Belajar Membuat Film Pendek Bersama Anak-Anak Panti Asuhan Bina Siwi



Di balik keterbatasan fisik maupun mental yang dimiliki oleh seseorang terkadang memiliki kemampuan dan kelebihan yang tidak dimiliki manusia pada normalnya. Begitu pula dengan yang dialami oleh anak-anak panti asuhan Bina Siwi yang memiliki kurang lebih 30 anak didik yang sebagian besar memiliki keterbelakangan mental atau biasa disebut dengan Tunagrahita.

Keterbatasan mental yang dimiliki anak-anak panti asuhan yang berlokasi di Pajangan, Bantul tersebut tidak menyurutkan rasa semangat dan kreatifitasnya dalam mengolah suatu hal dalam bentuk kesenian maupun kerajinan. Berbagai olahan tangan dari bahan dasar kain bekas pun telah berhasil mereka olah, seperti pembuatan kipas, miniatur pakaian adat daerah, pakaian rajutan, dan bahkan pembuatan tas dari barang bekas pun berhasil mereka buat.

Terlepas dari olahan kerajinan tangan tersebut, pada jumat (10/4) sekelompok mahasiswa dari Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mencoba menghadirkan kreatifitas dan karya baru yang ditularkan kepada anak-anak panti asuhan Bina Siwi, yaitu dengan pembekalan pelatihan pembuatan film pendek dengan metode sinematografi.

Catur Igo Prasetyo, yang merupakan ketua dari penyelenggara kegiatan menjelaskan, bahwa kegiatan yang dilakukan ini merupakan hasil dari proposal PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa) kelompoknya yang telah berhasil lolos di danai oleh Dikti (Direktorat Perguruan Tinggi) dengan ajuan proposal pelatihan pembuatan film pendek berbasis sinematografi.

Kegiatan yang dilakukan yaitu berupa workshop penggunaan teknik dasar kamera, workshop public speaking, yang nantinya berguna untuk bekal acting anak-anak, workshop penulisan naskah, pembuatan film, dan yang terakhir pembuatan buku. “Kegiatan yang akan kami lakukan pada dasarnya bertujuan untuk berbagi ilmu kepada teman-teman panti Bina Siwi, yaitu dengan mengadakan pelatihan pembuatan film ini, selain itu kami juga berkeinginan menghapuskan pemikiran masyarakat bahwa orang-orang yang memiliki keterbatasan hanya dapat menjadi objek dalam film, namun pada dasarnya mereka juga mampu menghasilkan karya film yang terbaik,” ungkap igo.

Antusias anak-anak dalam belajar pembuatan film tersebut terlihat dari cara mereka mendengarkan materi yang dipaparkan dan pada praktek penggunaan kamera. Tampak dari sebagian mereka berebut untuk mencoba menggunakan kamera yang telah disediakan. Jumilah, selaku pengurus panti Bina Siwi mengungkapkan, bahwa kegiatan pelatihan pembuatan film ini baru pertama kali diadakan di panti tersebut. “Selama ini pelatihan yang diberikan hanya kreatifitas kerajinan tangan dan kesenian daerah, untuk pembuatan film baru kali ini dilakukan, dan ternyata anak-anak sangat antusias dalam kegiatan ini,” ungkapnya.

Ditambahkan Igo, kegiatan ini nantinya akan berujung pada kegiatan  pemutaran film yang telah dibuat oleh anak-anak panti dan launching buku tulisan pengalaman anak-anak dalam membuat film. Kegiatan tersebut nantinya juga akan mengajak dan mengundang Dinas Sosial Kota Yogyakarta untuk melihat hasil karya yang telah dibuat anak-anak panti. “Kami akan mengadakan screening film dan launching buku, untuk waktu dan tempatnya masih kami persiapkan,” imbuhnya. (adm)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar