Aku, Suamiku dan Dia




Oleh: Zahrina Fisrtya Chanti

Aku

Malam ini gerhana bulan terlihat indah bulat sempurna. Tapi sayang aku hanya bisa melihatnya dari jendela kamar, aku terbaring sakit karena sering kehujanan akhir-akhir ini. Pekerjaanku sering membuatku kelelahan sebagai dosen, aku dituntut untuk selalu melayani mahasiswaku. Rasanya ingin menyerah tapi teringat bagaimana anak pertamaku yang sedang kuliah sering mengeluh tentang dosennya yang sering datang terlambat, membuatku tetap bersemangat mengajar. Aku berharap kehidupanku berjalan dengan lancar , tapi ini semua belum ada apa-apa ketika dia datang di kehidupanku.

Kesibukanku bukan hanya sekedar menyibukkan diri untuk menghindari dari suamiku yang menurutku terlalu cuek denganku, tetapi karena untuk menambah perekonomian rumah. Entah mulai sejak kapan keharmonisan keluargaku mulai berkurang, rasanya hampa. Kehidupanku di kampus membuatku berkenalan dengan banyak orang. Hingga suatu ketika perasaanku ini mulai muncul, yang awalnya hanya membahas tentang kantor hingga keluarga. Aku merasa nyaman dengan dia, hingga aku lupa ada suamiku di rumah.

“Hai, bagaimana kabarmu? Bagaimana keadaan di rumah? Apa masih sedingin biasanya?” kata dia pagi pagi di kantor.

“Ya seperti biasa, tidak terjadi apa apa. Bosan.” jawabku datar.

“Sudahlah, lupakan sejenak fokuslah paada pekerjaanmu hari ini, semangat!!” dia memberikan semangat pagi untukku.

Ya pekerjaan hari itu akhirnya berjalan dengan semangat karena dia. Matahari mulai tenggelam, dan suamiku tidak bisa menjemputku karena ada pasien mendadak.

“Belum pulang? Bareng yuk” ajak dia.

“Iya belum nih, suamiku ada pasien nih, okey deh ikut, aku takut pulang sendiri” jawabku mengiyakan.

Kejadian itu pun sering berulang, akhirnya pada suatu hari dia menyatakan perasaan sesungguhnya.

“Saya nyaman dengan Anda. Tapi kita mempunyai keluarga masing-masing” jawab dia jujur.

“Iya, saya juga nyaman dengan Anda, tapi saya inginnya selalu bersama mu. Tapi mungkin tidak mungkin” jawabku.

“Bagaimana kalau kita menyembunyikan hubungan ini dengan baik baik, aku sayang sama kamu” saran dia.

“Okay mas, kita coba jalani dulu.” Jawabku tak yakin.

Hari hari pun berlalu dengan cepat, hampir setahun hubungan ini berkembang. Masih belum ada seseorang pun yang mengetahuinnya. Suamiku pun tidak curiga dengan semua ini, tapi aku merasa kalau suamiku berubah lebih sering marah denganku walaupun masalah kecil.

“Kamu itu bagaimanasih bu, masak nasi sampai gosong begini?” marah suamiku.

Aku hanya terus menunduk sambil mengambil nasi yang tersisa yang sekiranya masih bisa dimakan. Lalu aku bercerita dengan “dia”, dia mendengarkan dengan serius dan menenangkanku. Aku berani menghubungi dia ketika malam di kamar, karena memang aku tidur tidak dengan suamiku, karena suamiku kalau tidur mendengkur dan aku tidak bisa tidur karena berisik.

Suamiku

Entah mengapa rasanya kehidupan ini berubah, orang yang kucintai terlalu sibuk dengan dunianya. Apa sudah tak butuhkah dia denganku, aku pun tak tau itu. Tapi akhir-akhir ini dia terlihat bahagia sekali, dia sering terlihat memaikan handphonenya, seperti asik sms-an ria dengan seseorang, memang aku gaptek, tapi aku tahu ada sesuatu yang tak beres dengan keasikan dia bermain dengan handphonenya. Hingga suatu hari, tetanggaku menceritakan apa yang dilihatnya. Kalau orang yang aku cintai ini, pulang dengan seorang pria lain. Rasanya dunia hancur seketika, aku percayakan semuanya, tapi beginilah balasannya.

Aku tak ingin melepaskan dia karena aku sangat mencintainya. Tapi karena kabar itu tanpa sengaja aku selalu melukai perasannya dengan perkataanku. Seperti malam ini tanpa sengaja aku memarahinya Karena nasi yang dia masak gosong karena dia tinggal mengerjakan laporan yang harus dia kerjakan. Seharusnya aku bisa membantu dia, tapi karena amarah yang terpendam ini tanpa sadar aku marah dengannya.

“Bu bagaimana pekerjaanya apa sudah selesai? Sini aku pijitin dulu pasti capekkan?” ujarku untuk menghibur dia”

“iyanih mas, masih banyak banget” jawab dia manja.

Berharap kalau dia begitu terus tanpa ada perasaan dengan orang lain. Keesokkan hari, anakku Zara pulang dari Bogor karena liburan kuliah, bahagia sekali dia datang.Malaikatkecilkuin isudah tumbuh besar saja. Hari-hari pun berlalu, dan tiba saat dia harus pulang lagi karena liburan telah usai, sebentar sekali rasanya aku bertemu dengan malaikat kecilku itu. Kehidupan keluarga terlihat lebih indah ada dia. Suatu hari ketika aku ke kamar Zara, aku menemukan kertas yang dibuang di pojokan kamarnya, aku kaget dengan tulisannya.

Ya Tuhan, apa salah keluarga ini? Kukira Engkau telah mengirimkanku malaikat terindah di dunia ini.Tapi mengapa malaikatku saat ini berubah jadi hal yang buruk di mataku. Lalu bagimana dengan ayahku, apa salah dia? Kurang apa dia? Tuhan, jangan sampai keluarga ini hancur hanya karena masalah in.i

Hatiku remuk membacanya, aku harus menyelesaikan masalah ini.

“Bu, ada yang ingin aku sampaikan, cermati dengan sungguh-sungguh ya” pintaku.

“iya mas, katakan saja” jawabnya.

“Kamu kalau punya cinta yang lain tak apa, hanya sekedar kagum dengan orang lain tak apa. Tapi jangan kau pupuk perasaan itu, karena cinta yang kau pupuk itu akan semakin berkembang, dan cintamu yang lain, aku, akan semakin layu karena tak kau pupuk. Janganlah kamu membiarkan perasaanmu diketahui sampai ke Zara, jangan biarkan dia terbebani dengan masalah kita, biarkan dia sibuk dengan kuliahnya saja. Aku tak tahu bagaimana dia tahu, terserah bagaimana kamu akan melanjutkannya seperti apa, tapi ingat aku tak akan menceraikanmu demi Zara”, ujarku menahan sakit di dada.

Seketika istriku menangis di pelukanku, menangis sejadi-jadinya, tapi dia tak mengatakan apa-apa. Tapi semoga dia sadar dengan perkataanku.

Aku

Malam ini aku terkejut bukan main dengan perkataan suamiku, hingga aku tak bisa membendung air mataku, dan akhirnya meleleh deras. Tapi bagaimana mungkin aku harus memutuskan hubunganku dengan dia yang sudah terlanjur ini. Aku terlanjur nyaman dengan dia, aku tak mau kehilangan dia, tapi aku juga tak mau kehilangan cintaku semenjak aku duduk di bangku sekolah. Aku pun tak mau membuat sedih Zara. Dan aku memutuskan untuk tetap melanjutkan hidupku dengan suamiku dan dia yang akan selalu aku tutupi lebih rapat lagi.

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar