Gedungku Milik Siapa?




Beberapa waktu lalu UMY meresmikan gedung baru yang diresmikan oleh Jusuf Kalla dan gedung itu diperuntukkan untuk kegiatan perkuliahan program internasional dan pascasarjana. Pembangunan gedung yang dimulai sejak pertengahan 2013 ini telah rampung pada Maret 2015 dan diresmikan serta diberi nama Gedung Pascasarjana, yang semula nama gedungnya Raden Kasman Singodimedjo. Peresmian gedung pascasarjana ini menuai beberapa pertanyaan terlebih dari kalangan mahasiswa maupun pihak luar kampus. Kedatangan beredarnya isu bahwa gedung ini berganti nama menjadi gedung JK School of Government, kedatangan orang nomor dua di negeri ini tak lepas menjadi sorotan kalangan mahasiswa, dan belum terselesaikannya permasalahan kurangnya ruang kelas untuk kegiatan perkuliahan, susahnya mendapatkan akses untuk gedung pascasarjana menjadi salah satu pemicu pertanyaan yang timbul dari pihak mahasiswa.

Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., selaku direktur program pascasarjana UMY menerangkan mengenai nama gedung tersebut. “Nama gedungnya Raden Kasman Singodimedjo, salah satu pertimbangan Muhammadiyah memberikan nama ini dikarenakan beliau merupakan ketua badan pengawas Muhammadiyah pada masanya dan salah satu tokoh Muhammadiyah ini pada waktu itu banyak berperan di dalam proses kemerdekaan Indonesia. Sedangkan untuk JK School of Government itu hanya satu lantai saja, bukan keseluruhan dari gedung ini,” terangnya.

Selain itu, Nurmandi menambahkan mengenai kepindahan mahasiswa program internasional ke gedung baru ini "Mereka membayar lebih mahal, sudah seharusnya mereka yang membayar lebih mendapatkan pelayanan yang lebih baik. Banyak juga dari dosen asing yang selama ini sering protes, mengapa bayarnya lebih mahal tapi mendapatkan fasilitas yang sama saja dengan fasilitas reguler dan tidak menjadi prioritas utama,” ujar Nurmandi.

Kemudian, bagaimana nasib mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa yang selama ini masih menempati ruangan Unires untuk kegiatan perkuliahan? Hingga saat ini upaya yang dilakukan dari pihak kampus belum mampu menyelesaikan masalah keterbatasan ruangan ini. Gedung baru yang saat ini dibangga-banggakan belum mampu menjadi solusi. “Saya mengusulkan supaya kegiatan program internasional dipindahkan ke gedung baru, dan Fakultas Pendidikan Bahasa dapat masuk ke lingkungan kampus,” ujar Nurmandi. Namun belum dapat dipastikan kapan hal ini dapat direalisasikan. Beberapa mahasiswa juga memiliki pendapat yang sama “Mahasiswa FPB juga harus mendapatkan fasilitas kampus yang sama dengan mahasiswa lainnya sesuai dengan apa yang telah mereka bayarkan, jadi mereka hendaknya dipindahkan ke gedung di dalam kampus terpadu UMY,” ungkap Ulfa salah satu mahasiswi program internasional UMY.

Terkait isu yang beredar tentang sistem peminjaman ruang gedung pascasarjana untuk agenda di luar kegiatan akademik yang harus mendapat persetujuan dari rektorat serta dikenakannya biaya sewa ruang, Nurmandi mengungkapkan “Biaya yang dipungut itu diperuntukkan bagi kebersihan dan perawatan ruang setelah pemakaian, selama ini orang-orang yang menyelenggarakan agenda selalu memberi uang ke cleaning service, mengapa tidak beri saja ke kita dan kita yang akan memberikannya kepada para petugas kebersihan. Kita memberi tarif sekitar Rp. 150000-200000,". Namun untuk kegiatan perkuliahan peminjaman ruang gedung tidak dikenakan biaya “Boleh saja, asalkan slotnya ada. Karena gedung ini penuh pada Kamis-Sabtu, selain itu boleh saja digunakan. Prosedurnya yaitu dengan mengajukan surat langsung ke Tata Usaha gedung Pascasarjana,” imbuhnya.

Berbicara tentang fasilitas yang ada di gedung baru ini Ulfa juga menuturkan keluhannya “Fasilitas di sana lebih bagus, saya senang di sana karena mejanya lebih bagus, LCDnya lebih bagus, dan liftnya lebih bagus daripada gedung sebelumnya, namun kurangnya itu pada kantor pusat pelayanan yang masih terpisah dan yang jelas fasilitas parkir yang masih kurang tertata karena masih sering diserobot oleh para jamaah yang hendak ke masjid,” Di lain sisi Surya Budi Lesmana selaku penanggung jawab proyek pelaksana mengungkapkan bahwa sejak awal tidak ada konsep parkir motor di depan gedung baru ini, yang ada adalah parkir mobil. Namun pada kenyataanya saat ini penuh dengan motor, padahal motor itu sudah disediakan area parker di depan gedung kembar AR Fachruddin. 

“Gedung ini sudah dibangun dengan standar yang tinggi dan biaya yang cukup mahal, oleh karena itu yang memanfaatkan gedung ini juga harus menyesuaikan standar itu, dalam artian standar akademiknya harus baik dan tinggi. Pascasarjana itu kan basicnya adalah research, bukan mengejar ilmu tapi memproduksi ilmu, untuk itu pascasarjana harus ada kombinasinya dan publikasinya harus dirujuk orang. Tapi semua itu adalah proses. Setelah dibangunnya gedung ini, harapan saya sebagai direktur yaitu meningkatkan kualitas misalnya dari akreditasi," ungkap Nurmandi saat ditemui di kantor direktur pascasarjana. (Glg & Nada)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar