang senantiasa mencari Tuhan.” Kalimat tadi langsung disambung oleh salah satu diantara mereka dengan teriakan “Kita berdzikir bersama anjing hu akbar!!!”

Kejadian seperti inilah yang lantas menimbulkan pertanyaan d iantara kita. Mengapa geraka penghancuran dan penistaan terhadap aqidah dan syariat Islam justru muncul dari kalangan institusi pendidikan Islam?

Seharusnya di kampus-kampus itulah kelak akan lahir sarjana-sarjana dan para doktor di bidang agama yang akan melanjutkan amanah risalah. Tapi yang terjadi justru malah sebaliknya. Inikah bentuk pembaharuan yang diinginkan Prof. Harun Nasution? (nang)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar