“Seharusnya Merdeka”

Sumber gambar: jangankuper.com


Oleh: Eny Widiaty

“Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain,

diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang 

sesingkat-singkatnya...”

Kata-kata itulah yang telah dikumandangkan oleh Ir. Soekarno tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 dan menjadi simbol bahwa Indonesia telah mendapat KEMERDEKAAN atas dirinya. 69 tahun silam yang lalu, kata KEMERDEKAAN itu telah terpekik di atas cakrawala Indonesia. Ribuan nyawa telah dikorbankan untuk sebuah kemenangan suci atas kesewenang-wenangkan kaum penjajah. 69 tahun sudah Indonesia mencoba melupakan dendam atas darah yang telah dibayar oleh jiwa-jiwa para syuhada.

Tapi, benarkah kita sudah merdeka? Atau jangan-jangan itu hanya sebuah ikrar tanpa makna? Lantas apa makna kemerdekaan yang sesungguhnya?

Berkata tentang kemerdekaan Indonesia, memang benar Indonesia telah merdeka sejak dikumandangkannya Proklamasi oleh Ir. Soekarno tanggal 17 Agustus tahun 1945. Indonesia telah dinyatakan bebas dari penjajah Belanda yang kejam dan rakus, Indonesia tidak lagi di bawah tekanan dan penguasaan para penjajah. Jika memang demikian adanya, lalu kenapa kemerdekaan Indonesia masih diragukan? Berkilas dari pengertian kemerdekaan, banyak definisi terkait soal kemerdekaan itu sendiri. Mulai dari para ahli, dosen, mahasiswa, sampai kepada rakyat biasa memberikan definisi yang berbeda untuk satu kata, KEMERDEKAAN. Hilangnya penguasaan penjajah atas Indonesia itu memang merupakan sebuah kemerdekaan, tapi hanya sebatas itukah kita memaknai sebuah kemerdekaan? Bagaimana dengan negeri kita saat ini, yang mana kita lebih merasa kehilangan dan bersedih ketika pabrik besar milik asing yang mempekerjakan ribuan anak-anak negeri bangkrut. Kita tidak merasa sedih ketika ada tetangga kita yang usahanya jatuh karena kehabisan modal. Perbankan kita mempersulit pengkucuran modal untuk anak-anak negeri yang ingin membangun usaha. Disisi lain, orang asing yang padat modal difasilitasi dengan mudah berapapun dana yang diperlukan.

Sekarang, mari kita instrospeksi diri. Apakah kemerdekaan kita hari ini telah terbebas dari intervensi orang lain yang ada kepentingan untuk merusak generasi, atau malah sebenarnya yang menjajah negeri kita adalah kita sendiri. 69 tahun sudah Indonesia membangun dirinya dari masa yang kelam, setiap hari Indonesia mencoba untuk bangkit menuju tatanan Indonesia yang lebih baik. Semua telah dibangun oleh Indonesia, mulai dari gedung pencakar langit, pabrik-pabrik, stasiun, bandara, semua kecanggihan teknologi mulai diterapkan untuk menuju Indonesia yang berkemajuan. 

Kata MERDEKA yang disandang oleh Indonesia sampai detik ini adalah hanya sebuah basic atau tampilan luar yang membungkus segudang derita di dalamnya. Mengapa demikian? Karena nyatanya rakyat Indonesia masih saja harus berjuang memerdekakaan diri dari kemiskinan yang semakin hari semakin menjerat mereka. Apakah ini yang dikatakan sudah MERDEKA? Jangankan mempunyai rumah yang layak, untuk makan saja mereka harus berjuang. Mereka seakan terjajah di negeri sendiri yang dikenal oleh orang sebagai negeri yang kaya. Indonesia dengan kekayaan alamnya yang melimpah, bahkan dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Seharusnya Indonesia telah bisa menyejahterakan orang-orang yang berlindung di dalamnya. Tapi nyatanya, mulai dari kekayaan alam sampai dengan manusia-manusia yang hidup di dalamnya dikuasai oleh asing. Semua yang ada di tanah persada Indonesia telah dikontrol oleh para kapitalis. Sementara kita hanya budak dan kacung suruhan mereka. 

Bagaimana tidak saya katakan demikian, pemerintah kita sendiri belum lama menjabat atau bahkan bisa saya katakan duduk di atas tahta jabatannya ternyata telah mempunyai hutang yang jumlahnya melebihi hutang Presiden Suharto dulu, jumlah yang sangat tidak sedikit. Dari mana uang tersebut didapatkan? Dan siapa yang akan melunasi hutang-hutang tersebut? Jawabannya pasti rakyat Indonesia, tapi sanggupkah kita melunasi hutang yang sebanyak itu sementara kita di negeri sendiri saja sudah terpontang panting. 

Jadi, sudah MERDEKAKAH kita?

Meihat ketika masih banyak rakyat yang menengadah tangan di pinggir jalan, di tepian lalu lintas. Bahkan rela menipu Tuhan, menipu diri sendiri untuk mendapatkan sesuap nasi, meletakkan obat merah di tubuh yang sehat, berlagak cacat untuk mendapatkan seribu rupiah dari tangan saudara yang berbaik hati. Bahkan ketika mereka penuh harap pada gedung-gedung megah di pinggir jalan raya, yang berdiri kokoh dengan lampu yang berkelap-kelip setiap malam. Beginikah merdeka itu?

Sangat sulit mendefinisikan betapa berharganya kalimat merdeka yang terlontar dari mulut anak bangsa ketika upacara 17-an berlangsung di sekolah-sekolah. Indonesia sejak dikumandangkannya Proklamasi telah resmi menjadi negara yang berdaulat dan bebas menentukan arah dan tujuannya, namun Indonesia masih belum bisa mandiri mengurus keperluannya, kekuatan asing begitu kental dalam menentukan nasib bangsa, hingga undang-undang pun bisa didikte oleh kehendak asing. Inikah Indonesia yang merdeka? Tidak! Ini adalah Indonesia yang masih terjajah bukan karena kekuatan fisik dan militer, namun oleh kontrol yang menjadikan Indonesia kehilangan kedaulatannya secara ekonomi, hukum, sosial dan politik. Terasalah apa yang pernah dikatakan Bung Karno: “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar