Gerakan 28 April ’15: Fakultas Agama Islam Berkabung



Selasa (28/4), Keluarga Mahasiswa Fakultas Agama Islam (KM FAI) yang tergabung dari BEM FAI, HMJ dan Senat sepakat untuk mengadakan aksi demonstrasi yang selama ini telah dinantikan sebelumnya. Sebelum mengadakan aksi, pihak KM FAI menggerakkan seluruh mahasiswa FAI tanpa terkecuali untuk ikut berpartisipasi dalam konsolidasi di depan Sportorium, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Bantul. Saat konsolidasi berlangsung, seluruh mahasiswa berhak bersuara untuk mempersiapkan perihal tuntutan yang akan dibawakan esok harinya. 

Aksi demo yang bertemakan "Kedzaliman FAI" tersebut merupakan tindakan represif yang dilakukan pihak KM FAI kepada birokrasi kampus untuk menuntut kedzaliman yang selama ini telah terjadi. Seperti yang dikutip oleh reporter Nuansa, Fadli Thalib selaku koordinator umum pada aksi ini mengatakan bahwa pelaksanaan audiensi tertutup yang dilanjutkan audiensi terbuka, lalu disambung dengan penempelan selebaran kertas yang berbentuk kritik, juga tidak membuat pihak fakultas peduli terhadap permasalahannya. Mereka hanya merespon dengan jawaban "Akan diusahakan," tetapi tindakannya nihil.

Dalam aksi damai yang dilakukan oleh mahasiswa FAI UMY ini, mereka membuat pernyataan sikap melalui selembaran yang dibagikan kepada para mahasiswa lainnya yang mengikuti aksi demonstrasi tersebut. Dalam selembaran tersebut mahasiswa menuntut tujuh tuntutan berkaitan dengan sistem birokrasi fakultas yang mereka nilai tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya. 

Adapun tuntutan tersebut mulai dari memberikan hukuman kepada dosen-dosen yang bermasalah, baik dari segi pemberian nilai maupun dosen yang melakukan perubahan jadwal seenaknya, revolusi sistem birokrasi FAI, meminta kejelasan mengenai Kerja Kuliah Nyata (KKN) dan Mubaligh Hijrah (MH), meningkatkan profesionalitas kinerja pegawai TU FAI, mengganti para pegawai yang memilki kinerja buruk, mengeluarkan surat keputusan Program Kader Mubaligh Indonesia (PKMI) untuk mahasiswa Komunikasi Konselling Islam (KKI) dan meminta kejelasan mengenai kurikulum yang diterapkan di FAI. Tampak pada aksi tersebut, mayoritas dari mereka mengenakan dresscode hitam sebagai tanda berkabungnya mahasiswa terhadap permasalahan fakultas. 

Aksi yang dilakukan mahasiswa FAI ini juga mampu membuat para pimpinan FAI ikut turun tangan menyambut tuntutan mahasiswa di antaranya dekan FAI, wakil dekan bidang kemahasiswaan dan kerjasama, ketua jurusan Ekonomi Perbankan Islam (EPI), ketua jurusan Komunikasi Konselling Islam (KKI), hingga wakil rektor I Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Apakah kita sebagai kaum tertindas hanya berdiam diri? Lalu takut melawan?


DOSEN YANG TIDAK PROFESIONAL

Aksi kali ini, mahasiswa menuntut kinerja dari dosen-dosennya, salah satunya yang bernama Asep dinilai sangat buruk dalam sistem kegiatan belajar mengajarnya. Hal ini terbukti dari keterlambatan pemberian nilai yang dilakukan oleh Asep kepada para mahasiswa dan nilai yang diberikan pun tidak memuaskan tanpa maksud yang jelas. Saat itu seluruh mahasiswa EPI pun turut berteriak memanggil namanya saat aksi sedang berlangsung. Dr. Ir. H. Gunawan Budiyanto, M.P selaku wakil rektor 1 mengapresiasi kepada mahasiswa yang menuntut kinerja mengajar dosen. Ia meminta kepada mahasiswa agar menilai kinerja dosen dengan baik yang dapat dilakukan melalui penilaian KRS online. 

Selain itu, Nurwanto, S.Ag., M.A., M.Ed. yang menjabat sebagai wakil dekan bidang kemahasiswaan dan kerjasama juga menyampaikan dukungannya kepada mahasiswa. “Kita akan mengupayakan proses ini sampai hak-hak adik mahasiswa terpenuhi,” ungkapnya dalam sambutan di sela-sela orasi tersebut. Nurwanto juga memberikan izin kepada mahasiswa untuk melakukan aksi besar-besaran, apabila tidak merasakan dampak positif dari aksi yang mereka lakukan dalam menindaklanjuti tuntutan-tuntutan mahasiswa. Namun, pada kesempatan itu juga Nurwanto mengungkapkan kekecewaannya terkait aksi yang dilakukan oleh mahasiswa FAI. Hal ini disebabkan aksi yang telah berlangsung bersamaan saat para mahasiswa harus menjalankan ujian tengah semester. 

Terkait dengan kinerja dosen yang tidak profesional, dekan FAI berjanji akan mengeluarkan Surat Peringatan (SP) kepada dosen bersangkutan. “Jika peringatan 1 tidak dihiraukan, lalu peringatan 2 juga demikian, maka peringatan 3 berbentuk opsi apakah ia stay, ataukah out!” tegasnya. 

Selaras dengan apa yang disampaikan oleh Zainuddin, ketua jurusan Ekonomi Perbankan Islam, Syarief Asa’at, SEI, Msi telah mengeluarkan surat peringatan berkaitan kepada dosen yang memiliki tanggungan nilai yaitu pada tanggal 17 April dan 24 April 2015. Hingga tanggal 24 April kemarin, nilai dikroscek oleh jurusan baik secara manual terdapat 30 nilai yang belum disetor oleh beberapa dosen diantaranya Asep Purnama Bahtiar, S.Ag. M.Si , Sobar, S.EI., Drs. Mashudi, M.Ag., Miftahkhul Khasanah, MSi dan Hilman Latief, M.A., Ph.D. 

KEJELASAN KULIAH KERJA NYATA DAN MUBALIGH HIJRAH

Aksi yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Fakultas Agama Islam juga menuntut perihal kejelasan KKN dan MH yang cukup dilematis. Adapun duduk masalah tuntutan ini yaitu keputusan penutupan pendaftaran KKN dan MH di FAI yang tidak sinkron dengan pihak LP3M. LP3M ialah Lembaga Penelitian, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat yang berwenang dalam mengurusi hal tersebut. Hal ini membuat mahasiswa yang tidak mendaftar MH sebelumnya dan lebih memilih daftar KKN mepet waktu dilanda kebingungan karena pendaftarannya telah ditutup sejak 18 April lalu. Dari universitas sendiri, tanggal 30 April merupakan hari terakhir pendaftaran MH dan KKN. Padahal jika kita telisik lebih dulu, mahasiswa dapat memilih salah satu program yang akan dipilih sesuai keinginan mahasiswa itu sendiri. Jika mahasiswa memilih untuk mengikuti MH, maka ia tidak perlu mengikuti KKN, begitu juga sebaliknya. 

REVOLUSI SISTEM BIROKRASI KAMPUS

Mahasiswa menuntut adanya perubahan kinerja dari birokrasi kampus yang tidak hanya dari pihak dosen saja namun lebih dikerucutkan lagi pada bagian pegawai FAI terutama pegawai Tata Usaha (TU). Mahasiswa meminta agar pegawai TU dapat lebih baik lagi dalam hal pelayanan terkait pemberian informasi maupun sikap kepada mahasiswa, bahkan mahasiswa menuntut agar mengganti pegawai yang buruk dalam bekerja.

Dengan ditandatangani MoU antara mahasiswa dengan pihak pimpinan kampus, maka pihak kampus menyetujui semua tuntutan yang dilakukan oleh mahasiswa. Dalam perjanjian tersebut, mahasiswa memberikan waktu kepada pihak kampus selama satu minggu untuk memenuhi tuntutan mereka. “Kami memberikan waktu selama satu minggu kepada pihak fakultas untuk merealisasikan tuntutan kami. Namun, dalam satu minggu ini hal penting yang harus direalisasikan yaitu berkaitan dengan nilai, KKN dan MH yang sampai saat ini merupakan masalah yang paling urgent untuk mahasiswa sendiri,” jelas Fadli saat ditemui setelah melakukan aksi. 

Aksi ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap dari Fadli Thalib sebagai koordinator umum, sekaligus merupakan ketua senat Fakultas Agama Islam. Sebelumnya mahasiswa melakukan aksi dengan berjalan kaki dari lobi FAI menuju gedung AR A dan AR B, setelah itu mereka juga melakukan penurunan bendera setengah tiang sebagai bukti simbolik kekecewaan mereka. (Fir, Br)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar