Aliansi Untuk Rembang Ditolak Berdemonstrasi di UGM



Universitas Gajah Madah (UGM) kembali digeruduk. Kali ini Aliansi Mahasiswa Jogja Peduli Rembang (AMJ-PR) yang berdemonstrasi di depan Gedung Rektorat UGM, pada Kamis, (2/04). Aksi diawali dengan berjalan sambil berorasi menuju Gedung Rektorat UGM untuk bertemu dengan Rektor. Sesampainya di lokasi, Kepala Bidang Keamanan UGM, Nur Sulistyo, mengintimidasi dan menolak kedatangan massa aksi berdemontrasi di UGM.

“Anda mahasiswa mana? Anda mahasiwa mana?” kata Nur. Langsung dijawab oleh mahasiswa tersebut, “Saya mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan,” ucap mahasiswa UAD itu. Sulistio membalas, ”Mengapa kok langsung datang. Lapor dulu kesana. Kalian sudah mengganggu rumah orang. Kalian sudah masuk tanpa ijin. Tidak menggunakan tatakrama. Kami keberatan menerima kalau cara kalian seperti ini,” ujar Nur. Selain itu, ia juga mengatakan para demonstran tidak menaati peraturan. “Pokoknya jam sebelas ini kalian harus bubar. Ini rumah kami. Kalau mau menyampaikan sesuatu, sampaikan dengan cara intelek, dengan seminar,” tambahnya.

Massa yang kecewa karena mendapat kecaman dan penolakan dari petugas keamanan UGM, demonstran langsung membuat seminar dadakan sebagai sindiran atas pernyataan petugas keamanan UGM.



Yuli, seorang perempuan perwakilan dari gerakan buruh yang tergabung dalam aliansi ini dalam orasinya, ia mengungkapkan beberapa kekesalan kepada pihak UGM, “Apakah seorang orang buruh seperti saya, tidak bisa masuk di UGM? Tidak boleh? Lantas kampus UGM ini milik siapa? Orang bilang kampus UGM itu kampus rakyat, tapi hari ini saya tidak yakin akan hal itu,” kata Yuli.

Hazairin Rowian, saat di wawancara secara terpisah, ia mengatakan dalam aksi ini juga akan dimasukan hasil kajian AMJ-PR. ”Hasil kajian dari aliansi ini kita masukkan kepada pihak Rektorat UGM, tetapi pak Nur Sulistyo sebagai Kepala Keamanan kampus tidak menggubris niatan baik kita dari hasil kajian tandingan, terkait saksi ahli dari akademisi UGM, yaitu Eko Haryono dan Heru Indrayana,” kata Hazairin. Hazairin menambahkan, UGM sudah tidak merpresentasikan sebagai kampus kerakyatan. “UGM sudah menjauh dari filosofinya sebagai kampus kerayatan,” tutupnya. (Idra)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar